Imam At-Thabari Yang Terdzalimi

Siapa yang tak kenal Tafsir At-Thabari? Iya, sebuah kitab tafsir yang cukup terkenal yang dikarang oleh Imam Muhammad bin Jarir Abu Ja’far at-Thabari (w. 310 H).

Sebelum menulis kitab tersebut, diceritakan bahwa beliau melakukan shalat istikharah dahulu selama 3 tahun, beliau meminta pertolongan kepada Allah agar dimudahkan dalam penulisannya. Maka, tak heran kitab itu menjadi salah satu rujukan tafsir yang terpercaya.

Sebenarnya nama kitab tafsir beliau adalah Jami’ al-Bayan an Ta’wil Ayi al-Qur’an, orang lebih mengenalnya dengan tafsir at-Thabari (Syamsuddin ad-Dzahabi w. 748 H, Siyaru A’lam an-Nubala’, hal. 11/ 168).
Imam Ibn Katsir ad-Dimasyqi (w. 774 H) menuliskan bahwa Ibnu Jarir selama 40 tahun, setiap harinya beliau menulis 40 halaman buku. Kira-kira sudah berapa halaman yang beliau tulis selama itu. (Ismail ibn Katsir w. 774 H, al-Bidayah wa an-Nihayah, hal. 11/ 165).

Selain kitab tafsir tadi, beliau menulis banyak kitab lain, diantaranya: kitab Tahdzib al-Atsar, Tarikh at-Thabari atau yang yang bernama Tarikh ar-Rusul wa al-Anbiya’ wa al-Muluk wa al-Khulafa’, dll. Ibnu Jarir Didzalimi

Meski beliau seorang ulama yang diakui oleh hampir setiap generasi muslim, kitabnya selalu dibaca oleh semua kalangan sampai sekarang, ternyata ada kisah memilukan di balik kehidupan beliau. Bahkan sampai beliau wafat.

Didzalimi

Siapa yang mendzalimi beliau?

Mari kita baca ceritanya perlahan-lahan. Ibnu Katsir (w. 774 H) menyitir perkataan Abu Bakar bin Huzaimah (w. 311 H) ketika berkomentar tentang Ibnu Jarir ini:

ما أعلم على أديم الأرض أعلم من ابن جرير، ولقد ظلمته الحنابلة

Saya tak pernah temui di bumi ini orang yang lebih alim dari Ibn Jarir, sayangnya beliau didzalimi oleh Hanabilah. (Ismail ibn Katsir w. 774 H, al-Bidayah wa an-Nihayah, hal. 11/ 166, Syamsuddin ad-Dzahabi w. 748 H, Siyaru A’lam an-Nubala’, hal. 11/ 168).

Iya, beliau didzalimi oleh “oknum” di zamannya. Oknum dari para pengikut madzhab Hanbali. Bahkan sampai akhir hayat beliau.

Perlu dicatat, ini bukan pengikut Hanbali abad ini ya, tapi pengikut Hanbali di abad ke-4 Hijriyyah. Jika ada kesamaan kasus dan pelaku serta ide dengan zaman sekarang, bisa jadi itu hanya kebetulan belaka. Ibnu Jarir dituduh Rafidhah dan Ilhad

وادعوا عليه الرفض، ثم ادعوا عليه الإلحاد

Mereka menuduh Ibnu Jarir sebagai Rafidhah, lalu menuduhnya dengan ilhad (atheis). (Izzuddin bin al-Atsir w. 630 H, al-Kamil fi at-Tarikh, hal. 6/ 677)

Sungguh tuduhan yang cukup serius, Ibnu Jarir dituduh sebagai syiah rafidhah dan ilhad (atheis). Jadi tuduh-menuduh orang lain, meski orang lain itu sudah level ulama besarpun sudah ada sejak zaman dahulu. Jika sekarang kok masih ada yang suka menuduh-nuduh orang lain yang tidak sealiran dengan tuduhan yang hampir-hampir mirip, ya tidak usah kaget.

Tapi apakah tuduhan kepada Ibnu Jarir itu benar dan terbukti?

Dilarang Mengajar

Ternyata tuduhan itu tak hanya berhenti hanya tuduhan belaka. Selain dituduh, Imam Ibnu Jarir juga diboikot untuk mengajar. Hal ini sebagaimana yang ditulis oleh Imam Ibn Katsir (w. 774 H), Imam Syihabuddin ar-Rumi (w. 626 H), dan Imam ad-Dzahabi (w. 748 H).

لأن الحنابلة كانوا يمنعون أن يجتمع به أحد

Para pengikut Hanabilah melarang orang-orang untuk berkumpul dangan Imam Ibn Jarir(Ismail ibn Katsir w. 774 H, al-Bidayah wa an-Nihayah, hal. 11/ 166).

ولقد ظلمته الحنابلة؛ قال: وكانت الحنابلة تمنع [منه] ولا تترك أحدا يسمع عليه

Para Hanabilah telah mendzalimi Imam Ibn Jarir (w. 310 H). Mereka melarang orang-orang untuk ngaji kepadanya, bahkan tak membiarkan satupun mendengarkan Imam Ibn Jarir.(Syihabuddin ar-Rumi al-Hamawi w. 626 H, Mu’jam al-Udaba’, hal. 6/ 2443)

وكانت الحنابلة تمنع من الدخول عليه

Hanabilah melarang orang untuk masuk ikut ngaji kepada Imam Ibnu Jarir Thabari.(Syamsuddin ad-Dzahabi w. 748 H, Siyaru A’lam an-Nubala’, hal. 11/ 168).

Tentu sungguh hal yang kurang baik, kenapa sampai orang mau mengaji ke beliau saja dilarang.

Dikubur di Dalam Rumah

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa beliau wafat di usia 85 atau 86 tahun. Sampai wafat pun, para Hanabilah itu masih saja memboikot Imam Ibn Jarir. Sampai untuk dikubur siang hari saja dilarang.

Akhirnya, Imam Ibn Jarir at-Thabari dikuburkan di dalam rumahnya sendiri. (Ismail ibn Katsir w. 774 H, al-Bidayah wa an-Nihayah, hal. 11/ 166)

ودفن في داره لأن بعض عوام الحنابلة ورعاعهم منعوا دفنه نهارا ونسبوه إلى الرفض، ومن الجلهة من رماه بلالحاد، وحاشاه من ذلك كله

Imam Ibn Jarir at-Thabari dikuburkan di dalam rumahnya. Hal itu karena kaum awam dan kaum rendahannya Hanabilah mencegah pengkuburan Imam Ibn Jarir di siang hari. Mereka menuduh Imam Ibn Jarir at-Thabari sebagai Syiah Rafidhah, bahkan ada yang sampai menuduh atheis. Tapi itu semua tidaklah benar.(Ismail ibn Katsir w. 774 H, al-Bidayah wa an-Nihayah, hal. 11/ 166).

Ulama sekelas Ibnu Jarir at-Thabari (w. 310 H) saja dituduh macam-macam, dilarang mengajar, diteror dengan dilempari rumahnya dengan batu. Sampai wafatpun untuk dikubur siang hari, masih saja dilarang. Beginikah sikap orang muslim terhadap ulama’ yang berbeda pendapat?

Sebagaimana yang diungkap oleh Imam Ibn Katsir (w. 774 H), bahwa semua tuduhan itu tidaklah benar. Hasyahu min dzalika kullihi. Hanabilah Dipimpin oleh Muhammad bin Daud al-Faqih ad-Dzahiri

Setiap gerakan awam, biasanya ada tokoh ahli yang menjadi otaknya. Begitu juga dengan gerakan tuduhan dan boikot Imam Ibn Jarir at-Thabari. Ada tokoh intelektual dibalik itu. Imam Ibn Katsir (w. 774 H) menyebutkan:

وإنما تقلدوا ذلك عن أبي بكر محمد بن داود الفقيه الظاهري، حيث كان يتكلم فيه ويرميه بالعظائم وبالرفض.

Mereka taklid kepada apa yang dikatakan oleh Abu Bakar Muhammad bin Daud al-Faqih ad-Dzahiri. (Ismail ibn Katsir w. 774 H, al-Bidayah wa an-Nihayah, hal. 11/ 167).

Adapun Imam ad-Dzahabi (w. 748 H) menyebutkan:

وكانت الحنابلة حزب أبي بكر بن أبي داود. فكثروا وشغبوا على ابن جرير. وناله أذى، ولزم بيته، نعوذ بالله من الهوى

Hanabilah saat itu adalah kelompok dari Abu Bakar bin Abu Daud. (Syamsuddin ad-Dzahabi w. 748 H, Siyaru A’lam an-Nubala’, hal. 11/ 171).

Sebenarnya disini disebutkan ada dua nama pemimpin para Hanabilah yang memboikot Imam Ibn Jarir at-Thabari saat itu; Abu Bakar Muhammad bin Daud al-Faqih ad-Dzahiri dan Abu Bakar bin Abu Daud. Hampir mirip tetapi sebenarnya itu dua nama yang berbeda orangnya. Entah mana yang benar, saya sendiri belum bisa men-tahqiq-nya.

Orang pertama, adalah Abu Bakar Muhammad bin Daud al-Faqih ad-Dzahiri (255 H- 297 H), sebagaimana yang ditulis oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, hal. 11/ 167. Beliau adalah anak dari Imam Daud ad-Dzahiri (w. 270 H). Beliau memiliki kitab al-Intishar min Muhammad bin Jarir at-Thabari.

Sedangkan orang kedua, adalah Abu Bakar bin Abu Daud (230- 316 H), sebagaimana ditulis oleh Imam ad-Dzahabi dalam Siyaru A’lam an-Nubala’, hal. 11/ 171. Beliau adalah Abdullah bin Sulaiman Asy’ats as-Sajistani, anak dari Imam Abu Daud (w. 275 H) pengarang kitab Sunan Abi Daud.

Abu Bakar Muhammad bin Daud al-Faqih ad-Dzahiri kan dari madzhab Dzahiri? Kenapa bisa bermain dan menjadi pemimpin gerakan Hanabilah di zaman itu? Entah Dzahiri yang menunggangi Hanabilah, atau memang Hanabilah saat itu mirip-mirip dengan Dzahiri. Atau memang Dzahiri itu tak jauh beda dengan Hanabilah? Memang kita kadang susah membedakan.

Namanya saja tuduhan, bisa jadi benar tapi bisa salah. Sebagaimana yang diungkap oleh Imam Ibn Katsir (w. 774 H), semua tuduhan itu tidaklah benar. Hasyahu min dzalika kullihi. Tapi kira-kira apa yang melatar belakangi tuduhan-tuduhan itu? Paling tidak ada beberapa hal:

1. Tidak Memasukkan Imam Ahmad Sebagai Fuqaha

Imam Ibn Jarir at-Thabari (w. 310 H) tidak memasukkan Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) sebagai Faqih dalam bukunya “Ikhtilaf al-Fuqaha’”, tetapi hanya sebagai muhaddits saja.

Imam Ibn Jarir at-Thabari (w. 310 H) pernah berkata:

أما أحمد بن حنبل فلا يعدّ خلافه

Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) tidak dianggap ketika pendapat beliau bertentangan dengan lainnya.(Syihabuddin ar-Rumi al-Hamawi w. 626 H, Mu’jam al-Udaba’, hal. 6/ 2450)

Gara-gara tidak menganggap Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) sebagai faqih, para pengikut madzhab hanbali marah dan tidak terima.

وقصده الحنابلة فسألوه عن أحمد بن حنبل في الجامع يوم الجمعة، وعن حديث الجلوس على العرش، فقال أبو جعفر: أما أحمد بن حنبل فلا يعدّ خلافه، فقالوا له: فقد ذكره العلماء في الاختلاف، فقال: ما رأيته روي عنه، ولا رأيت له أصحابا يعوّل عليهم، وأما حديث الجلوس على العرش فمحال، ثم أنشد:

سبحان من ليس له أنيس … ولا له في عرشه جليس

فلما سمع ذلك الحنابلة منه وأصحاب الحديث وثبوا ورموه بمحابرهم، وقيل كانت ألوفا، فقام أبو جعفر بنفسه ودخل داره، فرموا داره بالحجارة حتى صار على بابه كالتلّ العظيم

….Suatu ketika hari jum’at para Hanabilah mendatangi Imam Ibnu Jarir ke masjidnya. Mereka bertanya tentang Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) dan tentang hadits duduknya Allah diatas arsy. Imam Ibn Jarir menjawab: Imam Ahmad bin Hanbal itu tidak diperhitungkan ketika beliau berbeda dengan ulama lain.

Ketika pengikut Hanabilah dan Ashab al-Hadits mendengar hal itu, mereka melangkah maju dan melemparinya. Lalu Imam Abu Ja’far at-Thabari (w. 310 H) berdiri dan melangkah pulang, lalu masuk ke rumahnya.

Setelah masuk ke rumah, ternyata para Hanabilah tadi masih saja melempari rumah Imam Ibn Jarir at-Thabari dengan batu.(Syihabuddin ar-Rumi al-Hamawi w. 626 H, Mu’jam al-Udaba’, hal. 6/ 2450)

Rumahnya salah seorang ulama yang kita baca dan akui karyanya sampai saat ini, pernah mendapatkan teror lemparan batu dari sekelompok orang yang menganggap pendapatnya selalu benar dan pendapat orang lain pasti salah.Na’udzubillahi min al-hawa.

2. Hadits Ghadir Khum

Hadits Ghadir Khum adalah hadits yang menjadi perdebatan antara Sunni dan Syiah akan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Syiah memakai hadits itu untuk pembenaran hak ali dalam menjadi khalifah. Meski Ahlu as-Sunnah tidak memaknai hadits Ghadir Khum sebagai pembenar atas hak Ali atas khalifah.
Perlu dicatat, menshahihkan hadits Ghadir Khum tidak lantas menjadikan seseorang itu terindikasi Syiah. Sayangnya, para Hanabilah saat itu dengan mudah menuduh orang lain bahkan selevel ulama Imam Ibnu Jarir at-Thabari (w. 310 H) sebagai syiah, rafidhah bahkan ilhad hanya gara-gara menulis buku yang menshahihkan hadits Ghadir Khum.

Ad-Dzahabi (w. 748 H) berkata:

جمع طرق حديث: غدير خم، في أربعة أجزاء، رأيت شطره، فبهرني سعة رواياته، وجزمت بوقوع ذلك

Imam Ibn Jarir mengumpulkan semua jalur hadits Ghadir Khum dalam 4 jilid. Saya (ad-Dzahabi) baru melihat sebagiannya, dari situ saja saya bisa simpulkan keluasan ilmu beliau, sampai saya yakin bahwa kejadian itu memang terjadi. (Syamsuddin ad-Dzahabi w. 748 H, Siyaru A’lam an-Nubala’, hal. 11/ 171)

3. Fatwa Berbeda

Ketiganya mungkin karena Imam Ibnu Jarir at-Thabari itu menampilkan dan berfatwa dengan madzhab Syafi’i, ketika berada di Baghdad yang kebanyakan masyarakatnya saat itu bermadzhab Hanbali.

Tentu Ibnu Jarir at-Thabari (w. 310 H) bukan orang yang bodoh dalam menentukan pilihan pendapatnya. Keilmuan beliau telah diakui oleh hampir semua ulama di setiap generasi. Meski beliau juga bukan maksum yang semua pilihan pendapatnya adalah benar. Tapi disinilah kita penting belajar bagaimana sikap ketika berbeda pendapat. Dishalati Banyak Orang Sekian Lama

Meski telah terjadi boikot sampai wafatnya Imam Ibnu Jarir at-Thabari (w. 310 H), banyak kaum muslimin yang datang untuk menshalati jenazah beliau. Bahkan sampai berbulan-bulan setelah itu, masih banyak orang yang datang untuk menshalatkan beliau. Ibnu Katsir (w. 774 H) menyebutkan:

ولما توفي اجتمع الناس من سائر أقطار بغداد وصلوا عليه بداره ودفن بها، ومكث الناس يترددون إلى قبره شهروا يصلون عليه

Kaum muslimin dari segala penjuru Baghdad datang ke rumah Imam Ibnu Jarir, mereka menshalatkannya di rumah dimana beliau dimakamkan. (Ismail ibn Katsir w. 774 H, al-Bidayah wa an-Nihayah, hal. 11/ 167).

Imam Syihabuddin ar-Rumi al-Hamawi w. 626 H menyebutkan:

وصلي على قبره عدة شهور ليلا ونهارا

Kubur Imam Ibn Jarir at-Thabari (w. 310 H) dishalati sampai berbulan-bulan, siang dan malam.(Syihabuddin ar-Rumi al-Hamawi w. 626 H, Mu’jam al-Udaba’, hal. 6/ 2441).

Ada 2 Abu Ja’far Ibnu Jarir; Salah satunya Tokoh Syiah. Dalam literatur sejarah ulama, akan kita temukan dua nama Abu Ja’far ibn Jarir at-Thabari yang hampir mirip. Salah satunya adalah tokoh Syiah Rafidhah. Tapi dalam kisah diatas, bukan Ibnu Jarir yang Syiah Rafidhah yang mendapat boikot oleh Hanabilah. Imam Abu Ja’far at-Thabari as-Syi’iy (w. 411 H)

Ada satu nama yang hampir mirip dengan Imam Abu Ja’far at-Thabari yang sedang kita bicarakan tadi. Bedanya dia adalah seorang syiah Rafidhah, namanya Muhammad bin Jarir bin Rustum Abu Ja’far at-Thabari. Dia mengarang kitab: ar-Ruwat an Ahli al-Bait, al-Mustarsyid fi al-Imamah. Ada yang mengatakan dia adalah ulama’nya Syiah Imamiyyah.

Agar tidak keliru, Imam ad-Dzahabi (w. 748 H) menuliskan biografi Abu Ja’far at-Thabari as-Syi’i ini langsung setelah menuliskan biografinya Imam Abu Ja’far at-Thabari (w. 310 H). (Syamsuddin ad-Dzahabi w. 748 H, Siyaru A’lam an-Nubala’, hal. 11/ 175) Imam Abu Ja’far at-Thabari (w. 310 H) Mujtahid Muthlak Bermadzhab Syafi’i

Imam Tajuddin as-Subki (w. 771 H) mengatakan bahwa Imam Abu Ja’far at-Thabari (w. 310 H) adalah mujtahid muthlak. Meski begitu, beliau memasukkan Imam Abu Ja’far dalam Thabaqat as-Syafi’iyyah. Sebagaimana juga Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) juga memasukkan beliau kedalam kitab Thabaqat as-Syafi’iyyin, dan juga Imam Taqiyuddin bin Qadhi Syuhbah memasukkan beliau kedalam kitabnya Thabaqat as-Syafi’iyyah. Suatu ketika Imam Abu Ja’far at-Thabari (w. 310 H) pernah berkata:

أظهرت فقه الشافعى وأفتيت بِهِ بِبَغْدَاد عشر سِنِين

Saya memperlihatkan Fiqih Syafi’i dan juga berfatwa dengannya di Baghdad selama 10 tahun.(Tajuddin as-Subki w. 771 H, Thabaqat as-Syafi’iyyah al-Kubra, hal. 3/ 120)

Bermadzhab, Taklid dan Ta’asshub

Ada tiga kata yang setidaknya sekarang ada yang salah paham. Adakalanya salah paham atau memang tahu salah tapi tidak paham-paham. Atau malah sebenarnya salah tapi sok paham, yaitu antara bermadzhab, taklid dan ta’asshub. Ketiga hal ini disamakan. Kadang memandang rendah orang yang bermadzhab, atau orang yang menyampaikan hukum dari sudut pandang ulama mujtahid madzhab.

Seolah digiring asumsi bahwa perpecahan umat Islam itu sebabnya ta’ashub. Ta’ashub itu sebabnya karena taklid. Taklid itu karena mengikuti madzhab. Bermadzhab itu mengikuti pendapat manusia saja dan tidak mengikuti dalil al-Qur’an dan Hadits. Memang ada yang seperti itu? Ada. Siapa orangnya? Tidak usahlah disebutkan.

Mudahnya seperti ini: Bermadzhab itu tidak mesti harus taklid. Sebagai bukti, meski Imam Ibn Jarir at-Thabari (w. 310 H), Imam Al-Hafidz Ibnu Huzaimah as-Syafi’iy (w. 311 H), Ahmad bin Husain al-Baihaqi as-Syafi’iy (w. 458 H), Al-Hafidz Ibn Asakir as-Syafi’iy (w. 571 H), Al-Hafidz Ibnu Katsir as-Syafi’iy (w. 752 H), Al-Hafidz Ibnu Katsir as-Syafi’iy (w. 752 H), al-Hafidz an-Nawawi as-Syafi’iy (w. 676 H) adalah ulama yang sudah mencapai level mujtahid, tapi mereka tetap bermadzhab Syafi’i.

Selanjutnya, bertaklid itu tidak mesti harus ta’ashub. Bagi orang awam yang belum mempunyai cukup ilmu untuk menggali hukum sendiri dari al-Qur’an dan Hadits, maka seharusnya bertanya kepada orang lain yang lebih tau. Hanya taklid buta yang para ulama melarangnya. Taklid buta inilah yang sering disebut dengan ta’ashub.

Ta’ashub inilah yang menjadi latar belakang gerakan Hanabilah saat itu untuk memboikot Imam Abu Ja’far at-Thabari (w. 310 H) untuk sekedar menyebarkan ilmunya. Karena dianggap ilmu dari Imam Abu Ja’far ini tidak benar, yang benar hanya dari kelompoknya saja.

Memang butuh keluasan ilmu dan kelapangan dada dalam hal ijtihad untuk sekedar mengucapkan:

رأيي صواب يحتمل الخطأ، ورأي غيري خطأ يحتمل الصواب

Pendapatku benar tapi ada kemungkinan salah, pendapat selainku adalah salah tapi ada kemungkinan benar

Hanif Luthfi, Lc

Sumber:
http://www.rumahfiqih.com/fikrah/x.php?id=300&=imam-at-thabari-yang-terdzalimi
http://www.rumahfiqih.com/fikrah/x.php?id=301&=kenapa-imam-at-thabari-didzalimi-%28bag-2%29.htm

Kesimpulan:
Dalam kelompok Hanabilah ada “oknum”.
Ciri-ciri mereka:
1. Sering menyebut-nyebut nama Imam Ahmad (karena mereka ngaku-nya adalah murid-murid imam Ahmad)
2. Sering menuduh orang lain sebagai syiah.
3. Gemar membahas hal-hal yang berkaitan dengan sifat-sifat fisik Allah, seperti tangan Allah, Allah berdiam di ‘Arsy, atau lainnya.

wallahu a’lam

Advertisements

One thought on “Imam At-Thabari Yang Terdzalimi

  1. Pingback: Bencana Mujassimah | Blog of Isa Ismet Khumaedi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s