Al-Qur’an itu mudah

Sebagian orang berpendapat bahwa Al-Qur’an itu sulit. Akhirnya mereka meninggalkan Al-Qur’an dan menyibukkan diri dengan hal-hal di luar Al-Qur’an, sehingga meskipun mereka rajin ikut kajian bertahun-tahun, tetap saja mereka tidak bisa memahami juz’amma.

Benarkah bahwa Al-Qur’an itu sulit?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat dulu dua pertanyaan di bawah ini.

Pertanyaan pertama, apakah dalam Al-Qur’an ada hal-hal yang meragukan di dalamnya?

Jawabannya, tidak ada. Karena Allah sendiri telah berfirman di dalam Al-Qur’an:

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, …” (QS Al-Baqarah:2 ).

Berikutnya, pertanyaan kedua, apakah Al-Qur’an itu isinya terjaga dan terjamin tidak akan berubah sepanjang masa?

Jawabannya, benar. Al-Qur’an itu isinya terjaga dan terjamin tidak akan berubah sepanjang masa. Karena Allah sendiri telah berfirman di dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr:9)

Terakhir, kita kembali pada pertanyaan pertama di atas: Apakah Al-Qur’an itu sulit?

Jawabannya adalah tidak. Al-Qur’an itu tidak sulit. Al-Qur’an itu mudah. Karena Allah sendiri telah berfirman di dalam Al-Qur’an, bahkan dalam empat ayat yang sangat jelas:

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qomar: 17, 22, 32, 40)

Kesimpulan:
1. Al-Qur’an itu mudah.
2. Tapi memudah-mudahkan Al-Qur’an itu tidak boleh.
3. Apalagi mengatakan bahwa Al-Qur’an itu sulit.

Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita agar kita bisa menemukan jalan menuju islam yang benar, yaitu islam yang mengutamakan Al-Qur’an, setelah itu baru hadits, setelah itu baru yang lainnya.

Kupas Tuntas Bid’ah: (6) Membuat hal baru dan bukan menghidupkan sunnah

Ada satu hadits,

مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ . ومَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Man Sanna Fi Islam Sunnatan Hasanatan Fa Lahu Ajruha Wa Ajru Man ‘Amila Biha..dst dst”

artinya :
“Siapa yang memulai membuat contoh kebaikan dalam Islam maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti (meniru) perbuatannya itu ..”.

“Sanna” di sini artinya adalah “membuat” atau “mengadakan”.

Sebagian orang menolak arti “membuat” atau “mengadakan” ini, karena arti ini membuka peluang munculnya Bid’ah hasanah. Menurut mereka, sanna di sini artinya bukanlah “membuat” atau “mengadakan”, akan tetapi arti sanna di sini adalah “menghidupkan sunnah yang dulunya pernah dicontohkan oleh Rasulullah”.

Maka arti dari hadits di atas adalah “Siapa yang menghidupkan sunnah yang baik dalam Islam, maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang yang mengikuti (meniru) perbuatannya itu .. ”
Karena yang namanya sunnah-sunnah nabi adalah satu hal yang baik, maka menghidupkan sunnah nabi sepertihalnya sholat tarawih berjamaah bukanlah bid’ah. Ini menurut mereka-mereka yang berpendapat bahwa bid’ah hasanah itu tidak ada.

OK, kita terima argumentasi ini sampai di sini.

Akan tetapi, berikutnya, bagaimana dengan kelanjutan hadits itu?

Wa Man Sanna fil Islaami Sunnatan sayyiatan, kaana ‘alaihi ajruha wa ajru man ‘amila biha.

Di sini ada kata sanna juga, berarti yang ini artinya seharusnya adalah:
“Siapa yang menghidupkan sunnah yang buruk dari Rasulullah dalam Islam, maka ia mendapat balasan atas perbuatannya itu dan balasan orang-orang yang mengikuti (meniru) perbuatannya itu ..”.

Di sini jelas terlihat ngaco-nya.
Memangnya ada sunnah yang yang buruk yang berasal dari Rasulullah yang bisa kita hidupkan kembali?

Jelas sekali terlihat ngaco-nya.

Maka yang benar, arti dari kata sanna bukanlah “menghidupkan sunnah kembali” seperti yang mereka klaim.
Yang benar, arti dari kata sanna adalah memang “membuat” atau “mengadakan”.

Maka arti dari hadits itu adalah, barang siapa yang membuat sunnah yang baik, maka dia mendapat pahala atas sunnahnya itu, dan dia juga mendapat pahala atas orang-orang yang mengikuti sunnahnya itu. Sedangkan siapa saja yang membuat sunnah yang buruk, maka dia mendapat dosa tas sunnahnya itu, dan dia juga mendapat dosa atas orang-orang yang mengikuti sunnahnya itu.

Inilah arti yang benar.

Kesimpulannya:
1. Arti kata sanna adalah “membuat” atau “mengadakan”, dan bukan “menghidupkan sunnah kembali”.
2. Sunnah yang baik maksudnya adalah hal baru yang baik, dan inilah yang disebut dengan bid’ah hasanah (bid’ah yang baik).
3. Adapun sunnah yang buruk maksudnya adalah hal baru yang buruk, dan inilah yang disebut dengan bid’ah dholallah (bid’ah yang sesat).

Semoga bermanfaat.

Parfum beralkohol boleh dipakai

Yang haram adalah khamr. Adapun khamr adalah minuman atau hal-hal yg memabukkan, baik ada alkoholnya ataupun tidak. Jadi halal atau tidak dilihat dari memabukkan atau tidak dan bukan dari ada alkoholnya atau tidak.

Maka, untuk menentukan hukum parfum beralkohol, silakan coba saja semprot sebanyak mungkin ke badan Anda. Lalu lihat, Anda jadi mabuk atau tidak?
Kalau Anda jadi mabuk, maka itu khamr, berarti sedikitnya pun haram, maka tinggalkanlah.
Tapi kalau Anda tidak jadi mabuk, maka itu bukan khamr, berarti boleh dipakai.

Alkohol sendiri bukan benda najis. Turunan alkohol seperti etanol butanol atau lainnya juga tidak najis. Bahkan, ada benda2 lain yg mengandung alkohol tapi bukan khamr. Misalnya nasi. Nasi itu juga mengandung unsur alkohol, tapi nasi tidak haram karena nasi itu sifatnya mengenyangkan dan bukan memabukkan, dan karena haram tidaknya sesuatu tidak dilihat dari ada tidaknya alkohol di dalamnya, tapi dilihat dari memabukkan atau tidak.

Demikian, semoga bermanfaat.