Doa Sebelum Makan

 اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Allahumma baarik lana fii maa rozaqtanaa waqinaa ‘adzaaban naar.
Ya Allah, berkahilah apa-apa yang telah Engkau berikan kepada kami,
dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka.
(Al-Muwattha Imam Malik, bab Sifat Nabi, kitab no 49, hadits no 1708 arabic)
see: http://sunnah.com/malik/49
Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita sehingga kita bisa menjadi
ahlu sunnah yang berwawasan luas
yang bisa bersikap bijaksana dalam menyikapi apa-apa yang ada di sekitar kita.
Please share.
DoaSebelumMakan

Midnight Sun and Polar Night (Matahari di waktu malam dan Malam di waktu siang)

image

Matahari di waktu malam ?
Malam di waktu siang ?

Kita yang hidup di khatulistiwa, mungkin tidak akan pernah terfikirkan bahwa hal seperti itu ada.

Tapi realitanya, hal seperti itu memang ada.
Ada tempat-tempat di bumi ini, yang Matahari-nya kadang kala tetap bersinar meskipun di tengah malam,
dan yang siang-nya pun tetap gelap seperti malam.

Tempat-tempat itu adalah daerah-daerah yang dekat dengan kutub.

Dalam bahasa Inggris, fenomena ini dikenal dengan nama Midnight Sun dan Polar Night.

Midnight Sun adalah fenomena di mana Matahari tetap bersinar meskipun di tengah malam,
hal ini terjadi karena di tempat itu waktu siang-nya sangat panjang, bahkan lebih panjang dari 24 jam.

Sedang Polar Night adalah fenomena di mana pada jam siang pun ternyata gelap seperti malam,
hal ini terjadi karena di tempat itu waktu malamnya sangat panjang, bahkan lebih panjang dari 24 jam.

Dari dua fenomena ini, harusnya ada banyak hal yang bisa kita ambil sebagai pelajaran.
Dua di antaranya adalah seperti di bawah ini.

Yang pertama
begitu indahnya ciptaan Allah, sampai-sampai apa-apa yang selama ini tidak kita pikirkan ternyata bisa terjadi juga.
Dari sini, seharusnya kita bisa makin yakin bahwa semua hal yang ada dalam alam ini benar-benar ciptaan Allah,
dan semua itu diatur dalam aturan yang sangat indah sekali, oleh Allah yang Maha Agung.

Yang kedua,
Dua fenomena ini adalah dua hal yang bisa kita jelaskan secara mudah, bila kita menggunakan teori Heliocentris,
yaitu teori yang menyebutkan bahwa Bumi-lah yang mengelilingi Matahari.
Bersamaan dengan itu, fenomena ini juga sekaligus menjadi bukti bahwa Bumi memang berputar pada porosnya,
bahwa Bumi memang mengelilingi Matahari, bahwa ada sudut inklinasi pada poros perputaran bumi, dan lain sebagainya.

Meskipun begitu, ada sebagian kaum muslimin yang entah kenapa sampai pada masa modern seperti ini pun
tetap berpegang pada teori Geocentris, yaitu teori yang mengatakan bahwa Matahari-lah yang mengelilingi Bumi.
Dalilnya adalah penafsiran beberapa ayat Al-Qur’an yang menurut mereka mendukung teori Geocentris ini.

Tapi tentu saja, sebaik-baik penafsiran adalah penafsiran yang sesuai dengan realita di lapangan.
Dan dari sini, seharusnya kita bisa memahami bahwa teori Heliocentris (Bumi mengelilingi Matahari) adalah teori yang lebih mendekati kebenaran,
karena teori ini sudah terbukti bisa memprediksi dan menjelaskan banyak fenomena alam, tidak hanya gerhana bulan atau gerhana Matahari,
tapi juga fenomena Midnight Sun dan Polar Night ini.

Meskipun begitu, kepada rekan-rekan tetap berpegang pada teori Geocentris, mari kita hormati pendapat mereka.
Dan janganlah kita meributkan penafsiran dalil-dalil yang mereka pegang.

Jadi, dari pada meributkan dalil-dalil itu, lebih baik kita ajak mereka untuk merenungi fenomena alam ini.
Mari kita ajak mereka untuk bisa memahami, bagaimana bisa terjadi siang dan malam, bagaimana bisa terjadi gerhana Matahari atau gerhana Bulan,
bagaimana waktu satu hari bisa muncul, bagaimana waktu satu bulan bisa muncul, bagaimana waktu satu tahun bisa muncul,
mengapa bisa terjadi musim panas dan musim dingin, dan mengapa bisa terjadi fenomena Midnight Sun dan Polar Night ini.
Dari situ, seharusnya kita bisa menarik kesimpulan, model tata surya seperti apakah yang bisa menghasilkan fenomena itu semua.
Karena sebaik-baik kita bukanlah orang yang hanya sibuk dengan dalil tapi tidak bisa mencocokkannya dengan fenomena alam di sekeliling kita.

Sebaik-baik kita, adalah orang yang bisa mengambil pelajaran dari semua fenomena alam yang ada di sekeliling kita,
dan bisa memahaminya, serta bisa mengkaitkannya dengan kebesaran Allah sebagai pencipta dari itu semua.

إِنَّ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَـٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّہَارِ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّأُوْلِى ٱلۡأَلۡبَـٰبِ (١٩٠) ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمً۬ا وَقُعُودً۬ا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَڪَّرُونَ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلاً۬ سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ (١٩١) آ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya  malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):
“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
(QS. Ali ‘Imran, ayat 190-191)


Isa Ismet Khumaedi
29 November 2013

reference (English):
http://en.wikipedia.org/wiki/Midnight_sun
http://en.wikipedia.org/wiki/Polar_night
Foto-foto juga bisa dilihat pada link tsb.

Please share to others.

Tawadhu’ saja tidak cukup

Beberapa waktu lalu saya bertemu dgn beberapa orang, mereka dari kalangan Salafy Yamani. Di antara mereka, pergaulannya sangat islami, bahkan dari cara mereka berbicara dan beribadah, bisa dilihat bahwa mereka sangat amat tawadhu’ sekali.

Tapi ketika pembicaraan memasuki tema radio rodja, kesan ketawadhu’an tadi hilang. Yang tersisa hanyalah ucapan2 sinis yang membid’ah-bid’ahkan radio rodja, padahal radio rodja juga radio salafy. Ustadz Yazid Jawwas pun mereka bid’ahkan. Apalagi ustadz Firanda yang masih muda.

Mengapa bisa begini?
Tawadhu’ tapi gemar menyalahkan sana-sini?
Why?

Jawabannya, karena wawasan fiqih mereka sempit sekali. Dan dengan sempitnya wawasan fiqih itu, secara otomatis mereka menjadi kelompok yang mudah membid’ahkan sana-sini. Wajar saja. Orang yang hanya tahu satu, maka dia akan menyalahkan yang sembilan. Sedangkan orang yang tahu delapan, maka dia hanya akan menyalahkan yang dua.

Kesimpulan:
1. Tawadhu’ saja tidak cukup.
2. Kita juga harus memperluas wawasan kita agar kita bisa lebih bijaksana dalam menyikapi sesuatu.

Semoga Allah memberikan kepada kita wawasan yang luas dalam masalah agama kita ini.
Aamiin.

Semoga bermanfaat.