Kritik dengan Batin yang Remuk

Kolom Resonansi: Kritik dengan Batin yang Remuk

Selasa, 17 November 2015 | 06:00 WIB
Professor Ahmad Syafii Maarif

Jangan dikira kritik yang dulu sering muncul di ruang ini atas mentalitas Arab kontemporer yang hobinya berpecah, saya lakukan dengan perasaan senang dan lega. Jauh dari itu. Batin saya remuk mengamati dunia Arab yang berdarah-darah.

Rakyat Palestina yang belum juga merdeka setelah menderita hampir 70 tahun dan masih saja menjadi bulan-bulanan Zionis Israel yang didukung Amerika Serikat, toh antara Hamas dan Fatah belum juga akur dengan sepenuh hati. Sudah miskin, pertengkaran terus saja berlanjut. Untunglah mata dunia sudah semakin terbuka: Palestina harus merdeka segera.

Tidak sekali saya mengutip di ruang ini pendapat pemusik Gilad Atzmon-baru saja datang ke Indonesia atas undangan Dwiki Darmawan-bahwa Zionisme tidak mungkin menjadi bagian dari kemanusiaan karena wataknya yang rasialis dan congkak.

Negara kecil Israel yang telah melumpuhkan bangsa-bangsa Arab yang melingkarinya adalah fakta telanjang betapa rapuhnya mereka, tetapi tetap saja belum juga sadar. Bahkan, Arab Saudi karena sama merebut hegemoni dengan Iran di kawasan panas itu dikabarkan malah main mata dengan Israel. Alangkah hinanya, alangkah amoralnya.

Persis seperti yang dilakukan Iran di era Shah Reza Pahlevi (berkuasa 1941-1979) dulu yang sekaligus menjadi antek Amerika sampai gerakan Khomeini meruntuhkan rezim antirakyat itu. Akan halnya Iran sekarang, demi membela al-Assad yang dilawan rakyatnya sendiri enak saja bekerja sama dengan Rusia yang tidak kurang liciknya dibandingkan Amerika.

Selanjutnya, serangan gencar pasukan Saudi atas Yaman untuk memburu pemberontak al-Houthi adalah bukti lain betapa suasana persaudaraan sesama Arab ini sudah sirna, amat sulit dipertautkan kembali. Lalu Islam di mana? Islam sudah menghilang, entah ke mana. Yang mengemuka adalah label Suni, label Syiah, atau label apa lagi untuk sama membinasakan perumahan persaudaraan sesama Muslim.

Batin siapa yang tidak akan remuk membaca fenomena yang hitam dan ganas ini? Tetapi tuan dan puan jangan salah tafsir, Islam masih ada ketika shalat, naik haji, puasa, zakat dalam arti yang terbatas. Di luar itu, jika sudah menyentuh kepentingan politik kekuasaan, Islam tidak berdaya. Apakah ada bentuk krisis yang lebih dalam di dunia Arab melebihi drama yang kini menjadi tontonan manusia sejagat ditinjau dari sisi iman?

Akar drama Arab ini menjalar sampai ratusan tahun yang silam, semuanya selalu berkaitan dengan ranah kekuasaan. Perang Shiffin (657) yang meledak di selatan Sungai Furat adalah fitnah (bencana) yang paling bertanggung jawab mengapa dunia Arab, dan bahkan dunia Islam, tidak pernah akur sampai hari ini.

Ironisnya, perbelahan politik yang kotor ini oleh pihak-pihak yang terlibat sama-sama dicarikan alasan teologisnya masing-masing: pakai dalil Alquran dan sunah. Bau buruknya juga tercium di Indonesia. Klaim-klaim merasa paling benar adalah senjata ampuh untuk saling menghujat dan saling meniadakan.

Amat sedikit Muslim yang benar-benar sadar bahwa kejatuhan dunia Islam yang parah ini dapat dicari penyebab utamanya sebagai ekor dari Perang Shiffin yang tidak lain adalah perebutan kekuasaan sesama Arab Quraisy. Bukankah ‘Ali dan Mu’awiyah secara geneologis adalah Quraisy belaka?

Mengapa kita tidak bersedia keluar secara berani dari kotak-kotak Quraisy yang mewariskan perpecahan yang tak habis-habisnya itu? Nabi Muhammad SAW memang Quraisy juga, tetapi Quraisy yang dipimpin wahyu, Quraisy yang bertugas menyampaikan rahmat bagi alam semesta. Semestinya, Alquran dan Muhammad SAW sajalah yang sah dijadikan imam dan panutan, bukan yang lain.

Ajaibnya, komunitas Muslim non-Arab di berbagai belahan bumi turut pula menari mengikuti tabuhan genderang Perang Shiffin yang sepenuhnya bercorak Arab itu. Bagi saya, semuanya ini adalah perbuatan pandir karena kita tidak cukup jujur dan cerdas untuk memisahkan, seolah-olah yang bersifat serba Arab itu adalah kebenaran yang perlu diwarisi.

Semestinya, dengan kejatuhan peradaban Arab yang meremukkan batin ini, mengapa kita tetap saja berkiblat kepadanya dalam memahami Islam? Terus terang saya lama memberontak terhadap sikap yang buta sejarah ini.

Akhirnya, sekalipun kita merintih melihat kehancuran Irak, Suriah, Yaman, Libya, bahkan Mesir, memperpanjang tangis tidak ada gunanya, sia-sia belaka. Sikap yang benar adalah agar ayat Alquran tentang persaudaraan umat dibawa turun ke bumi kenyataan kembali, tidak hanya dibiarkan mengalun dalam suara para qari dan qariah saat bertanding membaca kitab suci ini. Semoga kita cepat sadar, matahari kehidupan sudah bergerak semakin tinggi!

sumber:
http://m.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/15/11/16/nxwwj7319-kritik-dengan-batin-yang-remuk


Tambahan:
Orang yang berpandangan tajam, akan bisa melihat bahwa akar permasalahan isu Sunni Syiah memang berada pada peperangan Shiffin. Ketika khalifah yang sah diperangi, muncullah kelompok yang secara fanatik membela ahlul bait, dan kelompok yang secara tidak sadar sudah diarahkan untuk membenci ahlul bait. Di abad 20 Masehi sebagiannya terbukti, di jazirah Arab muncul satu kerajaan yang mengusir ahlul bait nabi dari kursi kehormatan di tanah Haromain, dan mereka mewarisi ideologi salah satu kelompok tsb.

Belumkah kita sadar bahwa teologi permusuhan ini dimulai dari persaingan politik masa lalu?
Masihkah kita akan terus membenci?

MUI: Syiah Rafidhah masih muslim dan bukan kafir

Sekarang ada kelompok yang kemana-mana sibuk mengatakan bahwa syiah itu bukan islam. Akibatnya, umat islam saling menyerang satu sama lain. 😦

Pemahaman radikal seperti ini harus dibendung, dan kalau perlu harus dipersempit gerakannya.

MUI kita juga sudah mengeluarkan buku panduan tentang syiah. Disitu disebutkan bahwa syiah terbagi tiga. Yang pertama adalah kafir, yang kedua adalah sesat (tapi tidak kafir dan masih dianggap islam) dan yang satu lagi bahkan masih bisa diterima oleh mayoritas ulama.

Syiah yang menuhankan Ali dan menabikan Ali, itulah Syiah yang kafir. Mereka bukan Islam.

Syiah yang tidak menuhankan Ali dan tidak menabikan Ali, tapi mereka melaknat para sahabat nabi, inilah Syiah Rafidhah, dan mungkin inilah syiahnya Iran saat ini. Para ulama kita menghukumi syiah ini dengan status sesat tapi bukan kafir. Mereka masih dianggap sebagai muslim, sebagai saudara kita, tapi mereka harus kita luruskan dengan jalan yang baik, bukan dengan jalan peperangan.

Adapun syiah ketiga adalah Syiah Zaidiyah yang tidak menuhankan Ali, tidak menabikan Ali, tidak melaknat para sahabat nabi, tapi mereka berpendapat bahwa Ali lebih utama dari yang lain. Syiah ini, masih bisa diterima oleh mayoritas ulama kita.

Kembali pada Syiah nomor dua atau Syiah Rafidhah di atas, MUI kita menghukumi mereka sebagai sesat tapi tidak kafir, dan mereka masih dianggap sebagai muslim.

Hati-hati dengan kelompok yang kemana-mana sibuk mengatakan bahwa Syiah itu bukan islam, atau Syiah itu kafir dan lainnya. Mereka menuduh syiah secara umum, dengan maksud untuk mengkafirkan Syiah Rafidhah. Hati-hati dengan dengan kelompok seperti ini, karena pendapat mereka adalah pendapat radikal yang bisa memecah belah ummat islam, dan bisa membuat Indonesia menjadi seperti Suriah atau lainnnya.

Silakan lihat buku MUI di bawah. Di situ jelas terlihat MUI kita menjelaskan bahwa Syiah Rafidhah itu sesat, tapi mereka tidak kafir dan mereka masih dianggap sebagai muslim.

Tolong share tulisan ini, agar penjelasan MUI kita ini bisa tersebar di kalangan ummat Islam Indonesia, dan agar kita terhindar dari perang saudara di antara kita sendiri.

Saat men-share tulisan ini, kalau ada yang mengatakan “Anda Syiah” atau “Anda pembela syiah”, maka sadarilah bahwa orang-orang itulah yang sudah termakan slogan-slogan radikal yang bisa memecah belah ummat islam di Indonesia ini.

Katakan saja pada mereka, bahwa MUI kita juga berpendapat seperti itu, dan MUI kita bukan Syiah,  juga bukan pembela Syiah.

Untuk kita sendiri, mari kita cukupkan diri kita untuk mengikuti petunjuk dari MUI kita, dan bukan malah mengikuti pemahaman-pemahaman radikal yang berpotensi memecah belah ummat Islam Indonesia, dan bertentangan dengan apa yang telah dijelaskan oleh MUI kita.

Buku MUI bisa dilihat di bawah.

Tolong share tulisan ini.

image

image

image

MUI: Syiah terbagi tiga

MUI kita menjelaskan bahwa syiah itu terbagi menjadi tiga kelompok, dan dari tiga kelompok itu hanya ada satu kelompok yang disebut sebagai kafir, yaitu Syiah Ghulat. Kelompok kedua adalah Syiah Rafidhah yang sesat tapi masih dianggap sebagai bagian dari Islam. Adapun kelompok ketiga adalah Syiah Zaidiyah yang bahkan masih bisa diterima oleh mayoritas ulama Ahlu Sunnah.

MUI kita tidak memukul rata dan juga tidak  mengatakan bahwa “Syiah itu bukan Islam” atau “Syiah itu kafir”.

Ini buktinya.

image

image

image

Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama dalam Perang Pahlawan 10 Nov 1945

image

image

Banyak yang tidak tahu, salah satu trigger utama pecahnya Perang Pahlawan pada tanggal 10 Nov 1945 adalah karena adanya Resolusi Jihad dari Nahdlatul Ulama yang dipelopori oleh KH. Hasyim Asy’ari.

Berikut ini adalah isi dari Resolusi Jihad NU sebagaimana pernah dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, edisi No. 26 tahun ke-I, Jumat Legi, 26 Oktober 1945. Salinannya di sini dengan menyesuaikan ejaan:

Bismillahirrahmanirrahim

Resolusi Rapat besar wakil-wakil daerah (Konsul-konsul) Perhimpunan Nahdlatul Ulama seluruh Jawa-Madura pada tanggal 21-22 Oktober 1945 di Surabaya:

Mendengar:

Bahwa di tiap-tiap daerah di seluruh Jawa-Madura ternyata betapa besarnya hasrat ummat Islam dan Alim ulama di tempatnya masing-masing untuk mempertahankan dan menegakkan AGAMA, KEDAULATAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA MERDEKA.

Menimbang:

a. Bahwa untuk mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia menurut hukum AGAMA ISLAM, termasuk sebagai suatu kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam

b. Bahwa di Indonesia ini warga Negaranya adalah sebagian besar terdiri dari Ummat Islam.

Mengingat:

a. Bahwa oleh pihak Belanda (NICA) dan Jepang yang datang dan berada di sini telah banyak sekali dijalankan banyak kejahatan dan kekejaman yang mengganggu ketenteraman umum.

b. Bahwa semua yang dilakukan oleh semua mereka itu dengan maksud melanggar Kedaulatan Republik Indonesia dan Agama, dan ingin kembali menjajah di sini, maka di beberapa tempat telah terjadi pertempuran yang mengorbankan beberapa banyak jiwa manusia.

c. Bahwa pertempuran-pertempuran itu sebagian besar telah dilakukan ummat Islam yang merasa wajib menurut hukum agamanya untuk mempertahankan Kemerdekaan Negara dan Agamanya. d. Bahwa di dalam menghadapi sekalian kejadian-kejadian itu belum mendapat perintah dan tuntutan yang nyata dari Pemerintah Republik Indonesia yang sesuai dengan kejadian-kejadian tersebut.

Memutuskan:

1. Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap usaha-usaha yang akan membahayakan kemerdekaan Agama dan Negara Indonesia, terutama terhadap fihak Belanda dan kaki tangan.

2. Supaya memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat “sabilillah” untuk tegaknya Negara Republik Indonesia Merdeka dan Agama Islam.


Seruan ini memiliki pengaruh yang besar dalam menggalang umat Islam khususnya untuk berjuang mengangkat senjata melawan kehadiran Belanda setelah diproklamirkannya kemerdekaan. Pesantren-pesantren dan kantor-kantor NU tingkat Cabang dan Ranting segera menjadi markas Hizbullah yang menghimpun terutama pemuda-pemuda santri yang ingin berjuang dengan semangat yang tinggi meski dengan keahlian dan fasilitas persenjataan yang sangat terbatas.

Seruan ini juga diyakini memiliki sumbangan besar atas pecahnya Peristiwa 10 November 1945 yang terkenal dan kemudian diabadikan sebagai Hari Pahlawan. Soetomo atau terkenal dengan panggilan Bung Tomo, pimpinan laskar BPRI dan Radio Pemberontakan, yang sering disebut sebagai penyulut utama peristiwa 10 November diketahui memiliki hubungan yang dekat dengan kalangan Islam.

Jauh sebelum peristiwa itu, ia diketahui telah berkawan baik dengan Wahid Hasyim, tokoh muda NU yang penting saat itu. Karena faktor Wahid Hasyim pula ia terpilih sebagai satu-satunya pemuda dari Surabaya yang menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru pada Juli 1945 yang menggantikan Hokokai peninggalan Jepang.

Di luar itu, juga umum diketahui bahwa saat itu Bung Tomo kerap bertandang ke Pesantren Tebu Ireng, Jombang, untuk menemui dan meminta restu Hadratussyeikh KH Hasyim Asy‟ari. Seruan “Allahu Akbar” di pembuka dan penutup orasinya yang sangat membakar melalui Radio Pemberontakan yang dipimpinnya adalah upayanya untuk merekrut kalangan pemuda Muslim di satu sisi dan bukti kedekatan hubungannya dengan kalangan Islam.

Tidak terbatas pada Peristiwa 10 November 1945, seruan ini berdampak panjang pada masa berikutnya. Perjuangan kemerdekaan yang melibatkan massa rakyat yang berlangsung hampir empat tahun sesudah itu di berbagai tempat di Jawa khususnya hingga pengakuan kedaulatan oleh Belanda pada 1949 juga banyak didorong oleh semangat jihad yang diserukan melalui resolusi ini.

Pesan dan isi Resolusi Jihad ini jelas dan tegas. Tetapi dalam interpretasinya, terutama melalui penyebarannya secara lisan, kadang-kadang memperoleh tekanan yang lebih keras dan luas seperti bahwa kewajiban (fardhu ‘ain) bagi setiap muslim yang berada pada jarak radius 94 km untuk turut berjuang. Sedangkan yang berada di luar jarak itu berkewajiban untuk membantu saudara-saudara mereka yang berada dalam jarak radius tersebut.

Jalur “aksi perjuangan” melalui Resolusi Jihad memang harus berhadapan dengan “jalur diplomasi” yang dipilih beberapa pemimpin nasional saat itu. Bagaimanapun ini adalah suatu tanggapan yang cepat, tepat, dan tegas dari NU atas krisis kepercayaan dan kewibawaan sebagai bangsa yang baru menyatakan kemerdekaannya. Pada akhirnya, Resolusi Jihad tak lain merupakan bukti historis komitmen NU untuk membela dan mempertahankan Tanah Air.

Sumber : NU ONLINE
http://m.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,7-id,40394-lang,id-c,fragmen-t,Resolusi+Jihad-.phpx

Kupas Tuntas Bid’ah: (7) Kata ‘kullu’ dalam hadits tentang Bid’ah

Ada yang berkata, dalam hadits “kullu bid’atin dholaalah”, kata ‘kullu’ di situ artinya adalah ‘semua’. Jadi, kalimat itu artinya “semua bid’ah itu sesat”, dan tidak ada perkecualiannya sedikitpun juga. Artinya, tidak ada bid’ah hasanah (bid’ah yang baik), yang ada hanyalah bid’ah dholaalah (bid’ah yang sesat) karena semua bid’ah itu sesat, tanpa perkecualian sama sekali.

Ini pemahaman yang baik. Akan tetapi konsekwensinya adalah, satu kalimat sebelumnya berbunyi “kullu muhdatsaatin bid’ah”. Kalau kata ‘kullu’ berarti ‘semua’ tanpa pengecualian sedikitpun juga, maka kalimat ini artinya adalah “semua hal baru itu bid’ah”, tanpa pengecualian juga. Artinya, mobil, handphone, Facebook dan Whatsapp juga bid’ah, sesat dan akan membawa kita ke neraka. Karena kata ‘kullu’ dimaknai dengan ‘semua’ tanpa pengecualian sedikitpun juga.

Sampai di sini lalu ada yang berkomentar, pembatasannya ada pada kata ‘muhdats’ (hal baru) itu. Maksudnya, kata ‘kullu’ memang bermakna ‘semua’, akan tetapi kata ‘muhdats’ (hal baru) dalam kalimat “kullu muhdatsaatin bid’ah” itu sebenarnya hanya mencakup hal-hal baru yang berkaitan dengan ibadah saja. Hal-hal inilah yang nanti akan disebut dengan nama bid’ah. Artinya, ada “muhdats ibadah” dan ada “muhdats non-ibadah”, dan yang dimaksud sebagai bid’ah dalam hadits itu adalah “muhdats ibadah” saja.

Pemahaman ini juga menarik, karena kalau kata ‘muhdats’ boleh dipilah-pilah menjadi “muhdats ibadah” dan “muhdats non-ibadah”, maka berarti kata bid’ah juga boleh dipilah-pilah, misalnya menjadi “bid’ah hasanah” dan “bid’ah dholaalah”, dan yang disesatkan dalam hadits itu adalah “bid’ah dholaalah” saja.

Kalau yang satu boleh dipilah-pilah, maka seharusnya yang lain juga boleh.

#mari belajar memahami
#tidak hanya mengikuti.

Kisah Toleransi KH Idham Chalid dan Buya Hamka Dalam Qunut Subuh

Ada sebuah kisah yang patut kita teladani sebagai umat Islam dalam menjaga ukhuwah. Kisah yang terjadi antara pemimpin Nahdlatul Ulama, KH Idham Cholid, dan pemimpin Muhammadiyah, Buya Hamka, yang ketika itu sedang melakukkan perjalanan ke tanah suci. Saat sedang dalam perjalanan menuju tanah suci di dalam sebuah kapal laut, waktu melakukan sholat subuh berjamaah, para pengikut Nadhlatul Ulama heran saat KH Idham Cholid yang mempunyai kebiasaan menggunakan doa qunut dalam kesehariannya, malah tidak memakai doa qunut tatkala Buya hamka dan sebagian pengikut Muhammadiyah menjadi makmumnya.

Demikian pula sebaliknya, tatkala Buya Hamka mengimami shalat subuh, para pengikut Muhammadiyah merasa heran ketika Buya Hamka membaca doa qunut karena KH Idham Cholid dan sebagian pengikut NU menjadi makmumnya.

KH Idham Cholid adalah tokoh pemimpin NU yang mempunyai kebiasaan membaca doa qunut dalam shalat shubuh. Namun, saat ditunjuk menjadi imam shalat subuh, beliau tidak membacanya demi menghormati sahabatnya Buya Hamka dan para pengikutnya. Padahal, dalam tradisi NU membaca doa qunut dalam shalat subuh adalah sunah muakkad. Sungguh ini adalah tindakan yang begitu arif dan bijak. Begitu pun sifat kearifan ditunjukan oleh pemimpin Muhammadiyah, Buya Hamka, yang kesehariannya tidak membaca doa qunut justru membaca doa qunut saat mengimami shalat subuh dengan alasan yang sama. Mereka malah berpelukan mesra setelah shalat, saling menghormati, dan saling berkasih sayang.

Inilah para pemimpin yang sebenarnya yang begitu dalam dan luas keilmuan dan wawasannya. Meskipun terdapat perbedaan pendapat tetapi tetap bersatu dalam persaudaraan. Mereka lebih mengedapankan ukhuwah Islamiyyah ketimbang masalah khilafiah yang tidak akan ada ujungnya. Mereka tidak mengenal istilah saling mencela, mengejek, atau saling menuduh sesama muslim yang berbeda pandangan yang justru akan menimbulkan suatu fitnah.

Namun, sayangnya banyak dari orang-orang yang mengaku menjadi pengikut pemimpin mereka malah tidak bisa mencontoh sifat kebesaran jiwa yang ditunjukan para pemimpinnya. Banyak diantara mereka saling meributkan, menyibukan diri dengan mencari-cari perbedaan, dan menyalahkan satu sama lain yang berbeda pendapat dan tidak jarang saling mengejek dan menghina bahkan sampai menyesatkan sesama muslim yang berseberangan dengannya. Mereka tidak sadar bahwa tindakan yang dilakukannya hanya memecah belah umat dan sungguh ini adalah perbuatan yang lebih hina di mata Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Ini adalah fakta dan memang benar adanya. Contoh yang paling nyata adalah menjamurnya tulisan-tulisan di berbagai media khususnya media online seperti blog atau website yang memaparkan pendapat-pendapat yang dianggap paling benar sendiri dan menyalahkan orang lain sesama muslim yang berbeda pendapat dengannya. Apa yang mereka utarakan sebenarnya hanyalah foto copy alias copy paste dan taqlid dari orang lain, bukan lahir dari keluasan ilmu, kefaqihan dan kealiman, apalagi dari kerendahan hatinya. Tapi sayangnya, sikap dan perilaku mereka, seolah mufti tertinggi. Tidak seperti para Imam Ahlus Sunnah yang sangat bijak dalam menyikapi khilafiyah khususnya dalam keragaman amal syariat.

Kenyataan ini memang sangat berbeda dengan sebagian manusia yang sangat ingin mengikuti mereka para imam Ahlus Sunah, tetapi tidak mampu meneladani akhlak para imamnya. Mencela dan mensesat-sesatkan sesama muslim menjadi pekerjaan tetap sebagian orang tersebut, cuma karena perbedaan furu’. Lucunya lagi adalah mereka yang mencela dan mensesat-sesatkan bukan ulama, hanyalah thalibul ilmi (penuntut ilmu) yang baru duduk di satu majelis –tanpa mau bermajelis dengan yang lain- tetapi sayangnya berperilaku seakan ulama besar dan ahli fatwa. Sungguh, mereka baru di tepian pantai, tapi sayangnya berperilaku bagai penjelajah lautan. Mereka baru dipermukaan, tapi sayangnya bertingkah bagai penyelam ulung. Nasihat bagi mereka selalu ditolak, kecuali hanya dari kelompoknya saja. Sungguh, sebenarnya mereka sangat layak dikasihani. Mereka tidak tahu bahwa kesalahan ijtihad tetap dihargai satu pahala oleh syariat, tetapi justru mereka menghargainya dengan tuduhan ‘sesat’, dan ‘bid’ah.’ Mereka menampilkan Islam dengan wajah yang keras, padahal itu adalah pengaruh dari kepribadian mereka sendiri, bukan Islam.

Cobalah saudaraku, berpikiran jernih dan dewasa, elegan dan bijak, dalam menghadapi khilafiyah fiqhiyah. Contohlah sikap para imam yang anda pegang, betapa kebesaran hati mereka mampu menjaga ukhuwah yang terjalin. Sikap seperti inilah yang seharusnya kita terapkan dalam menyikapi perbedaan diantara sesama kita sebagai umat Islam. Para imam adalah pemandu kita, kalau bukan mengikuti mereka, siapa lagi yang kita ikuti. Emosi dan hawa nafsu serta syetan laknatulloh?

Wallahu a’lam bishshawab

sumber:
http://www.sangpencerah.com/2014/04/kisah-toleransi-kh-idham-chalid-dan.html?m=1