Sholat hanya charger

Apakah yang namanya ibadah itu hanya ibadah ritual saja, seperti sholat?
Ini tidak benar.

Ibadah bukanlah hal-hal yang ritual saja.
Ibadah adalah menerapkan semua perintah Allah dalam kehidupan kita, 24 jam sehari.
Maka, makan kita, minum kita, cara bicara kita, kejujuran kita, kesungguhan kita dalam mengerjakan tugas,
senyum kita, keinginan kita untuk selalu membantu orang lain, atau lainnya,
adalah hal-hal yang akan menunjukkan apakah kita sudah beribadah dengan benar atau belum.

Ibarat handphone,
saat baterainya hampir habis, bisa di-charge ulang dengan menggunakan charger,
dan setelah itu siap beroperasi lagi dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Seperti itulah seharusnya ibadah ritual kita, terutama sholat kita, seharusnya bisa memberi efek pada kehidupan kita,
agar kita tetap teguh dalam menjalankan semua ibadah lainnya di luar ibadah ritual kita.
Kalau efek itu belum ada, atau kita belum bisa merasakan efek itu,
maka itu berarti kita sudah melewatkan kesempatan untuk men-charge baterai keimanan kita setiap kali kita sholat.

Maka, mari kita lihat lagi sholat kita,
karena sholat yang benar, adalah sholat yang bisa mewarnai kehidupan kita.
Dan sholat yang tidak benar, adalah sholat yang tidak bisa mewarnai kehidupan kita.

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
(QS. Al-Maa’uun, ayat 4-7)

Sudahkah sholat kita menjadi charger keimanan kita sehingga kita bisa beribadah dalam setiap sisi kehidupan kita?
Dalam kata-kata kita? Dalam sikap kita? Dalam amal-amal sosial kita?
Atau, jangan-jangan sholat kita hanya sebatas kumpulan gerakan-gerakan yang kita sendiri tidak tahu apa artinya?

Mari kita lihat lagi sholat kita.

Katakanlah: sesungguhnya sholatku, ibadatku,  hidupku dan matiku  hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
(QS. Al-An’aam, ayat 162)

Nama adalah harapan dan doa 

Nama kita  bisa jadi sebenarnya adalah harapan dari orang tua kita kepada kita
Dan nama anak kita bisa jadi sebenarnya adalah harapan dari kita kepada anak kita itu. 

Maka, marilah kita lihat nama kita sendiri,apakah harapan yang terkandung di balik nama kita itu?
Dan sudahkah kita memenuhi harapan-harapan itu?
Kalau belum, mari kita usahakan untuk bisa memenuhi harapan itu. 

Serta bagi yang sudah punya anak,marilah kita lihat nama anak-anak kita,harapan apa yang kita sematkan pada nama-nama itu?
Dan apa yang sudah kita lakukan agar harapan itu bisa terwujud? 

Saat ini, banyak orang yang memberi nama bagus pada anak-anaknya, akan tetapi, hanya sedikit yang bisa konsisten dalam mendidik anak-anaknya. 

Maka, mari kita didik anak-anak kita dengan baik dan konsisten, dan itu semua dimulai dengan memberikan nama yang baik. 

Dari Abu Darda’, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian.Maka baguskanlah nama-nama kalian.”(HR. Abu Dawud, shahih menurut Ibnu Hibban)