“PERSIAPAN TAHUN BARU”

Dari seorang teman:

       Anakku,
       Jangan marah jika ayah bundamu tidak membelikanmu TEROMPET ala YAHUDI,
       Jangan sedih jika ayah & bunda tidak membelikanmu lonceng2an ala org2 NASRANI.
       Jangan pula engkau murung karena bunda tidak belikan kembang api,   karena itu menyerupai MAJUSI.
       Dan janganlah kecewa jika ayah & bunda tidak membawamu di keramaian “Tahun baru”…
karena itu hari-hari besar & Tasyabuh (menyerupai/mengikuti gaya hidup) terhadap orang kafir.
       Anakku,
       Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam salah satu hadits shohihnya:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”.
       Ayah dan bunda sungguh takut melanggar larangan Rasululloh, yg berarti itu mendatangkan murka Allah. Apakah engkau rela jika ayah bundamu dilemparkan kedalam neraka, karena ayah dan bunda tidak mendidikmu diatas ISLAM?
       Banggalah wahai anakku, bersyukurlah wahai buah hatiku, karna ٱللَّهُ سبحانه و تعالى telah mentakdirkan kita hidup diatas agama ISLAM, agama yg Haqq.
       Bersabarlah sayang, krn sudah sunatulloh (jalan yg pasti) bahwa berpegang teguh pd ajaran Islam itu banyk godaan-nya. Namun, berbahagialah wahai permataku.  InsyaAllah didalam KETERASINGAN kita akan tetap bertahan karena Rasul SAW bersabda:
       “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing”
       Wallahulmusta’an.
       Semoga kita slalu istiqomah di dlm mendidik anak-anak kita pada  jalan yang diridhoi Allah SWT..  آمِينْ.. آمِينْ.. يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْن.

Ciri Islam yang benar

Islam yang benar adalah islam yang peduli terhadap penderitaan kaum muslimin di semua tempat, bukan cuma kaum muslimin di Damaskus saja.

Dan islam yang benar adalah islam yang berani melawan semua musuh atau minimal memikirkan cara melawan mereka, termasuk di dalamnya adalah israel dan Amerika. Jadi bukan islam yang mendadak sibuk hanya ketika berhadapan dengan syiah saja.

Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita agar kita bisa menemukan Islam yang benar itu. Aamiin.

Kolom agama di ktp dihapus? Kolom lainnya juga dong …

Tulisan temen. Lucu juga Perlukah Kolom Agama di KTP Dihapus?

A : “Bro, tahu belum? Ada wacana kolom agama di KTP mau dihilangkan lho.”

B : “Emang kenapa? Katanya negara berketuhanan, kok malah hilangkan agama?”
A: “Katanya sih, kolom agama itu bisa mengakibatkan diskriminasi. Lagian agama juga urusan pribadi. Nggak usahlah dicantumkan di KTP.”

B : “Nah, ntar ada juga orang yang ngaku mendapat perlakuan diskriminasi gara-gara jenis kelamin
ditulis. Berarti kolom jenis kelamin juga harus dihapus dong. Laki-laki dan perempuan kan setara. ”

C : “Eh, jangan lupa. Bisa juga lho perlakuan diskriminasi terjadi karena usia. Jadi hapus juga kolom tanggal lahir.”

D : “Eit, ingat juga. Bangsa Indonesia ini juga sering fanatisme daerahnya muncul, terlebih kalau ada laga sepak bola. Jadi mestinya, kolom tempat lahir dan alamat juga dihapus.”
B : “Ada juga lho, perlakuan
diskriminasi itu gara-gara nama.
Misal nih, ada orang dengan nama khas agama tertentu misalnya Abdullah, tapi tinggal di daerah yang mayoritas agamanya lain. Bisa tuh ntar dapat perlakuan diskriminasi.
Jadi kolom nama juga wajib dihapus.”
B: “Kalau status pernikahan gimana?
Perlu gak dicantumkan?”
A : “Itu harus dihapus. Nikah atau tidak nikah itu kan urusan pribadi masing-masing. Saya mau nikah kek,
mau pacaran kek, itu kan urusan pribadi saya. Jadi kalau ada perempuan hamil besar mau melahirkan di rumah sakit, nggak usah ditanya KTP-nya, nggak usah ditanya sudah nikah belum, nggak usah ditanya mana suaminya.
Langsung saja ditolong oleh dokter.”
D : “Sebenarnya, kolom pekerjaan juga berpotensi diskriminasi. Coba bayangkan. Ketika di KTP ditulis pekerjaan adalah petani/buruh, kalau orang tersebut datang ke kantor pemerintahan, kira-kira pelayanannya apakah sama ramahnya jika di kolom pekerjaan ditulis TNI? Nggak kan? Buruh biasa dilecehkan. Jadi kolom pekerjaan juga harus dihapus.”
gimana?
E : “Lha terus, isi KTP apa dong?

Kupas Tuntas Bid’ah: (1) Definisi yang benar tentang Bid’ah

Definisi bid’ah yang ada saat ini:
1. Semua yang baru itu bid’ah
2. Semua yang baru dalam masalah agama itu bid’ah
3. Semua yang baru dalam masalah ibadah itu bid’ah
4. Semua yang baru yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, itulah bid’ah.

Mana yang benar ?

Yang benar adalah yang nomor 4.

Kita lihat haditsnya.

A. inna atsdaqol hadiitsu kitaabullah -> sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah
B. wa khairul hadii, hadii muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam -> dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah saw.
C. wa syarrul umuuri muhdatsaatuha -> dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru

D. wa kulla muhdatsaatin bid’ah -> dan setiap yang baru itu bid’ah
E. wa kulla bid’atin dholaalah -> dan setiap yang bid’ah itu sesat.
F. wa kulla dholaalatin fin naar -> dan setiap yang sesat itu di neraka.

Definisi bid’ah yang salah (definisi no 1, 2 dan 3) adalah yang memisahkan hadits bagian A-B-C dengan bagian D-E-F.
Sedangkan definisi bid’ah yang benar (definisi no 4) adalah yang menggabungkan hadits bagian A-B-C dengan bagian D-E-F.

Maka, yang namanya bid’ah bukanlah sembarang hal baru.
yang namanya bid’ah adalah hal-hal baru yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an maupun sunnah.

Adapun hal-hal baru yang masih sesuai dengan sunnah, maka ini bukan bid’ah.
Dan ini sesuai dengan hadits di atas, yaitu dengan tidak memotong-motong hadits, tapi memahami hadits tsb secara utuh.

Dari hadits itu,
muncul dua definisi;
– hal baru yang tidak sesuai dengan al-qur’an dan sunnah -> bid’ah.
– hal baru yang sesuai dengan al-qur’an dan sunnah -> bukan bid’ah.

Sebagian orang menyebut hal yang “bid’ah” ini dengan nama bid’ah dholaalah,
dan menyebut hal yang “bukan bid’ah” ini dengan nama bid’ah hasanah.

Inilah definisi bid’ah yang benar.

Di Jepang tidak ada KTP

Menurut ahok, kolom agama di ktp tidak perlu. Alasannya, Malaysia juga tdk pake kolom agama di ktp mereka, tapi mereka bisa lebih maju tuh dari indonesia.

Belum tahu si Ahok tuh …. di Jepang TIDAK ADA KTP ! 🙂

Basuki: Saya Enggak Suka Ada Kolom Agama, “Bodo” Amat! – http://megapolitan.kompas.com/read/2013/12/13/1552322/Basuki.Saya.Enggak.Suka.Ada.Kolom.Agama.Bodo.Amat

Cara Belajar Islam yang benar

Mau dibolak-balik bagaimana-pun juga,
inti dari agama kita itu adalah Al-Qur’an, setelah itu baru hadits, setelah itu baru yang lain.
Jadi, inti yang pertama adalah Al-Qur’an, setelah itu baru yang lainnya.

Maka, kalau kita ingin tahu apakah kita sudah mengenal islam atau belum,
jawabannya bisa dilihat dari sejauh mana kita memahami Al-Qur’an kita.
Atau kalau kita ingin tahu apakah kita sudah mempelajari Islam dengan cara yang benar atau tidak, jawabannya bisa dilihat dari ada tidaknya peningkatan pemahaman kita terhadap Al-Qur’an selama proses belajar tersebut.

Jadi kalau bertahun-tahun kita ikut pengajian, tapi pemahaman kita tentang Al-Qur’an, mudahnya adalah Juz’amma, sama sekali tidak bertambah, sebaliknya yang bertambah adalah pemahaman-pemahaman tentang hal yang lainnya, maka bisa jadi, sebenarnya kita belum menemukan islam yang sebenarnya.

Kalau kita punya banyak waktu, maka pelajarilah semua ilmu-ilmu islam sebisa kita.
Tapi kalau kita hanya punya sedikit waktu untuk belajar Islam, misal hanya seminggu sekali, maka mulailah dari hal-hal yang paling utama dalam agama kita ini, yaitu dari hal-hal yang di dalam Al-Qur’an.

Jangan sampai kita sibuk meributkan hal-hal kecil yang tidak ada di dalam Al-Qur’an, hanya karena hal itu ada pada sebuah hadits, atau hanya karena hal itu disebutkan oleh seorang ulama, lalu setelah itu kita malah tidak punya waktu lagi untuk membahas isi Al-Qur’an.

Karena hal-hal yang ada di dalam Al-Qur’an, adalah hal-hal terpenting dari seluruh hal penting yang ada di dalam agama kita ini.

Jadi,
apakah kita sudah belajar Islam dengan cara yang benar?

Jawabannya, silakan nilai masing-masing, apakah ilmu kita tentang Al-Qur’an, minimal sekali tentang juz’amma, sudah bertambah atau belum?
Jangan-jangan, dalam pengajian kita selama ini, kita sama sekali tidak diarahkan untuk memahami Al-Qur’an, apalagi mengamalkannya?
Bahkan juz’amma pun mungkin terabaikan?


Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?
(QS. Muhammad, ayat 24)

Alif laam miim. Kitab (Al Quraan) ini tidak ada keraguan padanya; PETUNJUK BAGI MEREKA YANG BERTAQWA, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.
(QS. Al-Baqarah, ayat 1-3)


Latar belakang penulisan artikel ini:
Karena saya sering bertemu dengan orang-orang yang hafal banyak dalil untuk membid’ah-bid’ahkan kelompok lain, tapi ketika ditanya tentang juz’amma, tentang apa bedanya surat ini dan surat itu, ternyata dia sama sekali tidak faham, padahal dia sudah ikut pengajian bertahun-tahun lamanya.
Lantas selama bertahun-tahun itu, apa yang diajarkan dalam pengajiannya itu?


Semoga bermanfaat.
Please share ke yang lain.