Mengapa kadang ada orang yang ngeyel kalau dinasehati?

Jawabannya, nasihat kadang tidak masuk, salah satunya adalah karena dalil yang digunakan tidak disepakati oleh yang memberi nasihat dan yang diberi nasihat.

Untuk kasus seperti ini, yang tidak benar adalah yang memberi nasihat, karena dia tidak bisa membedakan mana dalil yang disepakati dan mana dalil yang tidak disepakati.

Misal, mana dalil dari qur’an, dan mana dalil ijtihad ulama.

Imam Malik pernah diminta oleh khalifah al-Mansyur untuk membuat sebuah buku kumpulan fatwanya, lalu imam Malik membuatnya, itulah buku Al-Muwattha.

Tapi lalu khalifah berinisiatif untuk memperbanyak buku itu, dan menyebarkannya ke seluruh negeri, dan akan menjadikan buku tsb sebagai madzhab khalifah.

Lalu Imam Malik menolak inisiatif tsb.

Alasannya, para shahabat nabi sudah menyebar ke seluruh negeri, dan masing2 sudah membawa pendapat masing2, dan masyarakat sudah memegang pendapat yang mungkin berbeda2 itu.

Maka Imam Malik berpendapat, memaksakan ijtihadnya kepada seluruh ummat islam adalah satu hal yang tidak baik.

👆Ini Imam Malik, yang bisa membedakan mana dalil yang disepakati dan mana yang tidak.

Kisah Imam Malik ada pada link berikut (arabic):

الكتب – كشف المغطا في فضل الموطا لابن عساكر
http://library.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?hflag=1&bk_no=808&pid=856425

👆Keutamaan kitab Al-Muwattha, karangan Ibnu ‘Asakir.

Dan kalau kita mau jujur, hadits perpecahan ummat yang menyebutkan bahwa ummat islam akan terbagi menjadi 73 golongan, sebagian ulama berbeda pendapat mengenai keshahihan hadits ini, terutama pada kalimat “semua akan masuk neraka, kecuali satu golongan”. Karena sebagian hadits tidak menyebutkan kalimat ini.

Orang yang mengikuti satu pendapat mengenai hadits ini👆, dan merasa bahwa pendapatnya itulah yang paling benar, lalu dia menasihati orang lain dengan merasa bahwa dia sudah menasihati berdasarkan kebenaran yang datang dari Allah, maka berarti dia tidak bisa membedakan mana dalil yang datang dari Allah, dan mana dalil hasil ijtihad ulama.

Demikian juga dengan masalah Bid’ah hasanah, Ada banyak ulama yang berbeda pendapat dalam memahami hal ini. Maka orang yang mengikuti satu pendapat mengenai masalah ini, dan merasa bahwa pendapatnya itulah yang paling benar, lalu dia menasihati orang lain dengan merasa bahwa dia sudah menasihati berdasarkan kebenaran yang datang dari Allah, maka berarti dia tidak bisa membedakan mana dalil yang datang dari Allah, dan mana dalil hasil ijtihad ulama.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah Imam Malik di atas.
Aamiin.

Benarkah Islam Kita?

image

Kita sering membahas tema bid’ah? Kita memahami dengan detil apa itu bid’ah?
Kalau jawabannya adalah benar, mari kita jawab pertanyaan berikutnya, apa kita tahu apa isi surat Al-Lail tanpa buka buku lagi? Apa kita tahu apa isi surat As-Syams tanpa buka buku lagi? Apa kita tahu mengapa namanya adalah surat Al-Lail dan As-Syams?

Kalau kita tidak bisa menjawab pertanyaan tentang juz’amma ini, maka marilah kita introspeksi diri. Mengapa kita lebih sibuk membahas tema bid’ah daripada membahas juz’amma? Dan mengapa kita diarahkan untuk sibuk membahas tema bid’ah sementara pada saat yang sama kita tidak diarahkan untuk kembali pada Al-Qur’an kita?

Islam yang benar adalah Islam yang menomorsatukan Al-Qur’an, setelah itu hadits, dan setelah itu baru yang lainnya. Janganlah kita tertipu dengan kata-kata indah “manhaj salaf” atau lainnya, kalau pada kenyataannya kita hanya disibukkan dengan hadits-hadits saja dan tidak diarahkan untuk kembali pada Al-Qur’an kita meskipun kita sudah bertahun-tahun mengaji.

Semoga Allah memberi petunjuk pada kita semua.
Aamin.

Dibalik segala sesuatu

🌵🍄🌵🍄🌵🍄🌵🍄🌵🍄🌵 Copas dari teman unt oleh2 sblm libur……. mdh2 an betmanfaat:

Sebuah kapal pesiar mengalami kecelakaan di laut dan akan segera tenggelam. Sepasang suami istri berlari menuju ke skoci untuk menyelamatkan diri. Sampai di sana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa. Segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu. Sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum skoci menjauh dan kapal itu benar-benar menenggelamkannya.

Guru yang menceritakan kisah ini bertanya pada murid-muridnya, “Menurut kalian, apa yang istri itu teriakkan?”

Sebagian besar murid-murid itu menjawab, “Aku benci kamu!” “Kamu tau aku buta!!” “Kamu egois!” “Nggak tau malu!”

Tapi guru itu kemudian menyadari ada seorang murid yang diam saja. Guru itu meminta murid yang diam saja itu menjawab.  Kata si murid, “Guru, saya yakin si istri pasti berteriak, ‘Tolong jaga anak kita baik-baik’”.

Guru itu terkejut dan bertanya, “Apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya?”

Murid itu menggeleng. “Belum. Tapi itu yang dikatakan oleh mama saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.”

Guru itu menatap seluruh kelas dan berkata, “Jawaban ini benar.”

Kapal itu kemudian benar-benar tenggelam dan sang suami membawa pulang anak mereka sendirian.

Bertahun-tahun kemudian setelah sang suami meninggal, anak itu menemukan buku harian ayahnya. Di sana dia menemukan kenyataan bahwa, saat orangtuanya  naik kapal pesiar itu, mereka sudah mengetahui bahwa sang ibu menderita penyakit kronis dan akan segera meninggal. Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup.  Dia menulis di buku harian itu, “Betapa aku berharap untuk mati di bawah laut bersama denganmu. Tapi demi anak kita, aku harus membiarkan kamu tenggelam sendirian untuk selamanya di bawah sana.”

Cerita itu selesai. Dan seluruh kelas pun terdiam.

Guru itu tahu bahwa murid-murid sekarang mengerti moral dari cerita tersebut, bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yang kita sering pikirkan. Ada berbagai macam komplikasi dan alasan di baliknya yang kadang sulit dimengerti.

Karena itulah kita seharusnya jangan pernah melihat hanya di luar dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa-apa.

Mereka yang sering membayar untuk orang lain, mungkin bukan berarti mereka kaya, tapi karena mereka menghargai hubungan daripada uang.

Mereka yang bekerja tanpa ada yang menyuruh, mungkin bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka menghargai konsep tanggung jawab.

Mereka yang minta maaf duluan setelah bertengkar,  mungkin bukan karena mereka bersalah, tapi karena mereka menghargai orang lain.

Mereka yang mengulurkan tangan untuk menolongmu, mungkin bukan karena mereka merasa berhutang, tapi karena menganggap kamu adalah sahabat.

Mereka yang sering mengontakmu, mungkin bukan karena mereka tidak punya kesibukan, tapi karena kamu ada di dalam hatinya.
🌵🍄🌵🍄🌵🍄🌵🍄🌵🍄🌵