Surat Al-A’laa dan Ramadhan yang baru saja berlalu

al alaa

Surat Al-A’laa adalah surat yang sering di baca di dalam sholat Ied, terutama di rokaat pertama. Ya, sunnahnya memang seperti itu, meskipun tidak wajib. Dan kesunnahan membaca surat ini juga ada pada sholat Jum’at. Itu sebabnya sekarang pun kita mungkin banyak menemui para imam yang sering membaca surat ini ketika menjadi imam sholat Jum’at.

Sebenarnya, apa isi surat ini?

Surat ini sebenarnya berisi nasihat untuk nabi kita, itu sebabnya yang diajak bicara adalah “kamu”, bukan “kalian”. Karena kalau yang diajak bicara adalah “kamu”, maka biasanya ini mengacu pada nabi kita, kalau yang mengajak bicara adalah Allah atau Malaikat.

Apa isi nasihat tersebut?

Yang pertama, Allah ingin mengingatkan nabi kita agar selalu mensucikan Allah, yang telah menciptakan, menyempurnakan ciptaan, menentukan kadar-kadar (takdir-takdir), memberi petunjuk, juga menumbuhkan rerumputan juga mematikan rerumputan tersebut.
Inilah Allah.

Dialah yang Maha Berkehendak, Maha Mengetahui dan Maha Menolong.

Oleh karena itu, wahai Muhammad, janganlah kamu berputus asa.
Cukuplah bagimu untuk terus memberikan nasihat, tanpa berhenti.
Masalah hasil, serahkan saja pada Kami.

Saat mendengar nasihat itu, orang orang beriman akan mengambil pelajaran, sedangkan orang-orang kafir akan menjauhi nasihat tersebut, dan mereka yang menjauhi inilah yang akan masuk neraka. Di sana, mereka tidak hidup, dan juga tidaklah mati.

Dan beruntunglah orang-orang yang mengambil pelajaran dan mau mensucikan diri mereka, yang mau mengingat nama Tuhan-nya, dan mau mendirikan Sholat.

Intinya, teruslah memberi peringatan, wahai Muhammad.
Nanti pasti ada yang menolak dan pasti ada yang menerima.
Yang menolak, biarkan saja, tugasmu hanya menyampaikan.

Sampai di sini adalah nasihat yang diberikan kepada “kamu”, yaitu kepada nabi kita Muhammad saw.

Berikutnya adalah kalimat yang disampaikan kepada “kalian”. Siapakah “kalian” di sini? Apakah orang-orang yang beriman?

Tidak, “kalian” yang dimaksud di sini adalah “orang-orang kafir”.
Apa isi kalimat untuk orang kafir tsb?

Kalian lebih memilih kehidupan dunia, dan melupakan akhirat,
padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.

Dan ketentuan ini semua, juga ada dalam kitab nabi Ibrahim dan Nabi Musa.

Ini kalimat untuk orang-orang kafir: melupakan akhirat dan mengutamakan dunia.

Lalu, apakah kita termasuk orang-orang yang mengabaikan akhirat?
Atau lebih suka mengutamakan dunia kita dan berprinsip “jangan bawa-bawa agama” dalam kehidupan kita?
Atau kita berteman dengan orang yang berprinsip “jangan bawa-bawa agama”?

Atau kita adalah orang-orang yang tidak percaya bahwa akhirat itu ada?
Atau kita berteman dengan orang yang tidak yakin bahwa akhirat itu ada?

Atau kita tidak mau percaya pada nasihat dari nabi kita? Atau kita tidak percaya kalau nasihat yang sama pernah disampaikan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Musa?

Atau kita malah berteman dengan orang-orang yang tidak percaya keberadaan para nabi?

Di mana kita, di situlah posisi kita.

Nabi kita hanya memberikan peringatan, para ustadz sekarang pun hanya bisa memberikan peringatan, tinggal terserah kita, mau mensucikan Tuhan kita, mau banyak mengingat Tuhan kita, mau sholat, mau banyak beramal baik, atau kita lebih memilih untuk mengabaikan aturan agama dan lebih mementingkan kehidupan dunia? atau lebih memilih untuk berprinsip “jangan bawa-bawa agama”? atau lebih memilih untuk berteman dengan orang-orang seperti ini?

Di mana kita, di situlah posisi kita.

Mari kita baca lagi surat Al-A’laa kita, agar kita bisa tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Ramadhan baru saja lewat, apa kita mau kembali menjadi orang yang tidak mempedulikan aturan agama dan lagi-lagi berteman dengan orang-orang yang berprinsip “jangan bawa-bawa agama” ?

Kalau seperti itu,
berarti kita tidak memahami surat Al-A’laa yang kita bacakan atau yang dibacakan oleh para Imam dalam sholat Iedul Fitri kemarin.

Depok, 1 Juni 2020 / 9 Syawal 1441 H. Continue reading

Virus Corona dan pemahaman Taqdir Jabbariyah vs Qodariyah

Corona Jabbariyah Qodariyah

Indonesia yang mayoritas muslim ini, sebenarnya banyak yang mengaku sebagai ahlu sunnah, tapi pada prakteknya, dalam masalah taqdir ternyata lebih dekat pada pemikiran Jabbariyah.

Apa itu Jabbariyah?

Jabbariyah adalah salah satu cabang pemikiran dalam masalah Taqdir, yang cenderung menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah, dan sering menyerukan agar kita tidak perlu berusaha untuk mengubah suatu hal atau suatu kondisi.

Contoh kalimat yang banyak disuarakan oleh pemikiran Jabbariyah adalah:

Dalam masalah virus Corona kali ini, di saat para ulama dan pemerintah sudah menyuarakan agar kita tidak ke masjid, kelompok Jabbariyah akan mengatakan: “Tetaplah sholat jamaah di masjid, karena hidup mati kita sudah ditetapkan oleh Allah.”

Atau kalimat-kalimat di bawah:

Kalau taqdirnya mati, ya mati.

Kalau naik motor, tidak perlu pake helm. Kalau taqdirnya mati, ya mati.

Merokok tidak apa-apa, toh kalau taqdirnya mati ya mati juga.

Kita tidak perlu olahraga, kalau taqdirnya sehat, ya pasti kita akan sehat.

Rezeki kita itu segitu-gitu aja, mau berusaha bagaimana pun juga, pasti hasilnya juga segitu-gitu juga.

Kita tidak perlu ikut pemilu. Kalau Allah menghendaki, pasti Allah akan memilihkan pemimpin yang baik untuk kita.

Jangan terpaku pada asbab (sebab akibat), tidak perlu berusaha, bergantunglah kepada Allah.

Ini semua adalah hasil dari pemikiran Jabbariyah. Dan pemikiran seperti inilah yang menyebabkan Indonesia sekarang ketinggalan, karena orang Islam di Indonesia itu mayoritas, dan sayangnya, dari yang mayoritas ini, kebanyakan juga cenderung Jabbariyah, seperti pada contoh-contoh kalimat di atas. Akibatnya, ummat Islam di Indonesia akhirnya cenderung tidak berusaha, dan selalu meninggalkan ilmu pengetahuan karena semua itu akan dibungkam dengan kalimat “Allah sudah menentukan segalanya”. Ujung-ujungnya kita menjadi bangsa yang ketinggalan, karena ilmu pengetahuan selalu ditinggalkan.

Lantas yang benar bagaimana?
Yang benar, tentu saja bukan Jabbariyah.

Jabbariyah itu anti ilmu pengetahuan. Itu sebabnya pengikut Jabbariyah rata-rata berada di negara dunia ketiga. Mereka mengabaikan ilmu pengetahuan, dan hidup dalam kepasrahan, padahal apa yang dihadapi masih bisa diusahakan.

Sebaliknya, lawan dari Jabbariyah adalah Qodariyah. Ini adalah kebalikan dari Jabbariyah. Kalau Jabbariyah itu anti pengetahuan dan pasrah pada taqdir, maka Qodariyah itu sebaliknya, mereka tidak mau pasrah dan sangat percaya sepenuhnya pada ilmu pengetahuan. Mereka adalah orang-orang yang ada di negara maju saat ini. Mereka hidup berdasarkan ilmu pengetahuan, dan berdasarkan sebab akibat. Itu sebabnya mengapa mereka bisa menjadi negara maju, karena mereka menghitung segala sesuatunya. Dan jangan heran, mereka-mereka inilah yang akhirnya bisa membuat mobil, pesawat, satelit, dan lainnya.

Apakah kaum Jabbariyah bisa membuat mobil, pesawat, satelit dan lainnya?
Tentunya berat.
Karena untuk membuat mobil, pesawat, satelit atau lainnya, itu butuh perhitungan yang berat, dan butuh usaha yang berat serta panjang. Untuk kaum Jabbariyah, hal ini mendekati tidak mungkin, karena kaum Jabbariyah tidak terbiasa untuk berusaha keras. Kalaupun mereka awalnya berusaha, maka bisa jadi berhenti di tengah jalan ataupun akan bikin seadanya saja, tanpa kualitas yang terjamin, karena mereka akan berfikir “kalau Allah menghendaki pasti mobil, pesawat dan satelit ini akan jadi, jadi kita tidak perlu susah-susah membuatnya dan melakukan proses testing yang berat”.

Jadi, Jabbariyah itu penyebab utama mengapa ummat Islam ketinggalan dalam masalah ilmu pengetahuan.
`
Lantas, jadi yang benar adalah Qodariyah?
`
Tidak juga.

Qodariyah punya kelemahan, karena sangat menuhankan ilmu pengetahuan dan tidak percaya pada apa yang telah Allah tetapkan, ada saat-saat di mana mereka akan stress. Ketika mereka sudah mati-matian mengusahakan suatu hal, lalu tiba-tiba gagal, maka bisa jadi mereka akan stress berat dan bahkan mungkin bunuh diri.

Jadi, yang benar bagaimana?

Yang benar adalah konsep Taqdir versi Ahlu Sunnah wal Jamaah.
Yang seperti apa?

Intinya adalah, menggunakan konsep Qodariyah untuk menghadapi segala sesuatu yang BELUM TERJADI, dan menggunakan konsep Jabbariyah untuk menghadapi segala sesuatu yang SUDAH TERJADI.

Jadi, ketika kita akan membuat pesawat, maka kita harus mati-matian mendesain-nya, mati-matian membuat prototype-nya, mati-matian menyusun hal-hal yang harus ditest, dan mati-matian melakukan proses testing tersebut. Selanjutnya, setelah 100% (sekali lagi, 100% ya, dan ini artinya SELURUH) proses testing itu dilakukan, barulah kita katakan “Insya Allah pesawat ini bisa terbang”.

Tapi setelah semua usaha itu dilakukan, lalu tiba-tiba ada hal tak terduga yang membuat pesawat itu gagal terbang, maka saat itu yang harus kita lakukan adalah menyerahkan hasilnya kepada Allah. Karena tugas kita untuk berusaha sudah kita lakukan sepenuhnya, tanpa ada satu pun yang terlewatkan. Tapi bagaimana pun juga kita tetap punya keterbatasan, dan Allah lah yang menentukan semua hasil. Jadi, jangan stress, karena Allah-lah yang menentukan segala sesuatu.

Inilah konsep taqdir menurut Ahlu Sunnah.

Berikutnya, mari kita lihat secara detil tentang bagaimana Qodariyah dan Ahlu Sunnah mendalami masalah “hal-hal yang belum terjadi”.
Dua kelompok ini sama dalam masalah ini, dan penjelasannya adalah sebagai berikut.

Yang pertama, Taqdir itu dalam bahasa Indonesia sebenarnya memiliki padanan kata yang cukup tepat, yaitu “Kadar” atau “Qodar”, dan dari sinilah muncul nama “Qodariyah”.
Kata “kadar” itu sendiri sama artinya dengan apa yang pahami dalam bahasa Indonesia, yaitu “ukuran”.

Jadi, arti dari Taqdir adalah “kadar” atau “ukuran”.

Dan maksudnya adalah seperti di bawah ini:

– ketika ada wabah Corona, orang yang diam di rumah maka kadarnya adalah selamat. Atau kadar selamat-nya lebih besar daripada kadar selamat orang-orang yang pergi ke luar rumah, apalagi berkumpul di luar, baik itu di mall, di pasar, ataupun di masjid.

Ini adalah pemahaman Taqdir yang benar. Dan inilah “ketetapan” Allah dalam masalah Taqdir. Artinya, Allah sudah menentukan kadar untuk masing-masing perkara, contohnya adalah seperti kalimat di atas.

Berikutnya, contoh kalimat lainnya adalah:

Kita harus berusaha agar tidak mati, karena kalau kita melakukan ini, maka kadarnya adalah mati, kalau kita melakukan itu maka kadarnya adalah luka berat, dan kalau kita melakukan yang lain lagi maka kadarnya adalah luka ringan.
Inilah pemahaman taqdir yang benar.

Berikutnya, kalau naik motor gunakanlah helm. Karena kalau tidak pakai helm, kalau kecelakaan maka kadarnya adalah mati. Tapi kalau pakai helm lalu kecelakaan, maka kadarnya adalah luka biasa (semoga saja).
Inilah pemahaman taqdir yang benar.

Berikutnya, tinggalkanlah rokok. Karena kalau merokok maka kadarnya adalah kena penyakit paru-paru atau lainnya. Sedangkan kalau tidak merokok maka kadarnya adalah kita akan hidup lebih sehat.
Inilah pemahaman taqdir yang benar.

Berikutnya, rajin-rajinlah berolahraga. Karena kalau kita rajin berolah raga, maka kadarnya adalah badan kita sehat dan kuat. Sedangkan kalau kita malas berolahraga maka kadarnya adalah badan kita akan menjadi lemah.
Inilah pemahaman taqdir yang benar.

Berikutnya, semangatlah dalam mencari rezeki. Dan jangan ikuti pemikiran “Rezeki kita itu segitu-gitu aja, mau berusaha bagaimana pun juga, pasti hasilnya juga segitu-gitu juga.” Ini adalah pemahaman Jabbariyah yang tidak benar. Yang benar adalah, kita harus semangat dalam mencari rezeki, dan harus selalu berusaha maksimal. Karena siapa saja yang usahanya biasa saja, maka kadarnya adalah rezeki-nya akan biasa saja. Dan siapa saja yang usahanya bagus, maka kadarnya adalah rezeki-nya juga akan banyak.
Inilah pemahaman taqdir yang benar.

Berikutnya, kalau ada pemilu, ikutilah. Pilihlah pemimpin yang baik, menurut agama kita. Karena kalau kita tidak ikut memilih, maka kadarnya adalah calon yang tidak baik yang mungkin akan menang. Sedangkan kalau kita ikut memilih, maka kadarnya adalah calon yang baik yang mungkin akan terpilih. Di sini ada hitungan matematika, dan itulah kadar, itulah Taqdir.
Inilah pemahaman taqdir yang benar.

Berikutnya, tinggalkanlah pendapat yang mengatakan bahwa “Jangan terpaku pada asbab (sebab akibat), tidak perlu berusaha, bergantunglah kepada Allah.” Ini adalah pemahaman Jabbariyah, dan ini salah.
Yang benar adalah, islam itu berdasarkan ilmu. Dan justru ilmu sebab akibat itu adalah kadar-kadar yang telah Allah tentukan.
Siapa saja yang makan, maka kadarnya adalah dia akan kenyang. Ini adalah sebab akibat, dan ini adalah Taqdir yang telah Allah tetapkan.
Siapa saja yang sakit, maka berobatlah, karena barang siapa berobat, maka kadarnya adalah dia mungkin sembuh. Ini adalah sebab akibat, dan ini adalah Taqdir yang telah Allah tetapkan.

Maka, barang siapa ingin menjadi Dokter, maka masuklah fakultas kedokteran. Karena inilah kadar yang telah Allah tentukan, inilah Taqdir yang telah Allah tentukan, dan inilah sebab akibat yang telah Allah tentukan.

Dan barang siapa ingin menjadi Insinyur teknik, maka masuklah fakultas Teknik. Karena inilah kadar yang telah Allah tentukan, inilah Taqdir yang telah Allah tentukan, dan inilah sebab akibat yang telah Allah tentukan.

Sampai di sini, apakah jelas?

Taqdir adalah kadar, dan kadar adalah sebab akibat, dan sebab akibat itu sesuai dengan ilmu pengetahuan. Maka barang siapa memahami Taqdir dengan benar, dia akan bersikap sesuai dengan ilmu pengetahuan. Dan barang siapa bersikap sesuai dengan ilmu pengetahuan, itu artinya dia sudah memahami Taqdir dengan benar, karena ilmu pengetahuan adalah sebab akibat yang telah Allah tetapkan, dan ini semua adalah kadar-kadar yang ada di sekeliling kita.

Terakhir, bukankah Allah sudah menentukan segalanya?
Ini adalah pertanyaan yang penting.

Jawabannya adalah benar.
Tapi akan lebih benar lagi kalau kita memahaminya dengan kalimat “Allah sudah MENULISKAN atau MENGETAHUI segalanya”.

Maka, hari ini, apakah Allah tahu rezeki apa yang akan kita dapat besok?
Jawabannya adalah, Ya, Allah sudah tahu rezeki apa yang akan kita dapat besok.

Jadi artinya, semua sudah Allah TETAPKAN?
Jawabannya adalah tidak.

Kalau Allah mau, maka Dia bisa membuat kita hidup seperti boneka, yang TERPAKSA harus mengikuti garis taqdir yang telah Dia tuliskan.
Tapi itu bukan konsep Taqdir yang Allah ajarkan dalam islam.

Dalam Islam, Allah itu Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk semua hal yang ada di masa depan. Maka rezeki kita besok pun, hari ini Allah sudah tahu, bahkan dari dulu pun Allah sudah tahu.
Tapi itu artinya adalah Allah TAHU, bukan MEMAKSA kita harus seperti itu.

Artinya, Allah itu sudah menulis apa-apa yang AKAN kita lakukan, dan bukan menulis apa-apa yang HARUS kita lakukan.

Jadi, apa yang akan kita lakukan besok, hari ini Allah sudah tahu. Dan besok, kita akan melakukan hal tsb sesuai keinginan kita, lalu kita akan mendapatkan hasil sesuai kadar yang telah Allah tetapkan ukurannya, lalu hasilnya adalah kita akan mendapatkan rezeki dengan besar yang sesuai kadar usaha kita itu, dan hasil akhirnya ini pun ALLAH SUDAH TAHU dari sejak dahulu kala. Siapa yang malas berusaha, maka dia rezekinya sedikit. Siapa yang rajin berusaha, maka rezekinya banyak. Inilah kadar yang telah Allah tetapkan. Dan Allah sudah tahu, kita nanti akan malas berusaha atau rajin berusaha. Dan Allah juga sudah tahu kadar hasil sebesar apa yang akan kita dapatkan nanti.

Sampai di sini apakah jelas?

Intinya, jangan ikuti pemahaman Jabbariyah dalam menyikapi hal-hal yang BELUM TERJADI. Karena ini adalah pemahaman yang salah, yang membuat ummat Islam jauh ketinggalan dalam masalah ilmu pengetahuan.
Dan jangan ikuti pemahaman Qodariyah dalam menyikapi hal-hal yang SUDAH TERJADI, karena nanti kita akan stress kalau kita gagal, atau akan terlalu berbangga diri kalau kita berhasil.

Yang benar adalah, bersikaplah Qodariyah (sesuai kadar-kadar Taqdir ilmu pengetahuan yang telah Allah tetapkan), manakala kita sedang menghadapi sesuatu yang belum terjadi. Tapi begitu hal itu sudah terjadi, maka gunakanlah prinsip Jabbariyah, agar kita bisa menerima semua ketetapan yang telah Allah tuliskan untuk kita.

Semoga penjelasan ini bisa membuka pemahaman kita dalam memahami masalah Taqdir dalam agama kita ini.
Note:
Tulisan ini dibuat ketika wabah Corona melanda Indonesia, dan hari ini sudah ada 686 orang di Indonesia yang positif terkena wabah ini. Maka tugas kita saat ini adalah mengikuti Fatwa ulama dan anjuran pemerintah untuk meninggalkan sholat jamaah dan sholat Jum’at di masjid, karena itu bisa mendorong terjadinya penyebaran virus Corona di lingkungan kita, dan itu sesuai dengan kadar-kadar taqdir yang telah Allah tetapkan melalui ilmu pengetahuan yang Dia ajarkan pada kita.
Jangan ikuti pemahaman Jabbariyah yang malah menyuruh kita untuk tetap sholat di masjid dengan alasan “kalau Taqdirnya mati ya mati”. Ini adalah sikap yang tidak benar, karena berdiri di atas pemahaman Taqdir yang salah yang justru bertentangan dengan kadar-kadar taqdir yang telah Allah tetapkan melalui ilmu pengetahuan yang Dia ajarkan pada kita.


Depok, 24 Maret 2020.

Sehat dan Rezeki: ada parameternya

Kesehatan harus diusahakan, ada parameternya.
Rezeki juga harus diusahakan, dan ada juga parameternya.

Tidak tepat kalau disebutkan bahwa rezeki sudah ada alamatnya, karena itu akan membuat kita cenderung untuk diam.
Sepertihalnya kesehatan, kita tidak boleh diam dan terus berharap sehat. Kalau mau sehat ya harus olahraga. Itu harus. Kalau tanpa olahraga apa bisa sehat? Ya bisa, tapi itu hadiah, dan mungkin volumenya tidak sama.

Sahabat Nabi, Abdurrahman bin Auf adalah orang kaya. Apa beliau kaya karena “hadiah”? Tidak. Beliau kaya karena beliau memiliki parameter untuk bisa menjadi kaya. Jadi di mana pun beliau hidup, insya Allah akan tetap jadi kaya, karena itulah syarat-syarat taqdir yang telah Allah tetapkan.

Sekali lagi, kalau mau sehat ya harus olahraga. Itu harus. Kalau tanpa olahraga apa bisa sehat? Ya bisa, tapi itu hadiah, dan mungkin volumenya tidak sama.

Sahabat Abdurrahman bin Auf, apa pernah dapat “hadiah”? Pernah. misalnya ketika membeli kurma yang ternyata sudah busuk, dan tiba-tiba setelah itu ada orang yang datang mencari-cari kurma busuk, dan hanya mencari yang busuk saja, untuk satu keperluan tertentu, dan dia mau membayar mahal untuk kurma busuk tersebut. Ini namanya rezeki “hadiah”. Tapi kalau kisah ini saja yang sering kita ulang, maka itu sama saja dengan mengatakan pada orang lain “Tidak perlu olahraga, nanti juga sehat sendiri, toh kesehatan dan umur itu sudah ada yang ngatur”.

Dalam taqdir, ada konsep “parameter” dan ada konsep “hadiah”.
“Hadiah” itu ada, dan kita tidak boleh menolaknya, tapi kita juga tidak boleh mengandalkannya.
Yang harus kita gunakan sebagai landasan pola pikir kita adalah konsep “parameter”, baik untuk masalah kesehatan, rezeki ataupun masalah lainnya.

Mari kita penuhi parameter untuk menjadi kaya dan parameter untuk.menjadi sehat, dan jangan menolak kalau dapat “hadiah”, ini adalah pemahaman taqdir yang benar.

Hati seterang Matahari

Tadi malam, imam sholat Isya membaca surat Asy-Syams (Matahari).
Isinya, tentu saja tentang Matahari.

Ada saat di mana Matahari terlihat redup, yaitu di waktu Dhuha.
Ada saat di mana Matahari terlihat lebih terang, yaitu ketika bulan juga terlihat.
Ada saat di mana Matahari terlihat sangat terang, di siang hari.
Dan ada saat di mana Matahari sama sekali tidak terlihat, yaitu di waktu malam.

Selanjutnya, Imam membaca ayat “Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan hati-nya, dan merugilah orang yang mengotori hatinya”.

Ketika imam membaca ayat itu, secara refleks langsung bertanya pada diri sendiri,
“Seperti apa hati kita?”
Apakah gelap seperti langit malam tanpa Matahari?
Ataukah sedikit kotor karena ada yang menutupi, sepertihalnya Matahari di waktu pagi?
Ataukah sangat bersih seperti terangnya Matahari di siang hari?

Tanpa terasa, jadi ingat dengan dosa-dosa selama ini.

Harusnya hati kita, seterang Matahari.

Ingat, Asy-Syams artinya adalah Matahari.


Depok, 13 Januari 2020

Rahasia Panjang Umur

https://www.alodokter.com/rahasia-meraih-panjang-umur-ini-sungguh-mengejutkan
👆🏼
Umur kita sudah ditaqdirkan?
Benar, tapi banyak dari kita yang salah memahami.

Coba lihat artikel pada link di atas, itu adalah artikel tentang bagaimana caranya agar bisa panjang umur?
Lho? Katanya umur sudah ditaqdirkan?
Kalau kita bingung dan bertanya seperti ini, berarti kita termasuk orang yang salah dalam memahami Taqdir.

Taqdir itu bukan “si X nanti akan mati pada umur sekian”.

Taqdir itu artinya adalah “ukuran”, dan ilustrasinya adalah seperti di bawah ini:
– Kalau si X memilih paket sehat A, dia akan mati pada umur 40 tahun.
– Kalau si X memilih paket sehat B, dia akan mati pada umur 50 tahun.
– Kalau si X memilih paket sehat C, dia akan mati pada umur 60 tahun.
– Kalau si X memilih paket sehat D, dia akan mati pada umur 70 tahun.

Dst.

Dan di luar itu, ada juga paket Express, misalnya:
– kalau si X lompat dari atap gedung lantai 50, dia akan mati saat tubuhnya menyentuh tanah. 😊

Jadi, umur sudah ditentukan?
Ya, tapi maksudnya adalah paket-paketnya yang sudah ditentukan, dan kita hanya tinggal memilih dengan menggunakan logika yang benar.

Apakah Dia Sang Maha Pencipta saat ini sudah tahu kita akan milih paket mana dan kita akan mati pada umur berapa?
Ya, Dia sudah tahu, karena Dia memang Maha Tahu, dan itulah yang tertulis dalam suratan Taqdir kita.
Tapi inisiatif pilihan paket, adalah dari kita sendiri, dan kita harus bertanggung jawab atas pilihan kita itu.

Taqdir tidak memaksa kita untuk menjadi sesuatu. Kita-lah yang akan melakukan pilihan-pilihan dalam hidup kita berdasarkan inisiatif kita sendiri tanpa ada paksaan, dan itu sudah tertulis dalam suratan Taqdir kita. Sesungguhnya Allah Maha Tahu, dan hal seperti ini mudah bagi-Nya. Kita akan menjalani hidup kita sesuai garis yang sudah diketahui dan ditulis oleh-Nya, tapi itu adalah pilihan kita sendiri.

Jadi, mau umur panjang?
Sesuai artikel di atas, silakan lakukan hal berikut:
1. Bijak memilih makanan
2. Aktif bergerak
3. Tidur cukup dan berkualitas
4. Tidak merokok dan minum minuman beralkohol
5. Menghindari stres berlebihan

Semoga bermanfaat.

Khawarij vs Munafik

Khawarij adalah kelompok yang “keluar” dari ummat Islam, mereka menyendiri, membuat kelompok sendiri, dan aktif menyerang orang lain, bahkan pada sesama muslim. Kalau di zaman sekarang ini, mungkin kelompok yang menebar bom di Indonesia adalah kelompok yang pantas mendapat gelar Khawarij.

Sedangkan Munafik adalah kelompok yang bersembunyi di dalam barisan ummat Islam. Mereka mengakunya Islam, padahal bukan. Mereka mengakunya beriman, padahal tidak. Sebagian dari mereka menyembunyikan kemunafikan mereka di dalam hati, sebagian lagi menampakkannya dalam bentuk ucapan-ucapan yang mencela agama Islam, dan sebagian lain bahkan terang-terangan menyerang kelompok Islam, dan yang di saat yang bersamaan mereka sendiri tetap ingin disebut sebagai Muslim.

Apakah Khawarij salah?
Ya.

Apakah Munafik salah?
Jawabannya juga, ya.

Lalu manakah yang lebih baik dari dua kelompok ini?
Dua-duanya tidak baik, tapi Munafik jauh lebih buruk dari Khawarij.

Mengapa?
Karena Khalifah Ali ra, beliau menghukumi kaum Khawarij pada masanya sebagai “muslim yang berdosa”. Artinya, mereka berdosa besar, dan Insya Allah akan masuk neraka. Tapi karena mereka masih mau menerima Allah sebagai Tuhan mereka, dan Muhammad sebagai nabi mereka, maka mereka lulus batas minimal menjadi orang Islam. Jadi, setelah dosa-dosa mereka habis dibakar di neraka, mereka tetap punya kesempatan untuk bisa masuk Surga.

Sedangkan kaum Munafik, mereka dihukumi langsung oleh Al-Qur’an sebagai orang-orang yang akan kekal di neraka. Artinya, dosa mereka tidak akan pernah diampuni, karena mereka pada dasarnya memang tidak beriman kepada Allah dan kepada Nabi Muhammad saw.

Di zaman sekarang, apakah ada kelompok Khawarij?
Orang-orang yang melakukan pemboman di negara Indonesia yang aman ini, yang menolak pemerintah yang sah dan malah berniat untuk menggulingkan negara ini, dan mereka melakukan itu dengan menggunakan penafsiran agama (yang keliru) sebagai pembenarannya, mereka itulah yang sepertinya memiliki ciri-ciri Khawarij.

Adapun orang-orang Munafik, apakah mereka ada di zaman ini?
Ada. Mereka adalah orang-orang yang mengaku Islam, yang sebenarnya membenci agama Islam, dan selalu sibuk menjelek-jelekkan agama Islam, dan sekarang ini mereka sering mengangkat keburukan kaum Khawarij UNTUK MENJELEK-JELEKKAN ISLAM, mereka itulah yang sepertinya memiliki ciri-ciri kaum Munafik.

Kalau masih belum yakin, cobalah ajak mereka untuk sholat berjamaah di masjid.
Kalau mereka menolak, maka besar kemungkinan, mereka memang kelompok Munafik.

وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى

“Dan mereka tidaklah mengerjakan shalat melainkan dalam keadaan malas” (QS. At Taubah: 54).

إِنَّ أَثْقَلَ صَلاَةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلاَةُ الْعِشَاءِ وَصَلاَةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيُصَلِّىَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِى بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Shubuh. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada dalam kedua shalat tersebut tentu mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak. Sungguh aku bertekad untuk menyuruh orang melaksanakan shalat. Lalu shalat ditegakkan dan aku suruh ada yang mengimami orang-orang kala itu. Aku sendiri akan pergi bersama beberapa orang untuk membawa seikat kayu untuk membakar rumah orang yang tidak menghadiri shalat Jama’ah.” (HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651, dari Abu Hurairah).

Titik awal Munafik

Apakah ciri yang pertama sekali disampaikan oleh mushaf Al-Qur’an tentang orang Munafik?

Silakan buka Al-Qur’an dari halaman paling depan, di surat Al-Fatihah tidak ada, adanya di surat Al-Baqarah ayat awal, maka akan didapat bahwa ayat pertama tentang orang Munafik adalah ayat berikut:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ

Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqarah, 8)

Inilah ciri pertama yang disampaikan oleh Al-Qur’an tentang orang Munafik: Mereka ngakunya beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal tidak.

Maka tidak heran kalau berikutnya mereka tidak mau mengamalkan Al-Maidah 51. Bukan karena mereka tidak mau mengamalkan Al-Maidah 51 ini, tapi karena pada dasarnya mereka memang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Akibatnya, mereka berbuat semaunya.

Jangan heran pula kalau akhirnya mereka malas untuk diajak ke masjid. Karena untuk apa ke masjid kalau memang pada dasarnya mereka tidak percaya pada hari akhir?

Jangan heran pula kalau akhirnya mereka tidak amanah, banyak berbohong, tidak menjaga janji atau lainnya. Toh memang mereka tidak yakin bahwa hari akhirat itu ada.

Inilah titik awal munafik, tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.

Kalau mereka beriman, pasti mereka bersegera untuk mengamalkan ayat Al-Qur’an, termasuk di dalamnya adalah Al-Maidah 51 itu.

Kalau mereka beriman, pasti mereka bersegera pergi ke masjid saat adzan berkumandang.

Kalau mereka beriman, pasti mereka akan amanah dalam mengerjakan sesuatu, tidak akan berbohong, akan selalu menjaga janji.

Tapi masalahnya, mereka tidak beriman pada Allah dan hari akhir.

Lalu bagaimana dengan kita?
Mari kita introspeksi diri kita masing-masing.

Ahli Kitab yang baik

Sholat Jum’at hari ini Imam membaca potongan surat Ali Imran. Saat mendengar, saya merasa bahwa pesan dalam ayat ini adalah hal baru yang belum pernah saya dengar sebelumnya.

Ini ayatnya, beserta terjemahannya.

۞لَيۡسُواْ سَوَآءٗۗ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ أُمَّةٞ قَآئِمَةٞ يَتۡلُونَ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ءَانَآءَ ٱلَّيۡلِ وَهُمۡ يَسۡجُدُونَ

Mereka (Ahli Kitab) itu tidak (seluruhnya) sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (shalat).

يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang shalih.

(QS Ali Imran, 113 – 114)

Ternyata, dulu ada ahli kitab yang jujur dalam mengamalkan agamanya. Tapi bukan hal ini yang saya rasakan sebagai “hal baru”. Yang saya rasakan sebagai “hal baru” adalah lanjutannya. Ternyata Ahli Kitab yang baik juga rajin membaca kitab sucinya pada malam hari, dan rajin menjalankan sholat. Dan bukan hanya itu, mereka juga beriman kepada Allah, beriman kepada hari akhir, dan aktif melakukan amar ma’ruf nahi munkar dalam segala sisi kehidupan mereka, serta selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan.

Pada setiap zaman, pada setiap periode kenabian, orang-orang yang teguh menjalankan agama memang akan selalu ada.

Lalu, mari kita bandingkan dengan kondisi kita saat ini. Saat ini, kondisi ummat Islam benar-benar menyedihkan. Berapa banyak yang mengaku Islam tapi tidak meyakini adanya akhirat? Berapa banyak yang mengaku Islam tapi tidak meyakini bahwa kitab sucinya adalah wahyu dari Allah? Berapa banyak yang mengaku Islam tapi malas mengerjakan sholat? Berapa banyak yang mengaku Islam tapi ketika diajak untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar, jawabannya adalah “jangan bawa-bawa agama”? Berapa banyak yang mengaku Islam tapi malas kalau diajak untuk berbuat baik?

Pada setiap zaman, pada setiap periode kenabian, orang-orang yang teguh menjalankan agama memang akan selalu ada. Tapi itu artinya, orang-orang yang meninggalkan agama juga ada. Semoga saja kita tidak termasuk yang terakhir ini.

Kalau pada kaum ahli kitab dahulu saja ada orang yang bisa menjadi baik, mengapa kita tidak mau menjadi orang baik pada masa kita saat ini?

Imam membaca surat sampai di sini, lalu ruku’. Pikiran saya pun berhenti di sini.
Semoga saja sholat Jum’at kali ini ada berkahnya, aamiin.

Jakarta, 1 Nov 2019 (4 Rabiul Awwal 1441 H)

Minimalis vs Maksimalis

Minimalis dalam Ibadah? Selama tidak meninggalkan yang wajib, sah-sah saja.
Tapi memusuhi orang yang berusaha maksimalis dalam ibadah, ini dosa besar.

Tidak mau pake jilbab? Ini dosa pribadi.
Tapi memusuhi orang karena jilbabnya, ini dosa besar, karena memusuhi syariat.

Tidak mau sholat jamaah ke masjid? Ini masalah pribadi.
Tapi memusuhi orang yang sholat ke masjid, dan membuat image negatif tentang orang-orang yang sholat jamaah di masjid, ini dosa besar, karena ini merusak citra agama.

Tidak mau berislam secara detil? Ini pilihan masing-masing.
Tapi memusuhi orang-orang yang mau mengamalkan aturan-aturan agama secara detil, ini dosa besar, karena membuat orang makin jauh dari agama.

Berislam hanya cukup dengan sholat masing-masing saja, ibadah lainnya tidak dilakukan? Ini pilihan masing-masing.
Tapi memusuhi orang yang gemar menggalakkan sholat jamaah di masjid, dan Nabi pun dulu sholatnya di masjid, maka itu adalah dosa besar, karena memusuhi apa yang diajarkan oleh nabi.

Ingin jadi munafik dan tidak mau mengamalkan aturan-aturan agama? Silakan. Selama Anda diam, maka itu adalah dosa pribadi Anda.
Tapi begitu Anda nyinyir pada orang-orang yang sibuk mengamalkan agama Islam, maka itu artinya Anda memasang bendera perang pada ajaran-ajaran agama Islam.

Apakah orang munafik yang “kekal di neraka” itu adalah orang suka berbohong ketika bicara? Bukan.
Orang munafik yang divonis “kekal di neraka” itu adalah orang-orang yang nyinyir pada setiap pelaksanaan aturan agama, dan sibuk mengerahkan segala daya upaya untuk menjatuhkan agama Islam, meskipun dia sendiri ngakunya Islam.

Jadi, apa boleh jadi orang munafik? Atau jadi orang yang tidak mau mengamalkan ajaran agama? Atau jadi orang yang malas beribadah? Atau jadi orang yang minimalis dalam beribadah? Silakan, itu hak setiap orang untuk memilih, dan masing-masing ada konsekwensinya.
Tapi begitu Anda mulai melakukan aktivitas nyinyir pada setiap pelaksanaan ajaran agama, atau mulai membuat aktivitas-aktivitas yang berusaha menghalang-halangi orang dari jalan agama, maka itu artinya Anda mulai menempatkan diri Anda pada posisi “musuh agama”, dan ini fatal.

Jadi, apa boleh kita minimalis dalam ibadah? Silakan, itu pilihan masing-masing.
Tapi diamlah terhadap orang-orang yang berusaha untuk beribadah lebih dari kita.
Jangan sampai ibadah kita yang minimalis, akhirnya hangus hanya karena kita tidak memahami bahwa memusuhi pelaksanaan ajaran agama itu dosanya jauh lebih besar.

Note:
Ini bukan tentang khilafah atau radikalisme,
tapi tentang bagaimana cara beragama dengan benar.
Memangnya agama hanya membahas masalah Khilafah dan Radikalisme saja?

 

Belum bisa memaknai Ibadah Qurban?

Ketika Nabi Ibrahim bersedia mengorbankan segalanya utk agama, sekarang banyak yg hanya mau mengorbankan kambing saja.

Giliran disuruh ke masjid, berat.

Giliran disuruh menggunakan aturan Islam, menolak.

Semoga dari ibadah Qurban kemarin, ada pelajaran baru yang bisa kita terima. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri.

Aamiin.

🙏🏽🙏🏽🙏🏽