Orang tua nabi masuk neraka?

Orang yang normal pasti berharap agar orang tua nabi itu masuk surga. Bukan malah memilih untuk menuhankan perkataan-perkataan, lalu dengan tanpa rasa lantas kemana-mana menyuarakan bahwa orang tua nabi akan masuk neraka.

Biarlah perkataan itu apa adanya, tapi kita sebagai muslim, tetap harus bersikap seperti apa yang diajarkan kepada kita, yaitu selalu berdoa: “Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah pada Rasulullah dan juga pada seluruh keluarga beliau.”

Siapakah kita ini, yang berani tertawa dan berkata dengan gembira bahwa orang tua nabi pasti masuk neraka?
Memangnya kita sendiri sudah pasti akan masuk ke mana?

Surga tidak akan dimasuki oleh orang yang memiliki kesombongan di dalam hatinya.

ANTARA RIZQI & IKHTIAR

Mungkin kau tak tahu di mana rizqimu. Tapi rizqimu tahu di mana engkau. Dari langit, laut, gunung & lembah. Rabb memerintahkannya menujumu.

Allah berjanji menjamin rizqimu. Maka melalaikan ketaatan pada-Nya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijamin-Nya adalah kekeliruan berganda.
Tugas kita bukan mengkhawatiri rizqi atau bermuluk cita memiliki, melainkan menyiapkan jawaban “dari mana” & “untuk apa” atas tiap karunia.

Betapa banyak orang bercita menggenggam dunia, dia alpa bahwa hakikat rizqi bukanlah yang tertulis dalam angka, tapi apa yang dinikmatinya.
Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringatnya, demi angka simpanan gaji yang mungkin esok pagi ditinggalkannya mati.

Maka amat keliru jika bekerja dimaknai mentawakkalkan rizqi pada perbuatan kita. Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rizqi itu urusan-Nya.

Kita bekerja tuk bersyukur, menegakkan taat & berbagi manfaat. Tapi rizqi tak selalu terletak di pekerjaan kita. Allah taruh sekehendakNya.

Bukankah Hajar berlari 7x bolak-balik dari Shafa ke Marwa, tapi zam-zam justru terbit di kaki bayinya, Ikhtiar itu laku perbuatan. Rizqi itu kejutan,
ia kejutan untuk disyukuri hamba bertaqwa, datang dari arah tak terduga. Tugas manusia cuma menempuh jalan halal, Allah-lah yang melimpahkan bekal.

Sekali lagi yang terpenting di tiap kali kita meminta & Allah memberi karunia, jaga sikap saat menjemputnya & jawab soalan-Nya, “buat apa?”

Betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia, lupa bahwa semua hanya “hak pakai” yang halalnya akan dihisab & haramnya akan di’adzab.
Banyak yang mencampakkan keikhlasan ‘amal demi tambahan harta, plus dibumbui kata untuk bantu sesama, lupa bahwa ‘ibadah apapun semata atas pertolongan-Nya.

Dengan itu kita mohon “Ihdinash Shirathal Mustaqim”, petunjuk ke jalan orang nan diberi nikmat ikhlas di dunia & nikmat ridha-Nya di akhirat.
Maka segala puji bagi Allah, hanya dengan nikmat-Nya menjadi sempurna semua kebajikan..

Penguasa Haromain

Dari dulu, sejak hampir seribu tahun yang lalu, penguasa Haromain selalu dipegang oleh Bani Hasyim, yaitu keluarga nabi. Dan ini berlangsung terus sejak seribu tahun yang lalu, siapapun yang menjadi khalifahnya. Ini adalah satu bentuk penghormatan pada keluarga nabi.

Tapi semua itu sekarang dihapuskan oleh keluarga bani Su’ud yang memerintah Saudi saat ini. Bani Su’ud berasal dari Riyadh, Najd, pusat Arab Badui. Sedangkan Bani Hasyim adalah suku terpandang di jazirah Arab.

Sekarang sudah terbalik, suku terpandang diusir, dan suku badui menguasai jazirah Arab. Ketika para budak menjadi tuan bagi majikannya, setelah itu kiamat akan datang. Sekarang sudah terbukti sebagiannya.

Referensi:
http://www.suaraharamain.com/2013/03/sejarah-kerajaan-bani-hasyim-di-timur.html?m=1

Menyikapi Hadits Shahih

Ada yang mengatakan, kalau ada satu hadits shahih, maka kita wajib menerimanya, dan kita tidak boleh menggunakan akal kita untuk menerima atau menolak hadits tsb.

Lalu saya minta pada orang tersebut untuk melihat video di bawah ini.

Fatwa kontroversi, perempuan menyusukan lelaki dewasa… : http://youtu.be/R0rzcgsF1QQ

Screenshotnya:
image

Ini adalah video tentang seorang wanita yang bertanya-tanya mengenai wajibnya atau bolehnya seorang wanita dewasa menyusui laki-laki dewasa yang bukan mahromnya, agar laki-laki tersebut menjadi mahramnya. Dalilnya adalah hadits shahih yang ada dalam kitab shahih muslim.

Al-Imam Muslim berkata dalam Shahihnya (no. 1453):

“….’Aisyah berkata: Sahlah bintu Suhail datang menemui Nabi, katanya:

“Wahai Rasulullah, saya melihat sesuatu di wajah Abu Hudzaifah karena seringnya Salim -bekas budaknya- masuk ke rumah”. Kata Nabi: “Susuilah dia”. Kata nya: “Bagaimana saya menyusuinya sedangkan dia laki-laki dewasa?”
Rasulullah tersenyum dan berkata: “Saya tahu dia sudah besar”.
‘Amr (rawi hadits) menambahkan riwayatnya: “Dan dia (Salim) ikut dalam perang Badr”.

👆ada dalam kitab shahih muslim
👉 sanadnya shahih.

Maka, akankah kita menerima hadits ini apa adanya? Dan apakah kita benar-benar dilarang untuk menggunakan akal dalam memahami agama kita ini.

Kalau kita berprinsip bahwa akal tidak boleh dipakai dalam memahami agama kita ini, maka silakan segera praktekkan fatwa di atas, karena haditsnya adalah shahih.

Tapi kalau kita masih merasa bahwa akal yang sehat seharusnya boleh kita gunakan untuk memahami agama kita ini, maka mari kita lanjutkan pembahasannya.

Ini saat yang tepat untuk kita berfikir lagi. Kalau sanad suatu hadits itu shahih, apakah kita lantas wajib menerimanya begitu saja?
Apakah sikap kita terhadap hadits hanya cukup melihat keshahihan sanadnya saja?
Apakah hadits yang sanadnya sudah dinyatakan shahih, sudah dijamin kebenarannya mutlak sama seperti ayat al-Qur’an?

Yang lebih mendekati kebenaran adalah, kita lihat hadits dari sanadnya dan juga dari matannya (isinya).
kalau sanadnya shahih, ya kemudian kita lihat apa isinya.
Di tangan kita ada Al-Qur’an, yang merupakan kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya. Maka kita seharusnya memastikan dulu apakah isi hadits itu sesuai dengan Al-Qur’an atau tidak, bukan langsung menerima hadits shahih tanpa mencomparenya dengan Al-Qur’an.

Hadits di-cek menggunakan ayat Al-Qur’an, bukan ayat dicek oleh hadits.

Kitab yang tida ada keraguan di dalamnya hanyalah Al-Qur’an.
Adapun kitab hadits yang tershahih sekalipun, tidak bisa kita katakan tidak ada keraguan di dalamnya.
Inilah keyakinan ahlu sunnah dari dulu sampai sekarang.

Kitab shahih bukhari memiliki keshahihan tertinggi, lalu di bawahnya adalah kitab shahih muslim. Tapi kedua kitab ini tetap mengandung kesalahan, karena yang sempurna hanyalah Al-Qur’an.
Atau barangkali, kita termasuk orang yang berkeyakinan  bahwa ada kitab lain selain Al-Qur’an yang memiliki sifat “tidak ada keraguan di dalamnya”?

Mari kita tempatkan semua pada tempatnya masing2.
Yang pasti benar hanyalah ayat Al-Qur’an. Mari kita gunakan ayat Al-Qur’an ini untuk men-cek dalil2 lainnya.

Hadits ada yang shahih dan ada yang tidak. Tapi hadits yang shahih pun tetap harus dicompare dulu dengan Al-Qur’an, karena hadits shahih statusnya hanya “kemungkinan besar benar”, sedangkan ayat al-Qur’an sudah pasti benar.

Adapun fatwa ulama, sudah jelas ada di bawah itu semua. Maka sebaiknya kita bertoleran dalam level fatwa ulama ini, karena ijtihad ulama berbeda-beda.

Jangan sampai kita tidak bisa membedakan level dalil2 di atas, karena hal itu bisa menyebabkan kita kaku dalam menilai suatu hal.

Semoga Allah membuka hati kita, agar kita bisa mendapat ilmu yang jauh lebih dalam lagi dalam memahami agama kita ini.

Aamiin.

link:
https://ismetkh.wordpress.com/2015/04/11/menyikapi-hadits-shahih/

Rumah Kita

Copas dari group tetanggan, nih…

RUMAH KITA
(oleh: Cak Nun)

Kita bukan penduduk bumi,
kita adalah penduduk syurga.
Kita tidak berasal dari bumi,
tapi kita berasal dari syurga.

Maka carilah bekal untuk kembali ke rumah,
kembali ke kampung halaman.
Dunia bukan rumah kita,
maka jangan cari kesenangan dunia.

Kita hanya pejalan kaki dalam perjalanan kembali kerumahnya.

Bukankah mereka yang sedang dalam perjalanan pulang selalu mengingat rumahnya dan mereka mencari buah tangan untuk kekasih hatinya yang menunggu di rumah?
Lantas, apa yang kita bawa untuk penghuni rumah kita, Rabb yang mulia?

Dia hanya meminta amal sholeh dan keimanan, serta rasa rindu padaNya yang menanti di rumah.
Begitu beratkah memenuhi harapanNya?

Kita tidak berasal dari bumi,
kita adalah penduduk syurga.
Rumah kita jauh lebih Indah di sana.

Kenikmatannya tiada terlukiskan,
dihuni oleh orang-orang yang mencintai kita.
Ada istri sholeha serta tetangga dan kerabat yang menyejukkan hati, orang2 yang menghuni surgaNYA

Mereka rindu kehadiran kita,
setiap saat menatap menanti kedatangan kita.
Mereka menanti kabar baik dari Malaikat Izrail.
Kapan Keluarga mereka akan pulang.

Ikutilah peta (Al Qur’an) yang Allah titipkan sebagai pedoman perjalanan.
Jangan sampai salah arah dari petunjuk yang di sampaikan baginda nabi Muhammad s.a.w dan berbelok ke rumahnya iblis Laknatullah yaitu neraka

Kita bukan penduduk bumi,
kita penduduk syurga.
Bumi hanyalah perjalanan.
Kembalilah ke rumah..