Pengajian, kita mau dibawa ke mana?

Hari ini saya mendapat informasi pengajian dari sebuah aliran yang katanya “mengikuti manhaj salaf”. Isinya kajian hadits ini, kajian hadits itu, kajian kitab hadits ini, kajian kitab hadits itu, dll.
Dalam hati saya berfikir, kenapa kok cuma hadits yang dibahas?

Ternyata kecenderungannya memang seperti itu.

Yang dominan dibahas adalah hadits, hadits dan hadits.

Padahal Al-Qur’an adalah pedoman hidup kita.
Padahal Al-Qur’an banyak berbicara tentang kelembutan hati, sedangkan hadits banyak berbicara tentang benar salah atau tata cara.

Keberadaan kelembutan hati di dalam Al-Qur’an dan tata cara ibadah di dalam hadits adalah petunjuk bahwa kelembutan hati itu lebih penting daripada tata cara ibadah.

Meskipun bukan berarti tata cara ibadah bisa kita abaikan begitu saja.
Tapi sebelum membahas tata cara, sebaiknya kita bahas yang lebih penting dulu,
yaitu mengenai kelembutan hati.

Tapi sekarang sepertinya terbalik.
Akibatnya, kita sibuk meributkan benar salah atau meributkan tata cara ibadah saja.
Sementara pada saat yang sama kita masih buta dengan Al-Qur’an.

Inikah bentuk pengajian yang benar? Yang porsi Al-Qur’annya tidak ada atau sedikit sekali, sedangkan sisanya didominasi oleh kajian hadits saja?
Seperti inikah islam yang dulu diajarkan oleh Nabi kita?
Menomorsatukan hadits dan menomorsekian-kan Al-Qur’an?

Kita semua pasti sudah tahu jawabannya,
bukan seperti itulah islam yang benar.

Yang sangat disayangkan, sekarang banyak orang yang tidak tahu.

Sekarang banyak anak muda yang tidak mengerti apa isi surat Al-Lail, tapi sudah dijejali hadits tentang perpecahan ummat, lalu menyalahkan sana sini.

Sekarang banyak anak muda yang tidak mengerti apa isi surat Ath-Thooriq, tapi sudah dijejali hadits tentang Isbal.

Sekarang banyak anak muda yang tidak mengerti apa isi surat Asy-Syams tapi sudah dijejali hadits tentang ini bid’ah dan itu bid’ah.

Itu realita saat ini.

Maka pertanyaannya, sebenarnya, kita mau dibawa ke mana?

Kalau kita mau dibawa ke arah yang benar, seharusnya Al-Qur’an yang lebih dulu kita pelajari, setelah itu baru hadits dan yang lainnya.

وَقَالَ ٱلرَّسُولُ يَـٰرَبِّ إِنَّ قَوۡمِى ٱتَّخَذُواْ هَـٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ مَهۡجُورً۬ا

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan”. (QS. Al-Furqon, ayat 30)

Please share.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s