Di mana Allah?

Rangkuman pendapat para ulama mengenai pertanyaan: “Di mana Allah?”

Semoga bisa menambah ilmu kita, dan menambah keimanan kita.

Silakan click gambar di bawah agar bisa tampil lebih besar.

Tabel perbandingan pendapat tentang pertanyaan "Di mana Allah?"

Tabel perbandingan pendapat tentang pertanyaan “Di mana Allah?”

Note: Kalau disebutkan bahwa imam empat madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad) berpendapat bahwa Allah ber-istiwa’ di atas ‘Arsy, maka ini adalah benar. Tapi para imam ini tidak mau menyimpulkan bahwa secara hakikat Allah benar-benar berada di atas ‘Arsy. Inilah titik perbedaan antara empat imam ini (yang berada di kelompok satu) dengan Ibnu Taimiyah (yang berada di kelompok tiga) yang meyakini bahwa secara hakikat Allah benar-benar berada di atas ‘Arsy. Inilah perbedaan antara Tafwidh (menyerahkan makna hakikatnya kepada Allah) dengan Tatsbit (meng-itsbat-kan atau menetapkan maknanya sesuai arti tekstualnya atau arti literalnya). Satu lagi, yang cukup krusial mungkin adalah Imam Abu Hasan Al-Asy’ari yang merupakan imam terbesar dalam  masalah aqidah, yang pendapatnya dipegang oleh  mayoritas ulama dari dulu sampai sekarang. Ada yang menyebutkan bahwa beliau sudah kembali pada madzhab salaf. Kalaupun ini benar, maka maksudnya adalah kembali pada pemahaman imam empat madzhab (yang ada di kelompok satu) dan bukan kembali pada pendapat ibnu Taimiyah (yang berada di kelompok tiga). Wallahu A’lam.   — Screenshot dari buku sumber:

Cover Buku

Cover Buku

Tafwidh adalah pendapat para imam Madzhab. Inilah pendapat Salaf.

Pendapat pertama: yaitu pendapat Madzhab Salaf (Tafwidh).

Madzhab Salaf tidak memahami sifat Allah secara tekstual (literal).

Madzhab Salaf tidak memahami sifat Allah secara tekstual (literal).

Madzhab Salaf tidak memahami sifat Allah secara tekstual (literal). Inilah titik perbedaan antara madzhab Salaf dan pendapat Ibnu Taimiyah. Inilah perbedaan antara tafwidh yang menyerahkan makna sifat Allah kepada Allah dengan tatsbit yang memaknai sifat Allah secara tekstual (literal).

Imam Ahmad pun menggunakan metode Tafwidh. Ini berbeda dengan Ibnu Taimiyah yang menggunakan metode Tatsbit.

Imam Ahmad pun menggunakan metode Tafwidh. Ini berbeda dengan Ibnu Taimiyah yang menggunakan metode Tatsbit.

Pendapat kedua adalah Tafwidh. Inilah pendapat mayoritas ulama. Inilah pendapat kaum Asy'ari.

Pendapat kedua adalah Ta’wil. Inilah pendapat mayoritas ulama. Inilah pendapat kaum Asy’ari.

Pendapat ketiga adalah Tatsbit. Tapi pendapat ini sulit difahami, dan riskan untuk jatuh pada Tasybih (menyamakan Allah dengan makhluk-Nya)

Pendapat ketiga adalah Tatsbit. Tapi pendapat ini sulit difahami, dan riskan untuk jatuh pada Tasybih (menyamakan Allah dengan makhluk-Nya)

Contoh Tatsbit yang salah adalah mengatakan bahwa Allah ada di langit, atau mengatakan bahwa Allah ada di atas ‘Arsy, atau mengatakan bahwa Allah memiliki tangan.

Pendapat ke-empat adalah Tasybih, yaitu menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Ini adalah pendapat yang salah.

Pendapat ke-empat adalah Tasybih, yaitu menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Ini adalah pendapat yang salah.Sebagian ulama Hambali terjerumus dalam pemahaman  yang salah ini. Ini menurut Ibnul Jauzi rahimahullah.

Advertisements

2 thoughts on “Di mana Allah?

  1. Pingback: Tangan Allah | Blog of Isa Ismet Khumaedi

  2. Pingback: Di mana Allah? | Blog of Isa Ismet Khumaedi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s