Haramkah kerja di bank konvensional?

Kalau pertanyaan ini disampaikan pada orang yang strict, maka jawabannya sudah pasti: Haram! Padahal yang difatwakan haram oleh MUI adalah bunga bank, bukan bekerja di bank itu sendiri. Sama seperti fatwa haram khamr, yang haram adalah khamr, bukan alkohol. Yang tidak bisa membedakan antara khamr dan alkohol, maka bisa jadi akan mengasosiasikan fatwa haram bunga bank dengan haramnya kerja di bank. Pokoknya pukul rata, beres.

Padahal, kalau profesi yang berkaitan dengan bunga bank harus dihukumi sebagai haram, maka seharusnya profesi accounting dan finance di semua perusahaan juga haram. Karena dua profesi ini juga sibuk berkaitan dengan bunga bank. Demikian juga dengan direktur perusahaan, banyak pekerjaannya yang berkaitan dengan bunga-bunga bank. Mengapa profesi-profesi ini tidak diharamkan juga?

Daripada memukul rata dan membabi buta seperti itu, mari sebaiknya kita lihat secara lebih teliti, agar kita bisa belajar memahami apa yang ada di depan mata kita.

Bunga bank, sudah difatwakan sebagai riba yang haram. Dan riba ini biasanya adanya di bank. Maka profesi-profesi yang ada di bank, sudah pasti berdekatan dengan riba ini. Akan tetapi, sebatas mana yang dibolehkan? Dan sebatas mana yang tidak dibolehkan? Apakah seluruh pekerjaan di bank menjadi haram hanya karena bunga bank ini?

Bagi yang mengharamkan, tidak perlu ditanya. Bagi mereka, bank itu mungkin seperti pelacuran. Maka, menjadi satpam di bank juga hukumnya haram, karena dianggap sama dengan menjadi satpam di lokalisasi pelacuran.

Tapi bagi yang mau bersikap adil dalam menilai, mari kita lihat bagaimana respon ummat islam dalam menyikapi pelacuran dan perbankan. Dalam pelacuran, respon terbaik adalah dengan menutup lokasi pelacuran itu. Sedangkan dalam perbankan, respon terbaik bukan dengan cara menutup bank itu, tapi menggantinya dengan bank syariah.
Ini bedanya antara pelacuran dan perbankan.
Pelacuran bisa ditutup institusinya, sedangkan perbankan tidak bisa ditutup institusinya, dan hanya bisa digantikan dengan mirip dengan itu, yaitu perbankan syariah.
Buktinya, sampai saat ini, tidak ada toh lokalisasi WTS syariah. 🙂
Itu karena pelacuran bisa ditutup institusinya.

Untuk kasus bank, kita semua butuh institusi bank, dan ini tidak bisa dipungkiri lagi. Maka solusinya adalah dengan cara migrasi ke sistem syariah, bukan dengan cara menutup bank itu sendiri.
Dari sini saja sudah kelihatan bahwa perbankan dan pelacuran itu beda.

Lalu, bagaimana? Dengan sudah adanya sistem syariah khan berarti bekerja di bank konvensional menjadi haram?
Siapa yang bilang begitu?
MUI kita tidak pernah mengeluarkan fatwa bahwa bekerja di bank konvensional itu haram. Itu harus ditekankan.

MUI kita baru mengeluarkan fatwa tentang haramnya bunga bank. Di balik itu, mungkin MUI kita ingin mendorong agar masyarakat kita bisa switch ke bank syariah, sambil sementara waktu tetap boleh menggunakan bank konvensional.

Lho? bukannya sudah ada bank syariah itu berarti sudah ada alternatif yang cukup untuk menggantikan bank konvensional?
Teori-nya, ya.
Prakteknya, belum.

Kenyataannya, market share bank syariah kita masih stuck di angka 4% saja. Itu artinya, 96% uang kita masih beredar di bank-bank konvensional. Dengan kondisi seperti ini, kalau ummat islam dilarang kerja di bank konvensional, dan di saat yang bersamaan bank syariah masih stuck di angka 4%, lantas nanti siapa yang akan mengelola uang-uang kaum muslimin yang belum bisa pindah ke bank syariah?

Bagi yang ingin selamat sendiri, ya silakan pindah dari bank konvensional, lalu cari profesi lain yang lebih menenangkan hati.

Tapi bagi yang ingin berfikir bagaimana caranya agar uang ummat islam bisa dipindah ke bank syariah, atau bagaimana caranya mengelola uang ummat Islam yang belum bisa dipindah ke bank syariah (yang angkanya masih 96%), maka sebaiknya kita berusaha untuk tetap menempatkan ummat islam di bank-bank konvensional, karena bank syariah masih stuck di angka 4%, dan belum bisa menggantikan bank konvensional.

Ingat, Islam dulu tidak mengharamkan riba secara langsung. Islam mengharamkannya step-by-step, dan baru resmi haram ketika alternatifnya sudah siap.
Dan alternatif kita saat ini, yaitu bank syariah, masih stuck di angka 4%. Dan ini adalah fakta yang hanya bisa difahami oleh orang-orang yang mau berfikir.
Itu artinya, kita belum punya alternatif yang cukup kuat untuk mengganti sistem konvensional menjadi sistem syariah. Dan itu artinya, belum waktunya kita mengeluarkan fatwa haram bekerja di bank konvensional.

Lagipula, MUI juga belum mengeluarkan fatwa seperti itu khan …. MUI jelas berfikir jauh ke depan, tidak seperti kita yang mungkin malah grasa-grusu pingin cari selamat sendiri.

Bagi yang pingin cari selamat sendiri, ya silakan pindah dari bank konvensional.
Tapi bagi  yang ingin melihat dengan lebih detil, maka sesungguhnya belum ada fatwa haram untuk bekerja di bank konvensional. Mungkin alasannya adalah, karena bank syariah belum cukup kuat untuk menggantikan bank konvensional. Dan dulu, para shahabat nabi juga tidak berani mengatakan khamar itu haram manakala ayatnya baru menyebutkan “jauhilah”, dan belum jelas-jelas mengatakan haram.

Yang lebih penting dari itu semua, kita butuh orang yang mau memikirkan bagaimana caranya agar asset ummat islam yang masih terkurung di bank konvensional ini bisa diselamatkan. Dan itu artinya, kita masih butuh orang-orang islam untuk tetap berada di dalam bank konvensional, sampai ketika bank syariah benar-benar mampu menjadi alternatif yang kuat untuk menggantikan bank konvensional.

Buka mata lebar-lebar, buka wawasan lebar-lebar, jangan sembarangan memukul rata atau menggeneralisir, karena itu bisa jadi satu pertanda bahwa kita tidak mampu memilah-milah apa yang ada di depan mata kita.
Pilihan ada pada diri kita masing-masing, selamat memilih.

wassalam.

Isa Ismet K
#bukanpegawaibank.
#ditulis: 12 Mei 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s