Dialog Panjang antara Syeikh Ramadhan al Buthi & Syeikh Al-Albani

Sebuah nasihat utk kita semua utk tdk cepat menghakimi yg mengikuti mazhab lain di antara Imam Mazhab yg Sunni :

Dialog Panjang antara Syeikh Ramadhan al Buthi & Syeikh Al-Albani

Sabtu 11 Jamadilawal 1434 / 23 Maret 2013 13:23

ADA sebuah perdebatan yang menarik tentang ijtihad dan taqlid, antara Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, seorang ulama Ahlussunnah wal Jama’ah di Syria, bersama Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, seorang tokoh Ulama dari Yordania.

Syaikh al-Buthi bertanya: “Bagaimana cara Anda memahami hukum-hukum Allah, apakah Anda mengambilnya secara langsung dari al-Qur’an dan Sunnah, atau melalui hasil ijtihad para imam-imam mujtahid?”

Al-Albani menjawab: “Aku membandingkan antara pendapat semua imam mujtahid serta dalil-dalil mereka lalu aku ambil yang paling dekat terhadap al-Qur’an dan Sunnah.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Seandainya Anda punya uang 5000 Lira. Uang itu Anda simpan selama enam bulan. Kemudian uang itu Anda belikan barang untuk diperdagangkan, maka sejak kapan barang itu Anda keluarkan zakatnya. Apakah setelah enam bulan berikutnya, atau menunggu setahun lagi?”

Al-Albani menjawab: “Maksud pertanyaannya, kamu menetapkan bahwa harta dagang itu ada zakatnya?”

Syaikh al-Buthi berkata: “Saya hanya bertanya. Yang saya inginkan, Anda menjawab dengan cara Anda sendiri. Di sini kami sediakan kitab-kitab tafsir, hadits dan fiqih, silahkan Anda telaah.”

Al-Albani menjawab: “Hai saudaraku, ini masalah agama. Bukan persoalan mudah yang bisa dijawab dengan seenaknya. Kami masih perlu mengkaji dan meneliti. Kami datang ke sini untuk membahas masalah lain”.

Mendengar jawaban tersebut, Syaikh al-Buthi beralih pada pertanyaan lain: “Baik kalau memang begitu. Sekarang saya bertanya, apakah setiap Muslim harus atau wajib membandingkan dan meneliti dalil-dalil para imam mujtahid, kemudian mengambil pendapat yang paling sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah?”

Al-Albani menjawab: “Ya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Maksud jawaban Anda, semua orang memiliki kemampuan berijtihad seperti yang dimiliki oleh para imam madzhab? Bahkan kemampuan semua orang lebih sempurna dan melebihi kemampuan ijtihad para imam madzhab. Karena secara logika, seseorang yang mampu menghakimi pendapat-pendapat para imam madzhab dengan barometer al-Qur’an dan Sunnah, jelas ia lebih alim dari mereka.”

Al-Albani menjawab: “Sebenarnya manusia itu terbagi menjadi tiga, yaitu muqallid (orang yang taklid), muttabi’ (orang yang mengikuti) dan mujtahid. Orang yang mampu membandingkan madzhab-madzhab yang ada dan memilih yang lebih dekat pada al-Qur’an adalah muttabi’. Jadi muttabi’ itu derajat tengah, antara taklid dan ijtihad.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apa kewajiban muqallid?”

Al-Albani menjawab: “Ia wajib mengikuti para mujtahid yang bisa diikutinya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apakah ia berdosa kalau seumpama mengikuti seorang mujtahid saja dan tidak pernah berpindah ke mujtahid lain?”

Al-Albani menjawab: “Ya, ia berdosa dan haram hukumnya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apa dalil yang mengharamkannya?”

Al-Albani menjawab: “Dalilnya, ia mewajibkan pada dirinya, sesuatu yang tidak diwajibkan Allah padanya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Dalam membaca al-Qur’an, Anda mengikuti qira’ahnya siapa di antara qira’ah yang tujuh?”

Al-Albani menjawab: “Qira’ah Hafsh.”

Al-Buthi bertanya: “Apakah Anda hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja? Atau setiap hari, Anda mengikuti qira’ah yang berbeda-beda?”

Al-Albani menjawab: “Tidak. Saya hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Mengapa Anda hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja, padahal Allah subhanahu wata’ala tidak mewajibkan Anda mengikuti qira’ah Hafsh. Kewajiban Anda justru membaca al-Qur’an sesuai riwayat yang dating dari Nabi Saw. secara mutawatir.”

Al-Albani menjawab: “Saya tidak sempat mempelajari qira’ah-qira’ah yang lain. Saya kesulitan membaca al-Qur’an dengan selain qira’ah Hafsh.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Orang yang mempelajari fiqih madzhab asy-Syafi’i, juga tidak sempat mempelajari madzhab-madzhab yang lain. Ia juga tidak mudah memahami hukum-hukum agamanya kecuali mempelajari fiqihnya Imam asy-Syafi’i. Apabila Anda mengharuskannya mengetahui semua ijtihad para imam, maka Anda sendiri harus pula mempelajari semua qira’ah, sehingga Anda membaca al-Qur’an dengan semua qira’ah itu. Kalau Anda beralasan tidak mampu melakukannya, maka Anda harus menerima alasan ketidakmampuan muqallid dalam masalah ini. Bagaimanapun, kami sekarang bertanya kepada Anda, dari mana Anda berpendapat bahwa seorang muqallid harus berpindah-pindah dari satu madzhab ke madzhab lain, padahal Allah tidak mewajibkannya. Maksudnya sebagaimana ia tidak wajib menetap pada satu madzhab saja, ia juga tidak wajib berpindah-pindah terus dari satu madzhab ke madzhab lain?”

Al-Albani menjawab: “Sebenarnya yang diharamkan bagi muqallid itu menetapi satu madzhab dengan keyakinan bahwa Allah memerintahkan demikian.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Jawaban Anda ini persoalan lain. Dan memang benar demikian. Akan tetapi, pertanyaan saya, apakah seorang muqallid itu berdosa jika menetapi satu mujtahid saja, padahal ia tahu bahwa Allah tidak mewajibkan demikian?”

Al-Albani menjawab: “Tidak berdosa.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Tetapi isi buku yang Anda ajarkan, berbeda dengan yang Anda katakan. Dalam buku tersebut disebutkan, menetapi satu madzhab saja itu hukumnya haram. Bahkan dalam bagian lain buku tersebut, orang yang menetapi satu madzhab saja itu dihukumi kafir.”

Menjawab pertanyaan tersebut, al-Albani kebingungan menjawabnya.

Demikianlah dialog panjang antara Syaikh al-Buthi dengan al-Albani, yang didokumentasikan dalam kitab beliau al-Lamadzhabiyyah Akhthar Bid’ah Tuhaddid asy-Syari’at al-Islamiyyah. Tentu saja mengikuti madzhab para ulama salaf, lebih menenteramkan bagi kaum Muslimin. Keilmuan, ketulusan dan keshalehan ulama salaf jelas diyakini melebihi orang-orang sesudah mereka. [pustakamuhibbin]

Advertisements

Haramkah kerja di bank konvensional?

Kalau pertanyaan ini disampaikan pada orang yang strict, maka jawabannya sudah pasti: Haram! Padahal yang difatwakan haram oleh MUI adalah bunga bank, bukan bekerja di bank itu sendiri. Sama seperti fatwa haram khamr, yang haram adalah khamr, bukan alkohol. Yang tidak bisa membedakan antara khamr dan alkohol, maka bisa jadi akan mengasosiasikan fatwa haram bunga bank dengan haramnya kerja di bank. Pokoknya pukul rata, beres.

Padahal, kalau profesi yang berkaitan dengan bunga bank harus dihukumi sebagai haram, maka seharusnya profesi accounting dan finance di semua perusahaan juga haram. Karena dua profesi ini juga sibuk berkaitan dengan bunga bank. Demikian juga dengan direktur perusahaan, banyak pekerjaannya yang berkaitan dengan bunga-bunga bank. Mengapa profesi-profesi ini tidak diharamkan juga?

Daripada memukul rata dan membabi buta seperti itu, mari sebaiknya kita lihat secara lebih teliti, agar kita bisa belajar memahami apa yang ada di depan mata kita.

Bunga bank, sudah difatwakan sebagai riba yang haram. Dan riba ini biasanya adanya di bank. Maka profesi-profesi yang ada di bank, sudah pasti berdekatan dengan riba ini. Akan tetapi, sebatas mana yang dibolehkan? Dan sebatas mana yang tidak dibolehkan? Apakah seluruh pekerjaan di bank menjadi haram hanya karena bunga bank ini?

Bagi yang mengharamkan, tidak perlu ditanya. Bagi mereka, bank itu mungkin seperti pelacuran. Maka, menjadi satpam di bank juga hukumnya haram, karena dianggap sama dengan menjadi satpam di lokalisasi pelacuran.

Tapi bagi yang mau bersikap adil dalam menilai, mari kita lihat bagaimana respon ummat islam dalam menyikapi pelacuran dan perbankan. Dalam pelacuran, respon terbaik adalah dengan menutup lokasi pelacuran itu. Sedangkan dalam perbankan, respon terbaik bukan dengan cara menutup bank itu, tapi menggantinya dengan bank syariah.
Ini bedanya antara pelacuran dan perbankan.
Pelacuran bisa ditutup institusinya, sedangkan perbankan tidak bisa ditutup institusinya, dan hanya bisa digantikan dengan mirip dengan itu, yaitu perbankan syariah.
Buktinya, sampai saat ini, tidak ada toh lokalisasi WTS syariah. 🙂
Itu karena pelacuran bisa ditutup institusinya.

Untuk kasus bank, kita semua butuh institusi bank, dan ini tidak bisa dipungkiri lagi. Maka solusinya adalah dengan cara migrasi ke sistem syariah, bukan dengan cara menutup bank itu sendiri.
Dari sini saja sudah kelihatan bahwa perbankan dan pelacuran itu beda.

Lalu, bagaimana? Dengan sudah adanya sistem syariah khan berarti bekerja di bank konvensional menjadi haram?
Siapa yang bilang begitu?
MUI kita tidak pernah mengeluarkan fatwa bahwa bekerja di bank konvensional itu haram. Itu harus ditekankan.

MUI kita baru mengeluarkan fatwa tentang haramnya bunga bank. Di balik itu, mungkin MUI kita ingin mendorong agar masyarakat kita bisa switch ke bank syariah, sambil sementara waktu tetap boleh menggunakan bank konvensional.

Lho? bukannya sudah ada bank syariah itu berarti sudah ada alternatif yang cukup untuk menggantikan bank konvensional?
Teori-nya, ya.
Prakteknya, belum.

Kenyataannya, market share bank syariah kita masih stuck di angka 4% saja. Itu artinya, 96% uang kita masih beredar di bank-bank konvensional. Dengan kondisi seperti ini, kalau ummat islam dilarang kerja di bank konvensional, dan di saat yang bersamaan bank syariah masih stuck di angka 4%, lantas nanti siapa yang akan mengelola uang-uang kaum muslimin yang belum bisa pindah ke bank syariah?

Bagi yang ingin selamat sendiri, ya silakan pindah dari bank konvensional, lalu cari profesi lain yang lebih menenangkan hati.

Tapi bagi yang ingin berfikir bagaimana caranya agar uang ummat islam bisa dipindah ke bank syariah, atau bagaimana caranya mengelola uang ummat Islam yang belum bisa dipindah ke bank syariah (yang angkanya masih 96%), maka sebaiknya kita berusaha untuk tetap menempatkan ummat islam di bank-bank konvensional, karena bank syariah masih stuck di angka 4%, dan belum bisa menggantikan bank konvensional.

Ingat, Islam dulu tidak mengharamkan riba secara langsung. Islam mengharamkannya step-by-step, dan baru resmi haram ketika alternatifnya sudah siap.
Dan alternatif kita saat ini, yaitu bank syariah, masih stuck di angka 4%. Dan ini adalah fakta yang hanya bisa difahami oleh orang-orang yang mau berfikir.
Itu artinya, kita belum punya alternatif yang cukup kuat untuk mengganti sistem konvensional menjadi sistem syariah. Dan itu artinya, belum waktunya kita mengeluarkan fatwa haram bekerja di bank konvensional.

Lagipula, MUI juga belum mengeluarkan fatwa seperti itu khan …. MUI jelas berfikir jauh ke depan, tidak seperti kita yang mungkin malah grasa-grusu pingin cari selamat sendiri.

Bagi yang pingin cari selamat sendiri, ya silakan pindah dari bank konvensional.
Tapi bagi  yang ingin melihat dengan lebih detil, maka sesungguhnya belum ada fatwa haram untuk bekerja di bank konvensional. Mungkin alasannya adalah, karena bank syariah belum cukup kuat untuk menggantikan bank konvensional. Dan dulu, para shahabat nabi juga tidak berani mengatakan khamar itu haram manakala ayatnya baru menyebutkan “jauhilah”, dan belum jelas-jelas mengatakan haram.

Yang lebih penting dari itu semua, kita butuh orang yang mau memikirkan bagaimana caranya agar asset ummat islam yang masih terkurung di bank konvensional ini bisa diselamatkan. Dan itu artinya, kita masih butuh orang-orang islam untuk tetap berada di dalam bank konvensional, sampai ketika bank syariah benar-benar mampu menjadi alternatif yang kuat untuk menggantikan bank konvensional.

Buka mata lebar-lebar, buka wawasan lebar-lebar, jangan sembarangan memukul rata atau menggeneralisir, karena itu bisa jadi satu pertanda bahwa kita tidak mampu memilah-milah apa yang ada di depan mata kita.
Pilihan ada pada diri kita masing-masing, selamat memilih.

wassalam.

Isa Ismet K
#bukanpegawaibank.
#ditulis: 12 Mei 2015

3×7=27

Di Tiongkok pernah ada seorg GURU yg sangat dihormati krn tegas & jujur.

Suatu hari, 2 murid menghdp GURU. Mereka bertengkar hebat & nyaris beradu fisik.

Ke dua nya berdebat ttg hitungan 3×7.
Murid pandai mengatakan 21,
Murid bodoh bersikukuh mengatakan 27.

Murid bodoh menantang murid pandai utk meminta GURU sbg Jurinya utk mengetahui siapa yg benar diantara mereka, sambil si bodoh mengatakan : “Jika sy yg benar 3 x 7 = 27 maka engkau hrs mau di cambuk 10 kali oleh GURU, tapi jika kamu yg benar ( 3×7=21 ) maka sy bersedia utk memenggal kepala sy sendiri ha ha ha …..” demikian si bodoh menantang dgn sangat yakin dgn pendapatnya

“Katakan GURU mana yg benar ?”
tanya murid bodoh…

Ternyata GURU memvonis cambuk 10x bagi murid yg pandai (orang yg menjwb 21).

Si murid pandai protes keras!!

GURU menjwb:
“Hukuman ini bkn utk hasil hitunganmu, TAPI utk KETIDAK ARIFANmu yg mau2nya berdebat dgn org bodoh yg tdk tau kalo 3×7 adalah 21”

Guru melanjutkan : “Lebih baik melihatmu dicambuk & menjadi ARIF, drpd GURU hrs melihat 1 nyawa terbuang sia2!”

Pesan Moral:

Jika kita sibuk mmperdebatkan sesuatu yg tak benar, berarti kita juga sama salahnya atau bahkan lebih salah dari pada orang yg memulai perdebatan, sebab dgn sadar kita membuang waktu & energi utk hal2 yg tdk perlu.

Bukankah kita sering mengalaminya?

Bisa terjadi dgn pasangan hidup, rekan kerja, teman, saudara, tetangga, kolega, dll..

Berdebat atau bertengkar utk hal yg tdk benar, hanya akan menguras energi percuma.

Ada saatnya kita diam utk menghindari perdebatan atau pertengkaran yg sia2.

Diam bukan berarti kalah, bukan?

Memang tdk mudah, tapi janganlah sekali2 berdebat dgn org yg tidak memahami permasalahan, TAPI merasa dirinya SUDAH paling benar… padahal sudah jelas2 SALAH seperti cerita di atas…

“MERUPAKAN SUATU KEARIFAN BAGI KITA, YG BISA MENGKONTROL DIRI & MENGHINDARI KEMARAHAN serta PERTENGKARAN….”           

Semoga bermanfaat…

Jangan menuhankan hadits

Jangan menuhankan hadits. Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya hanyalah Al-Qur’an. Ini keyakinan ahlu sunnah yang benar.
Yang mengatakan bahwa kitab shahih Bukhari dan Muslim itu tidak ada keraguan di dalamnya, memangnya punya kitab suci berapa?

Dalam kitab hadits Bukhari dan juga Muslim, ada juga hadits2 yang dipertanyakan. Dan ini wajar, karena memang kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya hanyalah Al-Qur’an. Lagipula, baik Imam Bukhari maupun Imam Muslim bukanlah nabi yang ma’shum.

Contoh hadits shahih dalam kitab shahih muslim yang ternyata dipertanyakan, ada di bawah. Ini hadits Jaariyah, yang sering digunakan oleh sebagian orang untuk mengklaim bahwa Allah ada di langit.

Imam Syafi’i mengatakan bahwa hadits ini bermasalah, baik sanad maupun matannya.

Silakan lihat screenshot kitab tafsir Imam Syafi’i di bawah.

Keywordnya: hati2 dengan orang yang mengatakan bahwa ada kitab lain yang tidak ada keraguan di dalamnya, selain dari Al-Qur’an.

image