Menjauhi Al-Qur’an?

Dalam usaha memahami Islam, kelompok-kelompok Islam menggunakan cara yang berbeda-beda.

Kelompok pertama hanya menggunakan Al-Qur’an saja dan meninggalkan hadits. Kelompok ini tidak benar.

Kelompok kedua hanya menggunakan hadits saja, dan meninggalkan Al-Qur’an. Ini juga tidak benar.

Kelompok ketiga memfokuskan dakwahnya pada Al-Qur’an dan menempatkan hadits sebagai pelengkap. Ini kelompok yang benar.

Kelompok keempat memfokuskan dakwahnya pada hadits dan menempatkan Al-Qur’an hanya sebagai pelengkap saja. Ini adalah kelompok yang juga tidak benar.

Kalau kita sudah bertahun-tahun mengaji lalu kita hanya faham masalah bid’ah saja, atau hanya faham masalah-masalah ikhtilaf saja seperti hukum isbal, hukum jenggot, hukum demonstrasi, hukum musik dan lain sebagainya, dan di saat yang bersamaan kita tidak memahami apa perbedaan isi surat Al-Lail dan Asy-Syams misalnya, padahal itu ada dalam Juz’amma, maka itu artinya kita termasuk dalam kelompok nomor empat di atas. Dan secara tidak langsung, sebenarnya kita sudah diajak untuk menjauhi Al-Qur’an, meskipun kita tidak menyadarinya. Atau setidaknya, kita tidak diajari untuk mendekati Al-Qur’an padahal waktu kita terus berlalu dan umur kita terus bertambah.

Mari kita introspeksi lagi, selama ini kita belajar apa dan diajari apa?

Advertisements

Menafsirkan ayat vs memahami inti surat

Hari ini, lagi-lagi saya berdiskusi dengan orang yang mengaku mengikuti “manhaj salaf”.

Dan orang tersebut lalu bertanya pada saya, “Apa tafsir Surat Thohaa ayat 5?”.

Ayat itu berbunyi “Arrahmaanu ‘alal ‘arsy istawaa“, yang artinya adalah “Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy“.

Dari pertanyaannya saya sudah tahu bahwa dia ingin membahas tentang “Di mana Allah?”, dan saya sudah tahu ke mana arah pertanyaannya.

Oleh karena itu, saya lebih memilih untuk bertanya balik.

Saya katakan: “Surat Thohaa itu memiliki 135 ayat. Ayat 1-8 adalah ayat pembukaan, ayat 9-98 adalah ayat yang menceritakan kisah tentang Nabi Musa as, dan total ayat tentang Nabi Musa as adalah 90 ayat! Dan sisanya sekitar 37 ayat adalah kesimpulan surat ini yang berbicara tentang ancaman bagi orang-orang yang tidak mau mengambil pelajaran dari kisah-kisah yang disampaikan oleh Al-Qur’an. Dan pertanyaan dari saya adalah, kenapa Anda bertanya tentang tafsir ayat nomor 5 saja? Kenapa Anda tidak bertanya tentang kisah Nabi Musa as yang diceritakan dalam 90 ayat dalam surat ini? Atau kenapa Anda tidak bertanya tentang kesimpulan surat ini yang ada di ayat belakang?”

Sesuai dugaan saya, orang itu tidak mau menjawab, atau mungkin tidak bisa menjawab?

Seperti inilah contoh dua metode dalam memahami Al-Qur’an. Yang satu mengaku mengikuti “manhaj salaf”, tapi ternyata hanya sibuk membahas hal-hal kecil saja, dan ayat yang dibahas pun dipilih-pilih, yang kira-kira rentan terhadap perbedaan penafsiran, lalu menyibukkan diri membahas dan mendalami penafsiran tersebut, dan menyibukkan diri bertengkar dengan orang lain yang berbeda penafsirannya.

Metode lainnya adalah berusaha melihat apa inti surat tersebut dan apa pesan utama dalam surat tersebut, lalu berusaha memahami dan mengamalkan inti pesan tersebut, tanpa menyibukkan diri membahas tafsir dari hal-hal kecil yang hanya dibahas dalam satu dua ayat saja, dan itupun kadang kala dalam bahasa kiasan yang multi tafsir.

Kita sendiri mau ikut yang mana?

Mau ikut menyibukkan diri membahas penafsiran atas satu atau dua ayat lalu membenturkan penafsiran itu dengan penafsiran yang lain?

Atau mau ikut menyibukkan diri memahami inti pesan dari satu surat, lalu berusaha mengamalkan dan mentadabburi inti pesan tersebut?

Silakan direnungkan baik-baik.

 هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali! orang yang berakal. (QS. Ali-Imran, ayat 7)

note:

Tentang surat Thohaa,

ambillah pelajaran dari kisah Nabi Musa as yang diceritakan dalam 90 ayat di dalam surat tersebut. Itulah inti surat tersebut.

Dan sadarilah bahwa ada banyak kisah lain yang juga diceritakan oleh Al-Qur’an, dan kita sebagai orang yang beriman harus mau mengambil pelajaran dari kisah-kisah tersebut.

Insya Allah itulah pesan yang ingin disampaikan Al-Qur’an dalam surat Thohaa tersebut.

Makar

Apakah Islam hanya mengajarkan tentang ibadah saja?

Apakah Islam hanya mengajarkan tentang aqidah saja?

Tidak.

Islam juga mengajarkan banyak hal, salah satunya adalah mengenai makar-makar atau tipuan-tipuan yang dilakukan oleh orang-orang di luar Islam terhadap ummat Islam.

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah. (QS. Al-Baqarah ayat 120)

Mari kita pelajari juga bab-bab tentang Ghazwul Fikri atau perang pemikiran di dalam Al-Qur’an, hadits dan shirah Nabi. Agar kita tidak hanya sibuk dengan masalah keyakinan atau ritual saja, tapi juga bisa memiliki amal-amal yang bermanfaat bagi ummat Islam.

Mari kita pilih pemimpin muslim yang didukung oleh orang-orang yang bisa makin membuat kita makin dekat pada agama kita.

Syarif Mekah

Syarif Mekah adalah gelar yang diberikan pada Gubernur yang memerintah tanah suci Mekah, Madinah dan daerah Hijaz di sekitarnya. Nama gelar Syarif ini sebenarnya diambil dari nama gelar kehormatan keturunan Rasulullah SAW dari jalur Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra. Dan ini sesuai dengan tradisi ummat Islam, yaitu memberikan gelar Syarif pada keturunan Rasululllah SAW yang berasal dari jalur Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra, dan memberikan gelar Sayyid atau Habib pada keturunan Rasulullah SAW yang berasal dari jalur Hussain bin Ali bin Abi Thalib ra.

Sejak zaman Abbasiyah, jabatan Gubernur Mekah ini tidak lagi dipilih oleh Khalifah, tapi menjadi hak turun temurun keturunan Rasulullah SAW. Apapun khilafahnya, siapapun khalifahnya, semua sepakat untuk memberikan kehormatan ini pada keturunan Rasulullah SAW, dan semua ini berakhir pada tahun 1925 ketika keluarga Saud menganeksasi Hijaz dan mengusir bani Hasyim dari tanah Hijaz. Sejak saat itu, Bani Saud menguasai Mekah dan Madinah

, dan penghormatan itu tidak lagi diberikan pada keturunan Nabi.

Daftar nama Syarif Mekah

Pada masa Khilafah Fatimiyyah

  • Ath-Thallab (967-980)
  • Syarif ‘Isa (980-994)
  • Syarif Abu Futuh Hasan bin Ja’far (994-1010)
  • Syarif Syukur bin Hasan bin Ja’far (1010-1012)
  • Syarif Abu Thoyyib Daud bin Abdurrohman (1012-1039)
  • Syarif Muhammad bin Abdurrohman  (1039-1048)
  • Syarif Wahhas bin Abu Thoyyib Daud bin Abdurrohman (1048-1058)
  • Syarif Hamzah bin Wahhas (1058-1062)
  • Abu Hasyim bin Muhammad (1063-1094)
  • Ibnu Abu Hasyim Ats-Tsallab (1094-1101)

Pada masa Khilafah Ayyubiyah

  • Qotadah bin Idris al-Hasani (1201-1220)
  • Hasan bin Qotaah bin Idris al-Hasani (1220-1241)
  • Hasan Abu Saad (1241-1254)

Pada masa Khilafah Mamluk

  • Muhammad Abu Nubaj (1254-1301)
  • Rumaitsah Abu Roda (1301-1346)
  • Ajlan Abu Sarjah (1346-1375)
  • Al-Hasan II (1394-1425)
  • Barakat I (1425-1455)
  • Malik Adil Muhammad bin Barakat (1455-1497)
  • Barakat II (Barakat bin Muhammad) (1497-1525)

Pada masa Khilafah Turki Utsmaniyah

  • Barakat II (Barakat bin Muhammad) (1497-1525) (tiga belas tahun terakhir kepemimpinannya)
  • Muhammad Abu Numay II (1525-1583)
  • Hasan bin Muhammad Abu Numay (1583-1601)
  • Idris bin Hasan (1601-1610)
  • Muhsin bin Hasan (1610-1628)
  • Ahmad bin Tholib Al-Hasan (1628-1629)
  • Mas’ud bin Idris (1629-1630)
  • Abdullah bin Hasan (1630-1631)
  • Zaid bin Muhsin (1631-1666)
  • Saad bin Zaid (1666-1667)
  • Muhsin bin Ahmad (1667-1668)
  • Saad bin Zaid (1668-1670)
  • Hamud bin Abdullah bin Hasan (1670-1670)
  • Saad bin Zaid (1670-1671)
  • Barakat bin Muhammad (1672-1682)
  • Said bin Barakat (1682-1683)
  • Ibrahim bin Muhammad  (1683-1684)
  • Ahmad bin Zaid (1684-1688)
  • Ahma bin Ghalib (1688-1689)
  • Muhsin bin Ahmad (1689-1691)
  • Said bin Saad (1691-1693)
  • Saad bin Zaid (1693-1694)
  • Abdullah bin Hasyim (1694-1694)
  • Saad bin Zaid (1694-1702)
  • Said bin Saad (1702-1704)
  • Abdul Muhsin bin Ahmad (1704-1704)
  • Abdul Karim bin Muhammad (1704-1705)
  • Said bin Saad (1705-1705)
  • Abdul Karim bin Muhammad (1705-1711)
  • Said bin Saad (1711-1717)
  • Abdullah bin Said (1717-1718)
  • Ali bin Said (1718-1718)
  • Yahya bin Barakat (1718-1719)
  • Muhammad bin Ahmad (1719-1722)
  • Barakat bin Yahya (1722-1723)
  • Mubarok bin Ahmad (1723-1724)
  • Abdullah bin Said (1724-1731)
  • Muhammad bin Abdullah (1731-1732)
  • Mas’ud bin Said (1732-1733)
  • Muhammad bin Abdullah (1733-1734)
  • Mas’ud bin Said (1734-1759)
  • Ja’far bin Said (1759-1760)
  • Musaid bin Said (1760-1770)
  • Amad bin Said (1770-1770)
  • Abdullah bin Husain (1770-1773)
  • Surur bin Musaid (1773-1788)
  • Abdullah Mu’in bin Musaid (1788-1788)
  • Ghalib bin Musaid (1788-1803)
  • Yahya bin Surur (1803-1813)
  • Ghalib bin Musaid (1813-1827)
  • Abdul Muthollib bin Ghalib (1827-1827)
  • Muhammad bin Abdul Mu’in (1827-1851)
  • Abdul Muthollib bin Ghalib (1851-1856)
  • Muhammad bin Abdul Mu’in (1856-1858)
  • Abdulah Kamal Pasha (1858-1877)
  • Husain bin Muhammad (1877-1880)
  • Abdul Muthollib bin Ghalib (1880-1882)
  • Syarif Ainurrofiq (1882-1905)
  • Abdullah Pasha (1905-1908)
  • Husain bin Ali Al-Hasyimi (1908-1916)
  • Ali Haidar Pasha (1916-1917)
  • Hamud bin Abdullah bin Hasan (1916-1925)

Pada masa Kerajaan Hijaz

  • Husain bin Ali Al-Hasyimi (1916-1924)
  • Ali bin Husain (1924-1925)


Masa Berakhirnya Syarif Mekah



Pada tahun 1924, Raja Abdul Aziz bin Saud dari Najd mulai menyerang Mekah dan mengambil alih kota Mekkah, dan mengambil alih kota Jeddah pada tahun 1925. Ini semua mengakibatkan jatuhnya kerajaan Hijaz, dengan Ali bin Hussain sebagai raja terakhirnya.

Jatuhnya Kerajaan Hijaz sudah bisa diprediksikan, karena Raja Husain bin Ali menolak deklarasi Balfour yang dilakukan oleh Inggris. Pada deklarasi itu, Inggris menyatakan bahwa Palestina adalah tanah yang akan diberikan pada kelompok Zionis. Pihak Inggris menawarkan banyak subsidi pada Raja Husain agar mau menerima deklarasi Balfour itu, tapi Raja Husain tetap menolaknya sampai tahun 1924. Setelah itu, Inggris menghentikan tawaran subsidi itu. Tidak lama kemudian, Raja Abdul Azis bin Saudi dari Najd mulai menyerang kerajaan Hijaz dengan bantuan pihak Inggris, dan serangan ini menyebabkan jatuhnya kerajaan Hijaz. 

Referensi:

1. Syarif Mekah dalam bahasa Arab: https://ar.wikipedia.org/wiki/%D8%B4%D8%B1%D9%8A%D9%81_%D9%85%D9%83%D8%A9

2. Syarif Mekah dalam bahasa Inggris: https://en.wikipedia.org/wiki/Sharif_of_Mecca

3. Sikap Negara-negara Arab dalam menyikapi Deklarasi Balfour: https://en.wikipedia.org/wiki/Balfour_Declaration#Broader_Arab_response

​Liberal, LGBT dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Kelompok Liberal meminta agar ibadah dan amal baik dianggap personal, setelah itu mereka ramai-ramai meninggalkannya. Mereka juga ingin agar amal buruk (misal LGBT) dianggap personal, setelah itu mereka ramai-ramai melakukannya atau minimal membiarkannya.

Semua ini terjadi karena mereka tidak memahami konsep amar ma’ruf nahi munkar di dalam agama Islam.

Di dalam Islam, kita WAJIB mengarahkan manusia untuk beribadah kepada Allah dan WAJIB mengarahkan manusia untuk mengerjakan hal yang baik, dan kita juga WAJIB mengarahkan manusia agar menjauhi hal-hal yang buruk. Inilah konsep Amar Ma’ruf Nahi Munkar di dalam Islam.

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

(Luqman berkata) Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting. (QS. Luqman, ayat 17)

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali Imran, ayat 110).

Mari kita ajak keluarga kita untuk sering-sering datang ke masjid dan mengikuti pengajian, agar mereka tidak mencari kebenaran di jalanan.

Dulu aku punya teman

“Dulu aku punya teman. Dia tidak mau diajak bicara tentang akhirat. Yang dia mau hanyalah pembicaraan tentang masalah dunia saja. Bahkan dia juga bertanya kepadaku: ‘Apa kamu termasuk orang yang meyakini akhirat itu ada? Dan kamu percaya kalau setelah kita mati nanti kita akan dihidupkan lagi untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita?'”

“Lantas di mana temanmu itu sekarang?”

“Maaf, aku juga tidak tahu. Bagaimana kalau kita cari sama-sama?”

Setelah dicari bersama, ternyata dia ada di dalam neraka.

“Ternyata kamu di Neraka? Kalau dulu aku ikut kamu, mungkin sekarang aku juga masuk neraka bersamamu. Alhamdulillah, Allah sudah membimbingku.”

“Dulu kau juga selalu bertanya tentang hari pembalasan. Nah, inilah hari pembalasan, dan tidak ada lagi kematian di sini.”

Seperti itulah kisah yang tertulis dalam Al-Qur’an surat Ash-Shoffaat ayat 51-61.

Mari kita beramal sebaik mungkin untuk akhirat kita, dan mari kita cari teman yang bisa mengingatkan diri kita tentang akhirat.