Masalah

Orang konyol sering membuat masalah…

Orang “Kerdil”  memperbesar masalah…

Orang biasa membicarakan masalah…

Orang besar mengatasi masalah

Orang bijak bersyukur dengan masalah….

Orang kreatif melihat peluang dari masalah….

Orang beriman naik derajat karena masalah….

Jadi, gak ada masalah dengan “masalah”…

Masalahnya, bagaimana cara kita menyikapi “masalah”…

Karena hakikatnya, hidup itu rangkaian “masalah” demi “masalah”…

Jadikanlah “MASALAH” sebagai “Masa memaknai rencana Allah”…

Selamat selamat beraktifitas dengan berbagai macam masalah… salam.

NASYID BOLEH

HUKUM MENDENGARKAN NASYID DI DARUL QUR’AN YANG MENEMPEL DENGAN MASJID – islamqa.info – http://islamqa.info/id/144857

👆 Nasyid dalam artian seperti ini –dikala temanya bagus- tidak mengapa dilantunkan dan diperdengarkan di masjid dan (tempat) lain. Dahulu Hassan bin Tsabit melantunkan syair di masjid, dan di dalamnya ada Rasulullah sallallahu’alalihi wa sallam.

وروى البخاري (3212), ومسلم (2485), وأبو داود (5013) واللفظ له أن عُمَرَ بن الخطاب مَرَّ بِحَسَّان وَهُوَ يُنْشِدُ فِي الْمَسْجِدِ ، فَلَحَظَ إِلَيْهِ , فَقَالَ حسان : قَدْ كُنْتُ أُنْشِدُ وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ.

Diriwayatkan oleh Bukhari, 3212. Muslim, 2485 dan Abu Dawud, 5013 dan redaksi darinya bahwa Umar bin Khattab melewati Hassan sementara beliau sedang melantunkan nasyid di Masjid. Kemudian (Umar) memandangnya. Maka Hassan berkomentar: ”Dahulu saya melantunkan nasyid, dan di dalamnya ada orang yang lebih baik dari anda.”

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Di dalam (hadits menunjukkan) diperbolehkannya melantunkan syair di masjid jikalau (syairnya) mubah. Dan dianjurkan (dikala temanya) menyanjung agama Islam dan orang-orangnya.” Selesai dari kitab ‘Syarkh Shoheh Muslim, 16/46.

Syekh Ibnu Baz rahimahullah ditanya tentang mendengarkan nasyid di masjid, beliau berkata: “Nasyid-nasyid arab yang islami, dimana didalamnya ada faedah (menjelaskan) posisi ilmu dan belajar. Maka hal itu tidak mengapa dikala didalam masjid ada halaqah ilmu atau penceramah yang memberikan nasehat dan mengingatkan kepada orang. Dengan membacakan sebagian syair-syair yang bermanfaat kepada mereka. Dan nasyid syar’i dan bermanfaat tidak mengapa hal itu (dilakukan). Karena dahulu Hassan radhiallahu’anhu melantunkan syair di masjid Nabi sallallahu’alaihi wa sallam.

Hukum Nasyid Atau Lagu-Lagu Yang Bernafaskan Islam – almanhaj.or.id – http://almanhaj.or.id/content/1714/slash/0/hukum-nasyid-atau-lagu-lagu-yang-bernafaskan-islam/

👆 Anda boleh mengganti kebiasaan anda mendengarkan lagu-lagu semacam itu dengan nasyid atau lagu-lagu yang bernafaskan Islam karena di dalamnya terdapat hikmah, peringatan dan teladan (ibrah) yang mengobarkan semangat serta ghirah dalam beragama, membangkitkan rasa simpati, penjauhan diri dari segala macam bentuk keburukan. Seruannya dapat membangkitkan jiwa sang pelantun maupun pendengarnya agar berlaku taat kepada Allah -Subhanahu Wa Ta’ala-, merubah kemaksiatan dan pelanggaran terhadap ketentuanNya menjadi perlindungan dengan syari’at serta berjihad di jalanNya.

Tetapi tidak boleh menjadikan nasyid itu sebagai suatu yang wajib untuk dirinya dan sebagai kebiasaan, cukup dilakukan pada saat-saat tertentu ketika hhal itu dibutuhkan seperti pada saat pesta pernikahan, selamatan sebelum melakukan perjalanan di jalan Allah (berjihad), atau acara-acara seperti itu. Nasyid ini boleh juga dilantunkan guna membangkitkan semangat untuk melakukan perbuatan yang baik ketika jiwa sedang tidak bergairah dan hilang semangat. Juga pada saat jiwa terdorong untuk berbuat buruk, maka nasyid atau lagu-lagu Islami tersebut boleh dilantunkan untuk mencegah dan menghindar dari keburukan.

👆semoga bisa menambah wawasan kita, karena ada juga yang bilang nasyid haram.

KELELAHAN yang disukai Allah SWT dan RasulNya

KELELAHAN yang disukai Allah SWT dan RasulNya :

1. Lelah dalam berjihad di jalan-Nya (QS. 9:111)

2. Lelah dalam berda’wah/mengajak kepada kebaikan (QS.41:33)

3. Lelah dalam beribadah dan beramal sholeh (QS.29:69)

4. Lelah mengandung, melahirkan, menyusui. merawat dan mendidik putra/putri amanah Illahi (QS. 31:14)

5. Lelah dalam mencari nafkah halal (QS. 62:10)

6. Lelah mengurus keluarga (QS. 66:6)

7. Lelah dalam belajar/menuntut ilmu (QS. 3:79)

8. Lelah dalam kesusahan, kekurangan dan sakit (QS.2:155)

Semoga kelelahan dan kepayahan yang kita rasakan menjadi bagian yang disukai Allah dan RasulNya. Aamiin yaa Rabbal-‘aalamiin

Lelah itu nikmat. Bagaimana mungkin? Logikanya bagaimana? Jika anda seorang ayah, yang seharian bekerja keras mencari nafkah sehingga pulang ke rumah dalam kelelahan yang sangat. Itu adalah nikmat Allah swt yang luar biasa, karena banyak orang yang saat ini menganggur dan bingung mencari kerja.

Jika anda seorang istri yang selalu kelelahan dengan tugas rumah tangga dan tugas melayani suami yang tidak pernah habis. Sungguh itu nikmat luar biasa, karena betapa banyak wanita sedang menanti-nanti untuk menjadi seorang istri, namun jodoh tak kunjung hadir.

Jika kita orang tua yang sangat lelah tiap hari, karena merawat dan mendidik anak-anak, sungguh itu nikmat yang luar biasa. Karena betapa banyak pasangan yang sedang menanti hadirnya buah hati, sementara Allah swt belum berkenan memberi amanah.

Lelah dalam Mencari Nafkah

Suatu ketika Nabi saw dan para sahabat melihat ada seorang laki-laki yang sangat rajin dan ulet dalam bekerja, seorang sahabat berkomentar: “Wahai Rasulullah, andai saja keuletannya itu dipergunakannya di jalan Allah.”

Rasulullah saw menjawab: “Apabila dia keluar mencari rezeki karena anaknya yang masih kecil, maka dia di jalan Allah..

Apabila dia keluar mencari rejeki karena kedua orang tuanya yang sudah renta, maka dia di jalan Allah..

Apabila dia keluar mencari rejeki karena dirinya sendiri supaya terjaga harga dirinya, maka dia di jalan Allah. Apabila dia keluar mencari rejeki karena riya’ dan kesombongan, maka dia di jalan setan.” (Al-Mundziri, At-Targhîb wa At-Tarhîb).

Sungguh penghargaan yang luar biasa kepada siapa pun yang lelah bekerja mencari nafkah..

Islam memandang bahwa usaha mencukupi kebutuhan hidup di dunia juga memiliki dimensi akhirat.

Bahkan secara khusus Rasulullah saw memberikan kabar gembira kepada siapa pun yang kelelahan dalam mencari rejeki.

“Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan mencari rejeki pada siang harinya, maka pada malam itu ia diampuni dosanya oleh Allah swt.”

Subhanallah, tidak ada yang sia-sia bagi seorang muslim, kecuali di dalamnya selalu ada keutamaan.

Kelelahan dalam bekerja bisa mengantarkan meraih kebahagiaan dunia berupa harta, di sisi lain dia mendapatkan keutamaan akhirat dengan terhapusnya dosa-dosa.

Syaratnya bekerja dan lelah. Bukankah ini bukti tak terbantahkan, bahwa kelelahan ternyata nikmat yang luar biasa?

Kelelahan Mendidik Anak

Di hari kiamat kelak, ada sepasang orangtua yang diberi dua pakaian (teramat indah) yang belum pernah dikenakan oleh penduduk bumi.

Keduanya bingung dan bertanya:

”Dengan amalan apa kami bisa memperoleh pakaian seperti ini?” Dikatakan kepada mereka:

“Dengan (kesabaran)mu dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anakmu.”

Merawat dan mendidik anak untuk menjadi generasi shaleh/shalehah bukan urusan yang mudah. Betapa berat dan sangat melelahkan. Harta saja tidak cukup.

Betapa banyak orang-orang kaya yang anaknya “gagal” karena mereka sibuk mencari harta, namun abai terhadap pendidikan anak. Mereka mengira dengan uang segalanya bisa diwujudkan.

Namun, uang dibuat tidak berdaya saat anak-anak telah menjadi pendurhaka.

Berbahagialah manusia yang selama ini merasakan kelelahan dan berhati-hatilah yang tidak mau berlelah-lelah. Segala sesuatu ada hitungannya di sisi Allah swt..

Kebaikan yang besar mendapat keutamaan, kebaikan kecil tidak akan pernah terlupakan.

Rasulullah saw bersabda: “Pahalamu sesuai dengan kadar lelahmu.”

Allah swt akan selalu menilai dan menghitung dengan teliti dan tepat atas semua prestasi hidup kita.

Sahabat

Kadang – kadang sahabat yang suka traktir kita makan, bukan kerana mereka berkelebihan tapi karena mereka meletakkan persahabatan melebihi uang…..

Kadang – kadang sahabat yang rajin bekerja, bukan karena mereka sok pandai tapi karena mereka memahami akan tanggung jawab…….

Kadang – kadang sahabat yang memohon maaf dulu setelah pertengkaran bukan karena mereka salah tapi karena mereka menghargai orang di sekeliling mereka……

Kadang – kadang yang sukarela membantu kita, bukan kerana mereka berhutang apa-apa tapi karena mereka lihat kita sebagai seorang sahabat……

Kadang-kadang sahabat yang selalu SMS DAN WA anda, bukan kerana mereka gk ada kerjaan tapi karena mereka INGAT PADA ANDA…….

Satu hari, kita semua akan terpisah, kita akan terkenang obrolan dan impian yang pernah ada.

Hari berganti hari, bulan, tahun, hingga hubungan ini menjadi asing……..

Satu hari anak2 kita akan melihat foto2 kita dan bertanya?
“Siapa mereka semua tu?”…..
Dan kita tersenyum dengan air mata yang tidak kelihatan karena hati ini terusik dengan kata yang sayu, lalu berkata,
“DENGAN MEREKALAH ADA HARI YANG PALING INDAH DALAM HIDUP SAYA.”
TERIMA KASIH SAHABAT:…………
Ya  Tuhan, insan yg membaca ini adalah insan yg kuat, sabar, pengasih & penyayang, maka sayangilah dia serta kasihilah dia, bantulah dia meningkatkan taraf kehidupannya, murahkan rezekinya, sehatkanlah badannya, jika dia melangkah, selamatkanlah dia, permudahkan & lancarkan segala pekerjaannya…..

INDAHNYA PERSAUDARAAN & UKHUWAH DALAM ISLAM

Rasulullah Saw bersabda:

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِc

Seorang mukmin bagi mukmin lainnya laksana bangunan, satu sama lain saling menguatkan. [Muttafaq ‘Alaihi].

Orang-orang yang beriman itu ibarat satu tubuh. Jika satu bagian sakit, yang lain ikut merasakan sakit:

Hadis riwayat Nukman bin Basyir ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam. (Shahih Muslim No.4685)

Ummat Islam itu saling menguatkan satu sama lain:
Hadis riwayat Abu Musa ra. dia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan di mana bagiannya saling menguatkan bagian yang lain. (Shahih Muslim No.4684)

Allah melarang ummat Islam untuk bercerai-
berai:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,” [Ali Imron 103-105]

Rasulullah saw. bersabda:
Barang siapa tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya. (Shahih Muslim No.4283)

Orang yang belas kasihan akan dikasihi Arrahman (Yang Maha Pengasih), karena itu kasih sayangilah yang di muka bumi, niscaya kamu dikasih-sayangi mereka yang di langit. (HR. Bukhari)

Demi yang jiwaku dalam genggamanNya. Kamu tidak dapat masuk surga kecuali harus beriman dan tidak beriman kecuali harus saling menyayangi. Maukah aku tunjukkan sesuatu bila kamu lakukan niscaya kamu saling berkasih sayang? Sebarkan salam di antara kamu. (HR. Muslim)

Silahkan baca:
“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara isi nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat.
Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah.

Dan orang-orang yang mendalam ilmunya
berkata:
“Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” [Ali ‘Imran 7]

Dari Abdullah Ibn. Mas’ud ra meriwayatkan bahwa baginda Rasulullah SAW bersabda : “Maukah Aku khabarkan kepadamu siapakah orang yang diharamkan dari api neraka ? Dan api neraka tidak akan menyentuhnya. Mereka adalah orang yang menghampiri orang lain dengan lemah lembut, berlebih kurang dan baik hati.” (HR Tirmidzi)

“Mencela sesama muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran”
(Bukhari no.46,48, muslim no. .64,97, Tirmidzi no.1906,2558, Nasa’I no.4036, 4037, Ibnu Majah no.68, Ahmad no.3465,3708)

Agar tidak berpecah-belah, hendaknya kita berpegang pada Al Qur’an dan Hadits.
Sabda Rasulullah Saw: “Aku tinggalkan padamu dua hal, yang tidak akan sesat kamu selama berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya.”(HR Ibnu ‘Abdilbarri)

Kemudian ikuti juga ijma’ (kesepakatan) para ulama yang terdahulu seperti Imam Malik,
Imam Hanafi, Imam Syafi’I, dan Imam Hambali. Para Imam tersebut meski kadang berbeda pendapat, namun tidak mengkafirkan atau saling cela satu sama lain. Para Imam itulah yang hendaknya kita ikuti:

“Sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan ummatku atau ummat Muhammad berkumpul (besepakat) di atas kesesatan” (Tirmidzi no.2093, Ahmad 6/396)

Tak jarang ummat Islam terpecah ke dalam kelompok-kelompok kecil yang saling bertikai satu sama lain. Mereka larut dalam fanatisme golongan (Ashobiyyah):

Ka’ab bin ‘Iyadh Ra bertanya,
“Ya Rasulullah, apabila seorang mencintai kaumnya, apakah itu tergolong fanatisme?” Nabi Saw menjawab, “Tidak, fanatisme (Ashabiyah) ialah bila seorang mendukung (membantu) kaumnya atas suatu kezaliman.” (HR. Ahmad)

Bukan termasuk umatku siapa saja yang menyeru orang pada ‘ashabiyah (HR Abu Dawud).

Dalam hadits yang lain Nabi mengatakan bahwa orang yang mati dalam keadaan ashobiyah (membela kelompoknya, bukan Islam), maka dia masuk neraka.

Ada yang ashobiyyah dalam hal kebangsaan/nasionalisme. Hingga sesama Muslim karena beda Negara, Misalnya Malaysia dengan Indonesia, jadi saling ejek bahkan pernah perang sebelumnya. Padahal baik Negara Malaysia mau pun Indonesia 100 tahun lalu belum ada (Indonesia baru ada tahun 1945) dan 100 tahun ke depan pun belum tentu masih ada. Buktinya Timtim sudah lepas dan Negara Uni Soviet yang besar saja sudah runtuh. Sedang Islam, ribuan tahun tetap ada. Bahkan di akhirat pun insya Allah tetap ada.

Ada juga sebagian Muslim yang memecah-belah agama Islam jadi beberapa aliran. Tak jarang ada yang khawarij yang menyatakan hanya kelompoknya saja yang benar, sedang ummat Islam lain di luar kelompoknya mereka anggap sesat:

“Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” [Ar Ruum:32]

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka.
Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” [Al An’aam:159]

Mereka menamakan kelompoknya masing-masing dengan nama tersendiri selain Muslim. Dengan nama selain Muslim itulah mereka bangga-banggakan kelompoknya sambil menista kelompok lain. Padahal Allah telah menamakan kita sebagai Muslim:

Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu..” [Al Hajj 67]

Padahal Allah menamai kita Muslim dan menyuruh kita berdoa agar diwafatkan sebagai seorang Muslim:

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ

“…Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” [Al A’raaf 126]

Oleh karena itu mari kita kembali ke jalan
yang lurus. Lupakan ashobiyyah / fanatisme golongan.
Sebaliknya mari hidupkan ukhuwah Islamiyyah karena ummat Islam itu bersaudara dan seperti satu tubuh yang saling menguatkan satu sama lain. Tempatkan Islam di atas yang lain termasuk kepentingan kelompok.

Rasulullah saw, bersabda :
“Barangsiapa yg di kehendaki baik oleh Allah.., niscaya akan di karuniai seorang sahabat yg soleh. Jika ia sedang lupa, maka sahabatnya yg saleh itu mengingatkannya. Dan jika ia sedang ingat(sadar), maka sahabatnya yg saleh itu mau membantu menjaga serta mengawasinya.” (Hr. Abu Daud)

Rasulullah saw, bersabda : “Jika seorang muslim MENDOAKAN saudara muslim lainnya maka MALAIKAT berkata : ‘AAMIIN dan bagimu pula KEMULIAAN sebagaimana DOA yang kau doakan untuk SAUDARAMU.” (HR Muslim)

Allah Azza wajalla mewajibkan tujuh hak kepada seorang mukmin terhadap mukmin lainnya, yaitu:
(1) melihat saudara seimannya dengan rasa hormat dalam pandangan matanya;
(2) mencintainya di dalam hatinya;
(3) menyantuninya dengan hartanya;
(4) tidak menggunjingnya atau mendengar penggunjingan terhadap kawannya;
(5) menjenguknya bila sakit;
(6) melayat jenazahnya;
(7) dan tidak menyebut kecuali kebaikannya sesudah ia wafat. (HR. Ibnu Baabawih)

Allah Ta’ala berfirman (dalam hadits Qudsi) : “Kebesaran (kesombongan atau kecongkakan) pakaianKu dan keagungan adalah sarungKu. Barangsiapa merampas salah satu (dari keduanya) Aku lempar dia ke neraka (jahanam).” (HR. Abu Dawud)

#kirimanseorangteman.

Untuk HTI, Salafy, PKS

(Lebih Menyejukkan Pendapat Seperti ini)
Untuk HTI, Salafy, PKS
Oleh Felix Siauw

Zaman sekarang memang zaman yang aneh, ada orang yang mengaku aktivis dakwah, teriak-teriak tentang Khilafah, pendirian negara yang berdasarkan syariat Allah, negara yang menerapkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, rindu dengan penerapan Islam secara kaaffah tapi subuh dia nggak hadir di Masjid, jarang puasa senin-kamis, tahajjudnya setahun bisa dihitung jari, dan baca Al-Qur’an juga malas, semua hal dikiritik olehnya, sampai-sampai seolah tidak ada kebaikan pada orang lain bila tidak berdakwah tentang Khilafah.

Sama anehnya dengan orang-orang yang mengaku ikut kajian sunnah, senantiasa menganggap bahwa dirinyalah yang bertauhid, tapi tauhid ini tidak menyelamatkan saudaranya dari kekasaran lidahnya, dan bahkan tak memahami sunnah yang paling mudah yaitu menyenangkan saudaranya, mencintai saudaranya karena Allah, atau dia menganggap bahwa saudaranya hanya yang cingkrang celananya dan subur janggutnya, kalangannya saja.

Aneh juga seperti orang-orang yang merasa bahwa dirinya mengikuti tarbiyah dan metode rabbaniyyah Rasulullah, namun menganggap bahwa kerja itu hanya dengan politik dan parlemen, selain itu berarti tidak berdakwah dan tidak berjuang, berarti hanya penonton yang selalu dianggap salah dan tidak ada betulnya.

Lebih anehnya lagi, ternyata semua sifat-sifat diatas itu ternyata ada pada diriku, itu aku.

Tapi zaman sekarang, ada juga orang-orang yang benar-benar sempurna tarbiyahnya, lembut tuturnya dan santun lisannya, (kasih) sayangnya pada manusia tak dapat disembunyikan walau dengan cara apapun. Merangkul saudaranya satu demi satu, mempergauli mereka dengan ihsan, menjamu mereka layaknya tamu agung, rabbaniyyah sama semisal ajaran Rasulullah.

Di zaman ini juga kami temukan mujahid-mujahid yang cinta sunnah, rapat janggutnya serapat dalil yang kuat yang dia pelajari dengan serius, dia bersabar dalam memperbaiki diri juga memperbaiki orang lain, saat berjumpa dengan Muslim yang lain ia memberikan tatapannya yang paling teduh dan senyum yang paling manis, walau ilmunya jauh lebih tinggi, tapi ia selalu bisa menemukan cara untuk belajar pada saudaranya sesama Muslim, akhlaknya itu sunnah, tauhidnya ada pada akhlaknya.

Juga di zaman ini, pejuang Khilafah dan Syariah yang sangat mencintai sesamanya, dekat dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, mencintai para ulama sebagaimana dia mencintai saudara-saudaranya, dia cinta pada sejarah Islam sebagaimana cinta pada bahasa Al-Qur’an, dia bukan hanya meramaikan Masjid, namun dialah yang memakmurkannya, siang harinya laksana singa dan malamnya seperti rahib, tak keluar dari lisannya kecuali ayat dan hadits, tak didengarnya kecuali kebaikan demi kebaikan.

Dan aku ingin sekali seperti mereka.

Kadangkala, kesedihan meliputiku saat aku mengetahui kebodohan diriku dan angkuhnya sikapku padahal aku kurang ilmu, disitu aku merasa kebangkitan Islam takkan Allah berikan padaku.

Tapi, saat aku melihat wajah-wajah yang bercahaya dengan ilmu, dan agung akhlaknya itu, aku tahu bisa jadi Allah memperhitungkan mereka untuk memberikan kebangkitan Islam, dan aku berharap aku dapat sedikit saja memiliki kemuliaan mereka, dengan mencintai mereka.

Ya Allah, satukanlah hati kaum Muslim…

*dari facebook Felix Siauw.

Dialog Panjang antara Syeikh Ramadhan al Buthi & Syeikh Al-Albani

Sebuah nasihat utk kita semua utk tdk cepat menghakimi yg mengikuti mazhab lain di antara Imam Mazhab yg Sunni :

Dialog Panjang antara Syeikh Ramadhan al Buthi & Syeikh Al-Albani

Sabtu 11 Jamadilawal 1434 / 23 Maret 2013 13:23

ADA sebuah perdebatan yang menarik tentang ijtihad dan taqlid, antara Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, seorang ulama Ahlussunnah wal Jama’ah di Syria, bersama Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, seorang tokoh Ulama dari Yordania.

Syaikh al-Buthi bertanya: “Bagaimana cara Anda memahami hukum-hukum Allah, apakah Anda mengambilnya secara langsung dari al-Qur’an dan Sunnah, atau melalui hasil ijtihad para imam-imam mujtahid?”

Al-Albani menjawab: “Aku membandingkan antara pendapat semua imam mujtahid serta dalil-dalil mereka lalu aku ambil yang paling dekat terhadap al-Qur’an dan Sunnah.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Seandainya Anda punya uang 5000 Lira. Uang itu Anda simpan selama enam bulan. Kemudian uang itu Anda belikan barang untuk diperdagangkan, maka sejak kapan barang itu Anda keluarkan zakatnya. Apakah setelah enam bulan berikutnya, atau menunggu setahun lagi?”

Al-Albani menjawab: “Maksud pertanyaannya, kamu menetapkan bahwa harta dagang itu ada zakatnya?”

Syaikh al-Buthi berkata: “Saya hanya bertanya. Yang saya inginkan, Anda menjawab dengan cara Anda sendiri. Di sini kami sediakan kitab-kitab tafsir, hadits dan fiqih, silahkan Anda telaah.”

Al-Albani menjawab: “Hai saudaraku, ini masalah agama. Bukan persoalan mudah yang bisa dijawab dengan seenaknya. Kami masih perlu mengkaji dan meneliti. Kami datang ke sini untuk membahas masalah lain”.

Mendengar jawaban tersebut, Syaikh al-Buthi beralih pada pertanyaan lain: “Baik kalau memang begitu. Sekarang saya bertanya, apakah setiap Muslim harus atau wajib membandingkan dan meneliti dalil-dalil para imam mujtahid, kemudian mengambil pendapat yang paling sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah?”

Al-Albani menjawab: “Ya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Maksud jawaban Anda, semua orang memiliki kemampuan berijtihad seperti yang dimiliki oleh para imam madzhab? Bahkan kemampuan semua orang lebih sempurna dan melebihi kemampuan ijtihad para imam madzhab. Karena secara logika, seseorang yang mampu menghakimi pendapat-pendapat para imam madzhab dengan barometer al-Qur’an dan Sunnah, jelas ia lebih alim dari mereka.”

Al-Albani menjawab: “Sebenarnya manusia itu terbagi menjadi tiga, yaitu muqallid (orang yang taklid), muttabi’ (orang yang mengikuti) dan mujtahid. Orang yang mampu membandingkan madzhab-madzhab yang ada dan memilih yang lebih dekat pada al-Qur’an adalah muttabi’. Jadi muttabi’ itu derajat tengah, antara taklid dan ijtihad.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apa kewajiban muqallid?”

Al-Albani menjawab: “Ia wajib mengikuti para mujtahid yang bisa diikutinya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apakah ia berdosa kalau seumpama mengikuti seorang mujtahid saja dan tidak pernah berpindah ke mujtahid lain?”

Al-Albani menjawab: “Ya, ia berdosa dan haram hukumnya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apa dalil yang mengharamkannya?”

Al-Albani menjawab: “Dalilnya, ia mewajibkan pada dirinya, sesuatu yang tidak diwajibkan Allah padanya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Dalam membaca al-Qur’an, Anda mengikuti qira’ahnya siapa di antara qira’ah yang tujuh?”

Al-Albani menjawab: “Qira’ah Hafsh.”

Al-Buthi bertanya: “Apakah Anda hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja? Atau setiap hari, Anda mengikuti qira’ah yang berbeda-beda?”

Al-Albani menjawab: “Tidak. Saya hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Mengapa Anda hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja, padahal Allah subhanahu wata’ala tidak mewajibkan Anda mengikuti qira’ah Hafsh. Kewajiban Anda justru membaca al-Qur’an sesuai riwayat yang dating dari Nabi Saw. secara mutawatir.”

Al-Albani menjawab: “Saya tidak sempat mempelajari qira’ah-qira’ah yang lain. Saya kesulitan membaca al-Qur’an dengan selain qira’ah Hafsh.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Orang yang mempelajari fiqih madzhab asy-Syafi’i, juga tidak sempat mempelajari madzhab-madzhab yang lain. Ia juga tidak mudah memahami hukum-hukum agamanya kecuali mempelajari fiqihnya Imam asy-Syafi’i. Apabila Anda mengharuskannya mengetahui semua ijtihad para imam, maka Anda sendiri harus pula mempelajari semua qira’ah, sehingga Anda membaca al-Qur’an dengan semua qira’ah itu. Kalau Anda beralasan tidak mampu melakukannya, maka Anda harus menerima alasan ketidakmampuan muqallid dalam masalah ini. Bagaimanapun, kami sekarang bertanya kepada Anda, dari mana Anda berpendapat bahwa seorang muqallid harus berpindah-pindah dari satu madzhab ke madzhab lain, padahal Allah tidak mewajibkannya. Maksudnya sebagaimana ia tidak wajib menetap pada satu madzhab saja, ia juga tidak wajib berpindah-pindah terus dari satu madzhab ke madzhab lain?”

Al-Albani menjawab: “Sebenarnya yang diharamkan bagi muqallid itu menetapi satu madzhab dengan keyakinan bahwa Allah memerintahkan demikian.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Jawaban Anda ini persoalan lain. Dan memang benar demikian. Akan tetapi, pertanyaan saya, apakah seorang muqallid itu berdosa jika menetapi satu mujtahid saja, padahal ia tahu bahwa Allah tidak mewajibkan demikian?”

Al-Albani menjawab: “Tidak berdosa.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Tetapi isi buku yang Anda ajarkan, berbeda dengan yang Anda katakan. Dalam buku tersebut disebutkan, menetapi satu madzhab saja itu hukumnya haram. Bahkan dalam bagian lain buku tersebut, orang yang menetapi satu madzhab saja itu dihukumi kafir.”

Menjawab pertanyaan tersebut, al-Albani kebingungan menjawabnya.

Demikianlah dialog panjang antara Syaikh al-Buthi dengan al-Albani, yang didokumentasikan dalam kitab beliau al-Lamadzhabiyyah Akhthar Bid’ah Tuhaddid asy-Syari’at al-Islamiyyah. Tentu saja mengikuti madzhab para ulama salaf, lebih menenteramkan bagi kaum Muslimin. Keilmuan, ketulusan dan keshalehan ulama salaf jelas diyakini melebihi orang-orang sesudah mereka. [pustakamuhibbin]

Haramkah kerja di bank konvensional?

Kalau pertanyaan ini disampaikan pada orang yang strict, maka jawabannya sudah pasti: Haram! Padahal yang difatwakan haram oleh MUI adalah bunga bank, bukan bekerja di bank itu sendiri. Sama seperti fatwa haram khamr, yang haram adalah khamr, bukan alkohol. Yang tidak bisa membedakan antara khamr dan alkohol, maka bisa jadi akan mengasosiasikan fatwa haram bunga bank dengan haramnya kerja di bank. Pokoknya pukul rata, beres.

Padahal, kalau profesi yang berkaitan dengan bunga bank harus dihukumi sebagai haram, maka seharusnya profesi accounting dan finance di semua perusahaan juga haram. Karena dua profesi ini juga sibuk berkaitan dengan bunga bank. Demikian juga dengan direktur perusahaan, banyak pekerjaannya yang berkaitan dengan bunga-bunga bank. Mengapa profesi-profesi ini tidak diharamkan juga?

Daripada memukul rata dan membabi buta seperti itu, mari sebaiknya kita lihat secara lebih teliti, agar kita bisa belajar memahami apa yang ada di depan mata kita.

Bunga bank, sudah difatwakan sebagai riba yang haram. Dan riba ini biasanya adanya di bank. Maka profesi-profesi yang ada di bank, sudah pasti berdekatan dengan riba ini. Akan tetapi, sebatas mana yang dibolehkan? Dan sebatas mana yang tidak dibolehkan? Apakah seluruh pekerjaan di bank menjadi haram hanya karena bunga bank ini?

Bagi yang mengharamkan, tidak perlu ditanya. Bagi mereka, bank itu mungkin seperti pelacuran. Maka, menjadi satpam di bank juga hukumnya haram, karena dianggap sama dengan menjadi satpam di lokalisasi pelacuran.

Tapi bagi yang mau bersikap adil dalam menilai, mari kita lihat bagaimana respon ummat islam dalam menyikapi pelacuran dan perbankan. Dalam pelacuran, respon terbaik adalah dengan menutup lokasi pelacuran itu. Sedangkan dalam perbankan, respon terbaik bukan dengan cara menutup bank itu, tapi menggantinya dengan bank syariah.
Ini bedanya antara pelacuran dan perbankan.
Pelacuran bisa ditutup institusinya, sedangkan perbankan tidak bisa ditutup institusinya, dan hanya bisa digantikan dengan mirip dengan itu, yaitu perbankan syariah.
Buktinya, sampai saat ini, tidak ada toh lokalisasi WTS syariah. 🙂
Itu karena pelacuran bisa ditutup institusinya.

Untuk kasus bank, kita semua butuh institusi bank, dan ini tidak bisa dipungkiri lagi. Maka solusinya adalah dengan cara migrasi ke sistem syariah, bukan dengan cara menutup bank itu sendiri.
Dari sini saja sudah kelihatan bahwa perbankan dan pelacuran itu beda.

Lalu, bagaimana? Dengan sudah adanya sistem syariah khan berarti bekerja di bank konvensional menjadi haram?
Siapa yang bilang begitu?
MUI kita tidak pernah mengeluarkan fatwa bahwa bekerja di bank konvensional itu haram. Itu harus ditekankan.

MUI kita baru mengeluarkan fatwa tentang haramnya bunga bank. Di balik itu, mungkin MUI kita ingin mendorong agar masyarakat kita bisa switch ke bank syariah, sambil sementara waktu tetap boleh menggunakan bank konvensional.

Lho? bukannya sudah ada bank syariah itu berarti sudah ada alternatif yang cukup untuk menggantikan bank konvensional?
Teori-nya, ya.
Prakteknya, belum.

Kenyataannya, market share bank syariah kita masih stuck di angka 4% saja. Itu artinya, 96% uang kita masih beredar di bank-bank konvensional. Dengan kondisi seperti ini, kalau ummat islam dilarang kerja di bank konvensional, dan di saat yang bersamaan bank syariah masih stuck di angka 4%, lantas nanti siapa yang akan mengelola uang-uang kaum muslimin yang belum bisa pindah ke bank syariah?

Bagi yang ingin selamat sendiri, ya silakan pindah dari bank konvensional, lalu cari profesi lain yang lebih menenangkan hati.

Tapi bagi yang ingin berfikir bagaimana caranya agar uang ummat islam bisa dipindah ke bank syariah, atau bagaimana caranya mengelola uang ummat Islam yang belum bisa dipindah ke bank syariah (yang angkanya masih 96%), maka sebaiknya kita berusaha untuk tetap menempatkan ummat islam di bank-bank konvensional, karena bank syariah masih stuck di angka 4%, dan belum bisa menggantikan bank konvensional.

Ingat, Islam dulu tidak mengharamkan riba secara langsung. Islam mengharamkannya step-by-step, dan baru resmi haram ketika alternatifnya sudah siap.
Dan alternatif kita saat ini, yaitu bank syariah, masih stuck di angka 4%. Dan ini adalah fakta yang hanya bisa difahami oleh orang-orang yang mau berfikir.
Itu artinya, kita belum punya alternatif yang cukup kuat untuk mengganti sistem konvensional menjadi sistem syariah. Dan itu artinya, belum waktunya kita mengeluarkan fatwa haram bekerja di bank konvensional.

Lagipula, MUI juga belum mengeluarkan fatwa seperti itu khan …. MUI jelas berfikir jauh ke depan, tidak seperti kita yang mungkin malah grasa-grusu pingin cari selamat sendiri.

Bagi yang pingin cari selamat sendiri, ya silakan pindah dari bank konvensional.
Tapi bagi  yang ingin melihat dengan lebih detil, maka sesungguhnya belum ada fatwa haram untuk bekerja di bank konvensional. Mungkin alasannya adalah, karena bank syariah belum cukup kuat untuk menggantikan bank konvensional. Dan dulu, para shahabat nabi juga tidak berani mengatakan khamar itu haram manakala ayatnya baru menyebutkan “jauhilah”, dan belum jelas-jelas mengatakan haram.

Yang lebih penting dari itu semua, kita butuh orang yang mau memikirkan bagaimana caranya agar asset ummat islam yang masih terkurung di bank konvensional ini bisa diselamatkan. Dan itu artinya, kita masih butuh orang-orang islam untuk tetap berada di dalam bank konvensional, sampai ketika bank syariah benar-benar mampu menjadi alternatif yang kuat untuk menggantikan bank konvensional.

Buka mata lebar-lebar, buka wawasan lebar-lebar, jangan sembarangan memukul rata atau menggeneralisir, karena itu bisa jadi satu pertanda bahwa kita tidak mampu memilah-milah apa yang ada di depan mata kita.
Pilihan ada pada diri kita masing-masing, selamat memilih.

wassalam.

Isa Ismet K
#bukanpegawaibank.
#ditulis: 12 Mei 2015

3×7=27

Di Tiongkok pernah ada seorg GURU yg sangat dihormati krn tegas & jujur.

Suatu hari, 2 murid menghdp GURU. Mereka bertengkar hebat & nyaris beradu fisik.

Ke dua nya berdebat ttg hitungan 3×7.
Murid pandai mengatakan 21,
Murid bodoh bersikukuh mengatakan 27.

Murid bodoh menantang murid pandai utk meminta GURU sbg Jurinya utk mengetahui siapa yg benar diantara mereka, sambil si bodoh mengatakan : “Jika sy yg benar 3 x 7 = 27 maka engkau hrs mau di cambuk 10 kali oleh GURU, tapi jika kamu yg benar ( 3×7=21 ) maka sy bersedia utk memenggal kepala sy sendiri ha ha ha …..” demikian si bodoh menantang dgn sangat yakin dgn pendapatnya

“Katakan GURU mana yg benar ?”
tanya murid bodoh…

Ternyata GURU memvonis cambuk 10x bagi murid yg pandai (orang yg menjwb 21).

Si murid pandai protes keras!!

GURU menjwb:
“Hukuman ini bkn utk hasil hitunganmu, TAPI utk KETIDAK ARIFANmu yg mau2nya berdebat dgn org bodoh yg tdk tau kalo 3×7 adalah 21”

Guru melanjutkan : “Lebih baik melihatmu dicambuk & menjadi ARIF, drpd GURU hrs melihat 1 nyawa terbuang sia2!”

Pesan Moral:

Jika kita sibuk mmperdebatkan sesuatu yg tak benar, berarti kita juga sama salahnya atau bahkan lebih salah dari pada orang yg memulai perdebatan, sebab dgn sadar kita membuang waktu & energi utk hal2 yg tdk perlu.

Bukankah kita sering mengalaminya?

Bisa terjadi dgn pasangan hidup, rekan kerja, teman, saudara, tetangga, kolega, dll..

Berdebat atau bertengkar utk hal yg tdk benar, hanya akan menguras energi percuma.

Ada saatnya kita diam utk menghindari perdebatan atau pertengkaran yg sia2.

Diam bukan berarti kalah, bukan?

Memang tdk mudah, tapi janganlah sekali2 berdebat dgn org yg tidak memahami permasalahan, TAPI merasa dirinya SUDAH paling benar… padahal sudah jelas2 SALAH seperti cerita di atas…

“MERUPAKAN SUATU KEARIFAN BAGI KITA, YG BISA MENGKONTROL DIRI & MENGHINDARI KEMARAHAN serta PERTENGKARAN….”           

Semoga bermanfaat…